Beton Masa Depan

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com - Besi dan beton sejak lama menjadi tulang punggung peradaban manusia. Kini ilmuwan di Universitas Teknik Dresden menemukan solusi konstruksi yang lebih baik, yakni dengan mencampurkan beton dan tekstil. Beton membentuk wajah dunia modern. Rangka baja memberi stabilitas yang dibutuhkan beton. Tapi beton bertulang berat dan mahal serta mudah berkarat. Inilah alternatif revolusioner: serat karbon yang menjadikan beton lebih ringan, lebih kuat dan lebih fleksibel. Prof. Manfred Curbach dari Universitas Teknik Dresden, memimpin riset para insinyur untuk mengganti beton baja dengan apa yang disebut beton tekstil. Hasilnya, kemajuan luar biasa dalam performanya. "Beton tekstil terbuat dari beton normal dan sebagai penguat digunakan karbon. Bedanya dengan beton baja, tidak ada baja yang bisa berkarat melainkan karbon yang tidak terancam korosi." Serat di ekstrak dari karbon. Diameternya hanya 5 mikrometer, 10 kali lebih tipis dari rambut manusia. Serat lalu diproses pada lebih dari 230 kumparan pada alat tenun raksasa. "Serat karbon sangat lunak. Tidak bisa dimasukkan dalam beton begitu saja. Karena itu harus diolah pada mesin tekstil dan diberi lapisan sehingga menjadi kaku. Arah kekuatan serat juga bisa disesuaikan agar bisa bekerja secara optimal di dalam beton." Sekitar 50.000 serat dipintal menjadi benang dan diproses pada alat tenun otomatis supaya menghasilkan anyaman serat karbon. Inilah yang kemudian menjadi tulangan tekstil pada bagian dalam beton. Agar lebih kuat lagi, anyaman serat diberi pelapis yang tujuannya memberi stabilitas. Setelah diproses selama 15 menit, anyaman mengeras dan bisa dipotong. Pengetahuan penting tentang beton tekstil yang kelak bisa dimanfaatkan oleh arsitek dan insinyur sipil, hanya bisa diperoleh dengan bantuan crash test di laboratorium. Beton tekstil memungkinkan para insinyur dan desainer untuk mengekspresikan diri dalam bentuk baru. Boleh jadi di masa depan mahakarya arsitektur akan terbuat dari beton tekstil yang tipis dan sangat kokoh. st

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru