SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Agus Suprijono mengatakan selama ini penerapan pelajaran IPS ada kesalahpahaman di lapangan. Perubahan Kurikulum 2013 (K-13) rupanya masih membuat bingung para guru. Seperti guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Jawa Timur yang masih kesulitan dalam penguasaan materi dan menentukan model pembelajaran.
"Sampai sekarang ini di lapangan boleh dibilang guru di tingkat SMP khususnya guru IPS tidak ada kesesuaian. Karena berasal berbagai disiplin ilmu pelajaran sosial. Ini muncul sejak KTSP tahun 2006 lalu," ungkapnya usai seminar untuk guru IPS di FISH Unesa (08/10).
Menurut Agus, guru IPS mengalami kebingungan karena pelajaran IPS diintegrasikan dengan semua pelajaran sosial. Padahal guru belum tentu menguasai di luar disiplin ilmu sosialnya. Hal inilah yang membuat guru IPS harus belajar secara terus menerus.
"Mau tidak mau mereka saling silang dan harus mempelajari konsep dasar disiplin ilmu yang lain, misalkan dasar gurunya Geografi ya dia harus belajar Sosiologi dan Sejarah juga," terangnya.
Beberapa program pemerintah juga sering mengarah pada pelatihan guru IPS. Sayangnya pelatihan itu biasanya tidak dilakukan merata dan tidak berimbas pada guru lain. Hal ini diungkapkan Ketua Forum Komunikasi Guru (FKG) IPS Jatim, Dyah Ayunda.
Dikatakannya, di tingkat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang menjadi wadah guru pelajaran juga belum mampu memberikan fasilitas pengembangan ilmu guru secara merata.
“Makanya kami membentuk FKG sebagai wadah guru untuk mempercepat komunikasi. Jadi kalau ada yang habis pelatihan bisa langsung berkomunikasi,” ujarnya.
Organisasi independen ini, lanjutnya telah terbentuk secara nasional. Di Jawa Timur, terdapat 16 pengurus yang ada di Kabupaten dan kota yang baru dikukuhkan di gedung Srikandi Unesa Ketintang. Pengukuhan tersebut untuk membangun konektivitas guru-guru SMP/MTS baik negeri maupun swasta.
"Kami punya target semua di wilayah Jatim terbentuk. Namun, perlu adanya sosialisasi secara bertahap," pungkasnya. yn
Editor : Redaksi