Golkar Condong Usung Khofifah-Harsono

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Berbeda dengan Partai Demokrat yang mengusulkan Emil Dardak Bupati Trenggalek, DPP Partai Golkar lebih condong mengajukan nama Harsono, mantan Bupati Ngawi untuk menjadi pasangan Khofifah Indar Parawansa. Golkar masih menggodok nama pejabat yang sekarang masih menjabat sebagai Kepala Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD dr Soetomo Surabaya. Keseriusan itu disampaikan Nusron Wahid, Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar wilayah Jawa saat menghadiri acara Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi bersama Gubernur Jatim Soekarwo, kemarin (25/10). "Nama Pak Harsono menjadi satu di antara beberapa nama yang sedang digodok untuk menjadi wakil Bu Khofifah," ujar Nusron Wahid kepada wartawan di Surabaya, Rabu (25/10/2017). Harsono, kata Nusron punya prestasi bagus dan menguasai wilayah Mataraman. Karena pernah menjabat Bupati Ngawi dua periode (1999-2010), kemudian Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Direktur Utama RSUD dr Seotomo. Namun, Golkar sendiri belum yakin nama Harsono akan disetujui oleh tim 9 yang bertugas mencari cawagub Khofifah. Golkar juga mengajukan nama lain seperti Bupati Gresik Sambari Halim Radianto yang juga kader internal, Bupati Bojonegoro Sunyoto, Bupati Trenggalek Emil Dardak hingga Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Golkar, kata dia, sudah memastikan mengusung Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa pada Pilkada yang berlangsung 27 Juni 2018. "Tunggu saja karena sekarang sedang dibahas oleh partai koalisi dan kiai-kiai," ucap mantan anggota DPR RI tersebut. Kepala BNP2TKI itu mengharapkan nama pendamping Khofifah di Pilkada Jatim mendatang adalah figur yang mampu membantu mendongkrak perolehan suara dan bisa berkompetisi dengan pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas yang sudah diusung PKB-PDI Perjuangan. "Kalau bahasa jawanya, calon wakil Bu Khofifah harus yang 'nendang' sehingga bisa maju dan menang," kata politikus berusia 44 tahun tersebut. Kendati demikian, Nusron berharap Pilkada di Jatim yang tahapannya sudah dimulai dari sekarang ini mampu berjalan aman, nyaman serta damai dengan tidak menyebarkan kampanye hitam bernada SARA yang bisa memecah-belah masyarakat. "Suasana harus kondusif dan jangan sampai seperti Pilkada DKI Jakarta. Sesungguhnya, Pilkada itu kalah dan menang biasa karena dalam proses pemilihan. Apalagi di Jatim nanti siapapun yang menang adalah teman saya, Gus Ipul teman, Khofifah juga teman. Tidak usah dibuat ribut Pilkada Jatim ini," pungkasnya. rko

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru