SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pemilu biasanya identik dengan konflik sosial. Segala macam isu yang terkait dengan Pemilu, selalu lekat dengan konflik yang dapat memecah belah elemen masyarakat.
Sebagai contoh, Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu. Konflik yang terjadi di akar rumput para pendukung Pasangan Calon begitu melekat, sampai-sampai konflik tersebut mengakar jauh pada kehidupan sehari-hari.
Dalam rangka menyambut Pilgub Jatim 2018, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Agus Dono Wibawanto berpesan bahwa agar seluruh pihak menyadari bahwa Pemilu hanyalah proses politik semata. Menurutnya, tidak sewajarnya proses politik sampai menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat.
"Ini kan sudah biasa, setiap 5 tahun sekali pasti ada. Jadi semua pihak sewajarnya menyikapi ini dengan bijak dan menahan diri untuk tidak terhasut," kata Agus Dono ketika ditemui Surabaya Pagi.
Seluruh unsur elemen masyarakat, menurut Agus Dono memiliki beban kewajiban yang sama. "Bukan hanya Pemerintah atau Pemuka Agama saja. Tapi masyarakat itu sendiri juga harus bijak dan berkepala dingin. Tidak boleh ada satu pihak pun yang boleh memperkeruh suasana," jelasnya.
Di level legislative, menurut Agus Dono pun kondisi yang ada sudah sangat selaras. Seluruh fraksi dari partai politik yang ada semuanya bersatu padu dan selaras.
"Meskipun, di atas kertas ada berbagai macam fraksi, tapi pada prakteknya kami semua ini berada di satu fraksi. Yaitu Fraksi Indrapura atau Fraksi Jawa Timur. Ya kami harap, spirit tersebut juga mampu mengakar hingga akar rumput," tegas Agus Dono.
Secara terpisah, pengamat politik asal Universitas Yudharta Edy Marzuki juga memiliki pendapat yang sedikit berbeda. Menurutnya, kultur masyarakat Jawa Timur saat ini masih tunduk dan patuh dengan pemuka agama mereka masing-masing.
“Terlebih lagi dalam agama Islam, Kyai lokal harus menjadi penjaga gawang kondusifitas. Karena para Kyai ini petuahnya masih sangat menjadi perhatian,” kata Edy.
Edy lebih lanjut menjelaskan bahwa Kyai lokal yang ia maksud adalah para Kyai atau pemuka agama yang ada di sekitar tempat tinggal masyarakat. “Juga guru-guru ngaji. Intinya ya mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat lah,” tambahnya. ifw
Editor : Redaksi