HARI ini, 22 Oktober 2018 tengah diselenggarakan Peringatan Hari Santri Nasional III yang rujukan tanggalnya berseliwer dengan fatwa utama Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Kobaran revolusioner digemakan dan peristiwa 10 November 1945 pecah di Surabaya, tempat di mana Resolusi Jihad dikumandangkan dengan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan, kecintaan kepada negara yang baru saja diproklamasikan 17 Agustus 1945, serta ladang peneguhan Agama Islam. Seruan Jihad fi Sabilillah dengan putusan penting dalam Resolusi Jihad yang “memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam”.

Inilah lembar naskah yang harus dimaknai betapa hubungan yang sedemikian lebar menopangkan NKRI dan Agama Islam yang diserukan oleh para ulama NU sebagaimana dimuat dalam dokumen Resolusi Jihad. Untuk konten dan konteks ini biarlah menjadi arena pengkajian serta pengembangan tafsir kesejarahan oleh para ahlinya. Teks yang menempatkan NKRI dan Agama Islam dalam “sekuntum barisan” menunjukkan bahwa Resolusi Jihad dikonstruksi para ulama dalam semboyan iman untuk mempertahankan NKRI secawan ladang pengembangan Islam sebagai agama yang memberikan semangat jihad atasnya. Jihad yang tertuang dalam Resolusi Jihad pastilah manifestasi kehendak para tokoh yang mampu mengkristalisasi heroisme rakyat untuk menjiwaragakan semangat keagamaan menjadi energi kekuatan yang dahsyat guna tegaknya negara. Sampai pada takaran 22 Oktober 1945 telah jelas narasinya bahwa spirit keagamaan menjadi landasan maknawi yang bermuatan tauhid untuk berjihad bagi kepentingan negara dengan orientasi tematiknya “menyawahladangkan” Islam. Kini jiwa-jiwa Resolusi Jihad itu telah sumrambah dalam negara yang para penyelenggaranya kemudian menetapkan tanggal 22 Oktober 1945 itu menjadi basis material untuk mewujudkan kemauan umat dalam gelanggang sebuah hari yang dinamakan Hari Santri Nasional.

Santri merupakan terminologi permafhuman kepada kaum sarungan yang berpendidikan (ngaji) di pesantren selaku generasi muslim. Karakteristik santri pun silahkan dipelajari dengan tetap berpaling pada simbol realistiknya yang pada umumnya bersarung berkopiah. Benus terindahnya tentu saja bisa mengaji dengan sempurna dibandingkan dengan pemeluk Islam yang awam, mengingat basis kronologis santri adalah pesantren. Sosok bersarung berkopiah ini amatlah spesial sehingga perlu dibaca lebih cermat karena pada saat ini negara dibuat “menjembarkan” dirinya. Negara digiring oleh pemerintahnya untuk berucap terima kasih kepada santri (agak terbalik) sambil menuangkan kewenangan mengakui bahwa santri pasti “penganut ulama”. Maka sudah selayaknya ulama ini diberi karpet merah untuk menunjukkan jatidirinya dalam kancah kebangsaan dan kenegaraan. Boleh jadi calon apapun.

Hari santri adalah penegasan arti perjuangan santri dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Mempertahankan kemerdekaan serta apa yang dilakukan HOC Cokroaminoto sejak dari “dasar hidupnya” berjuang untuk negara dengan kesadaran mengembangkan agamanya, itulah santri. Soal kopiah adalah penanda dari penggunanya dan setiap orang sejatinya ingin menunjukkan dirinya memiliki sandi-sandi luaran yang mudah dikenali oleh siapapun jua. Bahkan kopiah itu selaksa ciri yang sudah sangat atributif bagi santri yang kemudian mewarnai perjalanan bangsa ini dengan munculnya uniform nasional kopiah. Pemimpin nasional sekelas Presiden RI mempunyai gaya spesifik melalui tampilan ke khalayak dengan berkopiah yang awal mulanya menandakan keaslian kebangsaannya serta keislamannya.

Jadi kopiah secara sosiologis menjadi lambang identitas diri yang dinegarakan penggunaanya mulai diri Presiden sampai pembopong jabatan negara, apapun agamanya. Lihatlah para pejabat, betapa beragamnya agama mereka sewaktu dilantik. Kopiah kian kukuh bertengger sebagai kelengkapan busana resmi nasional. Pada tingkatan ini isi kepala yang berkpoiah secara teologis menjadi sangat berbeda-beda dan ini menyeret identitas bersama di “pengadaan barang”. Dari namanya saja sudah kelihatan nonmuslim tetapi tetap dia nyaman berkopiah dengan dicetak gambarnya besar-besar ditempelkan dekat dengan tempat uang yang mudah diaksee oleh mata khalayak. Alasan utamanya tentu kopiah itu bukan soal Islam melainkan soal kelengkapan berpakaian “mengawal yang hendak menjabat”. Bahkan kaum kriminal yang diadili di pengadilan-pengadilan setarikan nafasnya yang kemudian diwajibkan berkopiah. Dalam ruang demikian kopiah para koruptor tampak berisi otak kriminal yang sedang diadili, meski tak ada bukti. Sungguh suatu penampilan yang membuat perih dalam hati yang bercengkerama dengan “muslim tidak bersih” karena memang kaum kriminal yang diadili itu adalah terdakwa yang melakaukan kejahatan mulai dari yang ringan ngutil sampai mbuntil.

