Catatan Politik oleh H. Tatang Istiawan, Wartawan Surabaya Pagi

Pak Prabowo,

“....Di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030, Bung! Mereka ramalkan kita ini bubar," ini cuplikan pidato Anda dengan nada berapi-api.

Cuplikan Pidato ini Anda sampaikan di  depan kader Gerindra dalam acara Konferensi Nasional dan Temu Kader Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Rabu (18/10/2017).

Dan pidato Anda yang menyinggung soal bubarnya Indonesia pada 2030 menuai kontroversi.  Apalagi setelah diunggah oleh Partai Gerindra di Facebook pada Minggu (18/3).

Ternyata, pernyataan Anda yang menyebut Indonesia akan bubar pada 2030, pada Oktober 2017 lalu bukan kali pertama. Pada 18 September 2017, Prabowo Anda juga menyinggung hal sama  saat  menjadi pembicara di Universitas Indonesia. Dua materi itu Anda nyatakan merujuk dari sebuah novel fiksi ilmiah berjudul 'Ghost Fleet'. Padahal dalam novel ini, tema penulisannya bukan tentang bubarnya Indonesia, tetapi perang dunia maya dan luar angkasa antara Amerika Serikat Vs China dan Rusia.

 

Pak Prabowo,

Saya tahu Anda dalam pemerintahan Jokowi ini oposisi. Dalam posisi sebagai oposan, pemerintahan Presiden Jokowi, pertanyaan yang perlu saya tanyakan kepada Anda, banggakah ada tulisan dari orang asing yang merendahkan kedaulatan Indonesia digambarkan telah bubar, pada tahun 2030, Anda denggung-denggungkan ke publik.

Katakan untuk peringatan. Pertanyaannya, relevankah tulisan imajinasi dari Singer dan Cole, dikomunikasikan kepada seluruh rakyat Indonesia yang mayoritas kelas menengah ke bawah? Sementara buku fiksi ini diterbitkan dari Amerika Serikat tahun 2015.

Dalam buku ini, tidak dijelaskan kapan perang dunia maya dan luar angkasa antara Amerika Serikat vs China terjadi? Buku itu hanya mengkisahkan ada perjalanan laut melewati sekitar 600 mil jalur antara bekas Negara Indonesia dan Malaysia, atau kurang dari 2 mil lebarnya pada jarak tersempit.

Buku ini menyertakan sebuah peta yang hampir memisahkan masyarakat otoriter Malaysia dari kekacauan. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI, ditulis lenyap setelah Perang Timor kedua. Pertanyaan perang Timor kedua dimana, kapan dan apa penyebabnya tidak ditulis oleh Singer dan Cole. Keduanya menulis NKRI dalam bukunya dengan tulisan disebut sebagai ‘bekas Negara Indonesia’.

 ‘bekas Negara Indonesia’.

 

Pak Prabowo,

Berdasarkan fakta dalam tulisan buku fiksi dan isi pidato Anda yang berapi-api dan diviralkan, menurut saya Anda membuat intepretasi sendiri. Intepretasi bernuansa politik dari pada ilmiah. Apalagi dalam geragaman Indonesia yang multicultural, intepretasi semacam ini bisa diusik carapandangnya. Apakah dengan sudutpandang Anda sebagai negarawan atau sekedar masih seorang politisi yang menjadi oposan pemerintahan yang pernah mengalahkan Anda dalam Pilpres 2014 lalu?

Maklum, 0posisi di Indonesia, selama ini (sejak pemerintahan SBY, PDIP mengambil sikap opisisi. Padahal dalam demokrasi Pancasila, menurut hukum tata Negara, tidak ada istilah oposisi).

Saat PDIP menjadi oposisi pemerintahan SBY, sola[ oposisinya dimaknai dengan sikap suka mengkritik, menentang, dan melawan kebijakan pemerintah SBY, dalam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, khususnya daerah di luar Jawa, Madura, dan Bali. Kenaikan untuk BBM jenis Premium dan Solar ini berkisar Rp 500 per liter, sehingga harga Premium baru sebesar Rp 7.300 per liter dan Solar baru Rp 6.900 per liter.( Maret 2013).

Anda sendiri, pernah mengkritik Presiden Jokowi terkait presidential threshold sebesar 20 persen. Kritikan Anda kepada pemerintahan Jokowi, tentang ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) lelucon untuk membodohi rakyat.

Nah, sipak oposisi Anda semacam ini bisa dibaca bersinonim dengan antagonisme, dan antitesis yaitu bermakna ‘bertentangan’. Jadi, bisa jadi sebagai oposan, Anda  juga melakukan koalisi dengan sesama oposan yaitu PKS dan PAN. Selain belakangan ini dengan ormas Islam bergaris keras.

Bahkan Aburizal Bakrie, ketua umum Partai Golongan Karya yang pernah berkoalisi dengan Anda pada Pilpres 2014, kini menarik diri dari koalisi oposan yang Anda koordinasikan. Izal menegaskan, Partai Golkar tidak akan menjadi partai oposisi, karena menurutnya dalam demokrasi Pancasila tidak ada partai oposisi. Dan benar, dua kadernya yaitu Ketua Umum Erlangga hartarto dan Mantan Sekjen Partai Golkar, Idris Marham, menduduki jabatan menteri di cabinet pemerintahan Jokowi.

 

Pak Prabowo,

Menggunakan pola pikir Demokrasi Pancasila, meski oposisi tidak diakui, tetapi bisa dipraktikan menjadi pasangan rezim Jokowi. Analoginya, seperti ada siang dan malam. Terutama mengkritik bila ada kebijakan dari pemerintahan Jokowi yang keliru dari komitmen mensejahterakan rakyat seperti amanat pada alinea ke 4 pembukaan UUD 1945.

Pertanyaannya, relevansi tulisan imajinatif dari orang Amerika Serikat yang tidak pernah melakukan penelitian di Asean, terutama kekuatan militer, mengapa Anda tanggapi serius dan menjadi perbincangan publik dari tingkat penguasa, akademisi sampai wartawan? Apa kepentingan Anda yang kini berstatus warga Negara biasa yang dipimpin oleh Presiden Jokowi? Katakan Anda oposan pemerintahan Jokowi?, kompetensi apa Anda menyinggung soal kalimat ‘’Bekas Negara Indonesia”. Inikah sikap seorang kenegarawanan Anda? atau Anda masih bersikap sebagai politisi yang beroposisi terhadap pemerintahan Jokowi? Nah, menurut saya, dari sini,  Anda sepertinya tidak jernih dalam membedakan domain antara pemerintahan dan Negara.

Dalam urusan Negara dan pemerintahan, saya pernah membaca adegium populer dalam bahasa Inggris, ‘The state-man (great leader) think the next generation, the politician leader think the next election’. Dalam adegium ini terdapat pemahaman akan perbedaan Negara dan pemerintahan. Negarawan,  dinyatakan memikirkan masa depan bangsa dan negara, sedangkan politisi hanya memikirkan masa depan Pemilu dan Pilpres.

Nah, termonologi Inggris ini membuka wawasan saya bahwa  politisi itu berbeda dengan negarawan. Politisi acapkali menjadi kontestan yang perlu mempersiapkan dana yang tidak sedikit (puluhan hingga ratusan miliar untuk maju pilpres). Saat ini merupakan tahun politik menjelang pilpres 2019. Pertanyaan saya, apakah cawe-cawe Anda dalam mengintepretasikan buku fiksi ini bagian dari komunikasi politik Anda? Walahualam.

Publik sampai rakyat terbawah sekalipun, hasil serapan saya sebagai jurnalis yang suka blusukan ke kampung dan desa-desa, tahu bahwa politisi atau elite politik yang akan men capreskan dalam Pilpres langsung,  juga harus mempersiapkan Timses atau tim sukses. Terutama untuk memuluskan langkah si capres.

Langkah-langkah timses terutama melakukan bargaining dengan pimpinan Parpol lain. Ini semua hukumnya wajib dan harus disiapkan yaitu diatasi dengan fulus dan kelihaian. Praktik tawar-menawar semcam itu, acapkali  tidak perduli dengan nasib yang sedang menghadang rakyat banyak yaitu kemiskinan, kesengsaraan, kebodohan, hidup tanpa harapan, dan tanpa kepastian hukum. Apakah Anda memunculkan pernyataan ‘’bekas Negara Indonesia” yang ditulis orang asing, bisa digambarkan, nasib orang kecil semacam itu tidak penting atau tidak Anda empati?

