Frans Soebijakto pemilik galery Flodista di stand Dekranasda Kabupaten Bondowoso Jawa Timur. (SP/ARIF)

SURABAYA PAGI, Surabaya - Para pengrajin di Jawa Timur semakin berkembang pesat. Bukan tanpa sebab, kegigihan Dekranasda Jawa Timur untuk memberikan dukungan pada para pengrajin menjadi semangat baru. Banyak kerajinan di Jatim tumbuh pesat sejak kepemimpinan Nina Kirana Soekarwo.

Salah satunya Frans Soebijakto pemilik galery Flodista di Kabupaten Bondowoso Jawa Timur. Frans selama puluhan tahun menekui kerajinan ukir dari berbagai bahan kayu. Bisninya semakin pesat salah satunya dengan keikutsertaan yang diadakan Disperindag dan berafiliasi dengan Dekranasda.

Banyak seni desain baru yang ia pelajari di Dekranasda untuk mengembangkan bisnis ukirnya itu. Bahkan sesekali ia meladeni turis eropa yang sengaja datang khusus untuk memesan hasil kerajinannya.

"Dulu pernah dari Belanda khusus untuk memesan kerajinan itu hingga 500 picis," ujar Frans sambil menunjuk patung kuda dari bahan bambu petung, saat ditemui di Grand City kemarin.

Kerajinan Frans memang banyak yang unik jika melihat di stand Dekranasda Bondowoso Jatim. harganya pun berfariasi dari kisaran Rp.60 ribu hingga Rp.1,5 juta. Kerajinan bapak tiga anak inipun sudah sampai ke Provinsi tetangga Yogjakarta. Frans mengaku sudah bekerjasama dengan Mirota Batik Yogjakarta, sejak sembilan tahun yang lalu.

"Sebulan omzet saya berkisar Rp.20 juta." sambung Frans.

Perajin Kriya lainnya adalah Ismarofi dari Dekranasda Kabupaten Blitar. Pria berkacamata iniata, menekuni usaha kerajinan batok kelapa sejak 2006 dengan bermodal hutang Rp.2 juta. Kini dalam satu bulan bisnisnya telah merajai Kabupaten Blitar dengan angka penjualan 2000 unit.

"Hasilnya cukup lha mas untuk menggaji pengrajin," kata Rofi, sapaannya dengan nada merendah.

Rofi yang kini mempunyai 40 Pengrajin merasa terbantu dengan sejumlah pameran yang digelar Dekranasda. Pameran seperti ini lanjut dia bisa menarik buyer dari dalam negeri bahkan mancanegara. Sehingga hasil kerajinannya tidak hanya merajai kampung halamannya saja.

Baik Frans maupun Rofi merupakan bukti jika di Jawa Timur memiliki berbagai pengrajin yang menghasilkan produk unik berpotensi untuk dikembangkan ke internasional. Hal inilah yang membuat Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim menggelar pameran yang mengenalkan produk kerajinan khas Jatim.

"Semua orang yang punya uang, pasti suka dan mencari produk-produk yang unik. Nah, di sini ada banyak produk unik," kata Gubernur Jatim, Soekarwo, pada pembukaan pameran di Grand City Mall, Kamis (15/3).

Pameran yang digelar guna memperingati HUT ke 38 Dekranasda ini dibuka Gubernur Jatim, Soekarwo. Pakde Karwo pun menyempatkan diri berkeliling dan menilik kerajinan khas Jatim, ditemani Ketua Dekranasda Jatim Nina Soekarwo.

Saat keliling, setiap stan Pakde Karwo selalu mendoakan produk unggulan khas tiap daerah di Jatim ini laris. "Semoga ris laris-laris manis ya buk," ujar pakde sembari menepuk-nepuk salah satu kerajinan.

Sementara produk kerajinan yang dipamerkan ada beragam. Mulai dari kain batik khas tiap daerah, perhiasan etnik, tas, dompet, hingga sepatu. Ada pula beberapa daerah yang memamerkan kesenian daerahnya. Seperti reog, topeng barongan, sampai gendang.

Pameran yang diikuti 38 kota dan kabupaten se-Jawa Timur ini dibuka mulai 15-18 Maret 2018. Selain ada beberapa produk unggulan tiap daerah, ada pula beberapa perlombaan seperti lomba fashion show.

Pakde Karwo pun berharap, pameran ini bisa memperkenalkan potensi kerajinan tiap daerah. Tak hanya itu, dia memiliki target jika penjualan di pameran ini harus naik dari tahun-tahun sebelumnya. arf