Ketahuilah bahwa kopiah menjad trademark kepala negara sejak dari episode perjuangan revolusionernya. Dan setiap pemimpin memang memiliki ciri khas diri yang bersifat ideologis maupun sosiologis nan genetis. Simaklah dengan cermat para tokoh dunia. Abraham Lincoln punya jenggot yang spesifik sebagaimana Ayatullah Imam Khomaini. Gamal Abdul Nasser populer dengan hidung mancungnya. Wiston Churcill bergaya lewat rokok cerutunya, nyaris sekepulan dengan kretek sosok tua kita Agus Salim. Mohandas Kharamchad Ghandi terkenal dengan mesin pintalnya, Joseph Stalin terbidik hebat dalam bettle of Leningrad yang sangat legendaris itu. Yaser Arafat memancarkan pesona perjuangan PLO lewat kafiyeh (jangan-jangan ini asal katanya kopiah, kopiyah). Semoga masih punya memori tentang Moamar Khadafi yang setiap melakukan muhibah, kafilah-nya senantiasa membawa tenda besar. Adapun Soekarno alias Bung Karno, nampang trendi dengan kopiah hitamnya yang di Paris menimbulkan sapaan “uuh … monsieur” Soekarno dan di Kairo, Mesir meninggalkan sebutan “Ahh … Ahmad Soekarno.

Pada hari santri ini terbidik kopiah memenuhi pelosok negeri yang seakan terteguhkan sebagai negeri kaum santri, negerinya para pengguna kopiah. Kopiah ini pun dalam kerangka jabatan negara akan berisikan ragam kebijakan pejabatnya. Bagi mereka yang berkopiah, setiap langkahnya ada di kopiahnya, bukan di sakunya. Sewaktu Gus Dur menjadi Presiden RI tentu nama-nama menteri saya anggitkan ada di cela-cela kopiah: bukan di saku presiden, tapi di kopiah presiden. Saya punya kenangan sewaktu kecil bersama para kolega, setiap berangkat ngaji apabila diberi uang saku yang ditaruh di cela-cela kopiah. Ini membuktikan bahwa kopiah itu multifungsi di samping sebagai atribut yang disematkan di kepala, pun penujuk identitas muslim seseorang sebelum akhirnya “petunjuk kebangsaan”, tetapi juga wadah tabungan dengan menyematkan uang di cela-cela kopiah. Saat ini, saat para caleg berpromosi diri, tidak semua orang berkopiah itu santri meski santri sering berkopiah. Banyak pula santri tanpa kopiah sementara yang nonmuslim asyik berkopiah walaupun bukan pejabat, tetapi memang sedang menjajakan dirinya untuk dipilih sebagai anggota dewan. Caleg berkopiah.

Ada juga. Kaum koruptor yang ketangkap KPK sewaktu dipertontonkan ke ruang publik sering menggunakan kopiah. Para komprador, eksploitator, dan koruptor yang disemai sejak adanya kolonialisme 1511 terus silih berganti disambut sepenuh hati yang tidak sungkan berkopiah. Tapi ingatlah bahwa penggerak nasionalisme sesosok HOS Cokroaminoto selalu berkopiah, bahkan berjubah seperti Pangeran Diponegoro sewaktu memanggul senjata mengobarkan Perang Jawa, 1825-1830. Tumbangnya Turki Ustmaniyah, 1924 dibarengi saat kesadaran kebangsaan di nusantara merangkak meneriakkan Sumpah Pemuda, 1928, kopiah sudah hadir menjadi identitas pergerakan. Penjajahan yang dilakukan Belanda tampak kian menjadi tetapi “kuku-kukunya” terkelupas akibat geliat pekik Allahuakbar para santri yang bersahutan dengan gelora Merdeka di sini, di tanah air yang tengah mengalami pengaplingan. Spanyol dan Portugis secara “imanen” mengiris-ngiris “peta bumi” ini seperti kue yang tengah dihidangkan. Tertegunnya adalah, rakyat negeri ini masih bisa berkelakar dalam derita sambil mengibas-ngibaskan kopiahnya. Luar biasa. Kopiah boleh hitam tetapi isinya sangat beragam, bahkan soal iman yang berbeda. Inilah wujud sejatinya nasionalisme kopiah dalam riak kebangsaan yang menggelombangkan “siapapun boleh berucap saya santri NKRI”.

Selamat hari santri dan sambil menyongsong peringatannya kemarin hari, saya membuka kembali sambil berkopiah kitab kuning Risalah al-Amin fi al-Wushul li Rabb al-Alamin karya Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili (591-656 H) maupun Kitab Adz-Dzahab Al-Ibriz fi Khawash Kitabillihi Al-Aziz DARI Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H). Santrikah saya? (*)


Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)