Apalagi dalam beberapa survei tentang pemberantasan KKN, masyarakat kelas menengah umumnya  menilai bahwa sampai reformasi berusia hampir 20 tahun, partai politik manapun termasuk yang pernah menjadi penguasa (Demokrat dan PDIP) masih tidak memiliki peran dalam menciptakan pemerintahan bersih, memperbaiki ekonomi rakyat serta memberantas korupsi.

Saya mencatat, mayoritas politikus dan partai hanya menjadi agen dari negara yang menggunakan sumber-sumber daya negara untuk kepentingan dan eksistensi partai serta dirinya sendiri. Ini yang dilakukan beberapa partai saat ini seperti PKS, Partai Demokrat, Partai Golkar dan beberapa partai lainnya. Buktinya, sejumlah tokoh Parpol (Presiden PKS  PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum) sudah ditangkap oleh KPK dan dijebloskan ke ruang tahanan khusus koruptor.

Temuan politisi bahkan elite parpol korupsi, bisa dianggap  resiko dari sistem politik yang saat ini digunakan yaitu politik bumi hangus. Artinya, apa yang tertinggal harus dilenyapkan. Bagi sejumlah elite politisi yang penting siapkan diri untuk Pemilu atau next election. Tekadnya, harus terpilih kembali. Tentu bagaimanapun caranya dan berapapun biaya politik yang harus dikeluarkan. Inilah obsesi para politisi masa kini. Dan Anda dalam pilpres 2014 dikalahkan Jokowi. Dalam pilpres 2019 mendatang, Anda akan maju lagi sebagai capres menantang Jokowi. Pertanyaannya, mempidatokan dan kemudian memviral tulisan novel fiksi semacam ini, apakah bagian dari tekad harus terpilih menjadi presiden menggeser Jokowi, yang kini sedang memerintah?

 

Pak Prabowo,

Beda dengan elite politik yang berpikir negarawan. Politisi yang memiliki sikap dan pikiran kenegarawan, selalu mementingkan nasib bangsa di masa depan. Bagaimana rakya Indonesia kelak? Artinya,  meski kelak (tahun 2030) Anda, katakan saat berpidato menganggap diri Anda menganggap seorang negarawan bukan seorang politisi, memprediksi merasa tidak turut menikmati hasilnya ‘’Negara Indonesia bubar ‘’(usia Anda saat ini 67 tahun dan tahun 2030 nanti sudah 79 tahun).

 Itu artinya sebagai negarawan Anda mencoba  jauh berpikir ke depan demi kesejahteran dan kemajuan bangsa dan Negara. Artinya tidak hanya untuk kepentingan 5 tahun kedepan atau sekedar memenangi Pemilu saja.

Seorang negawaran, secara teoritis memberikan jiwa raganya untuk Negara, sehingga dapat menjadi Pahlawan bagi bangsa dan Negara NKRI. Sedangkan politisi mencari sesuatu untuk jiwa raganya dari Negara. Soal perbedaan negarawan dan politisi ini beda-beda tipis yaitu tergantung kejujuran dan sikap moral politisi itu sendiri.

Apakah Anda, sekarang ini berpikir dan bertindak sebagai negarawan atau politisi yang berpidato seolah-olah negarawan?  Menyimak viral pidato Anda, jujur, saya sendiri tidak mampu mengklasifikasikan sikap Anda dalam mengusik tulisan ‘’belas Negara Indonesia’’. Apakah pidato Anda termasuk seorang oposan berpikir negarawan yang masih mecintai bangsa Indonesia atau oposan yang masih bermental politisi, yang sedang membangun pencitraan menghadapi pilpres 2019, untuk men-downgrade Jokowi. Walaualam.

Dalam catatan sejarah, negarawan Indonesia, tidak ada yang kaya. Misalnya Soekarno dan M Hatta. Proklamator ini sampai kini dikenal sebagai pendiri bangsa yang merelakan jiwa raganya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia, hidupnya biasa saja. Juga Presiden Gus Dur. Presiden  lainnya dari Soeharto, semuanya memiliki harta berlimpah untuk anak-anaknya. Salah satu yang disoroti publik adalah mantan Presiden Soeharto. Anda pernah menjadi menantunya, meski kini sudah cerai dengan anak keempat penguasa Orde Baru Soeharto, Titik Suharto alias Siti Hediati Hariyadi. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)