Target Penurunan Kemiskinan Periode Pakde Karwo

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pemprov Jawa Timur menargetkan terus menggenjot penurunan kemiskinan sampai tahun 2019 mencapai 10 % atau dibawah rata-rata nasional bisa satu digit. Target ini menyusul habisnya kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Soekarwo pada 12 Pebruari 2019. "Selama kepemimpinan Pakde Karwo dan Gus Ipul posisi kemiskinan Jatim 2008 sebesar 18,51% sampai dengan Maret 2017 turun menjadi 11, 77% atau turun sebesar 6,74 %. Sebuah penurunan angka kemiskinan yang fantastis tidak ada dibanding dengan Provinsi lain," ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Budi Setiawan kemarin. Merujuk data Badan Pusat Statistik pertumbuhan ekonomi Jawa Timur selalu di atas rata-rata nasional. Pada semester I/2017, misalnya, tercatat sebesar 5,21 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,01 persen. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang ter-update setiap enam bulan sekali, dalam tiga tahun terakhir (2015-2017) atau setelah Pakde Karwo-Gus Ipul kembali terpilih, kemiskinan di Jatim memang masih terjadi di pedesaan. Pada September 2015, Jatim menempati kemiskinan perdesaan di atas Jawa Tengah dan Jawa Barat. Setahun berikutnya, sama: Jatim istiqomah tertinggi dalam kemiskinan perdesaan. Pun demikian di 2017, Jatim tak beranjak dari posisi tertinggi dalam kemiskinan di perdesaan. Gubernur Soekarwo, dalam rapat kerja dengan kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pekan lalu, bahkan menegaskan pengentasan kemiskinan masih menjadi prioritas Pemprov Jatim di 2018. Beberapa cara akan dilakukan, di antaranya dengan meningkatkan pendapatan masyarakat miskin lewat penanggulangan feminisasi kemiskinan. Kemudian mengurangi pengeluaran masyarakat miskin melalui bantuan pangan beras dari Dinas Sosial, serta melakukan sinergitas program penanggulangan kemiskinan antara pusat dan daerah. “Semua program penanggulangan kemiskinan dibiayai oleh anggaran APBD Provinsi Jatim dan share APBN,” ujarnya. Per September 2016, angka kemiskinan di Jatim masih di level 11,85 persen atau lebih tinggi 1,15 persen dari rata-rata nasional. Namun jika dibandingkan dengan 2010 mengalami penurunan 4,83 persen dari posisi 16,68 persen. Budi Setiawan menambahkan, problem utama kemiskinan di Jatim masih terkait dengan kemiskinan kultural. Hal ini sangat dipengaruhi derajat kesehatan dan pendidikan, terutama di daerah Madura dan sejumlah wilayah di Tapal Kuda, di antaranya Probolinggo, Situbondo dan Bondowoso. "Tinggal daerah ini yang memang miskin, kita akan konsen semakin konsen untuk menurunkan kemiskinan disini," sambungnya. Meski demikian, Budi menegaskan terkait data kemiskinan itu tinggal bagaimana cara memersepsikan data kemiskinan tersebut . Kemiskinan Jatim Maret 2017 sebesar 11, 77 % , Jateng 13, 01�n DIY 13, 01%. "Memang di jumlah kemiskinan Jatim di pedesaan lebih tinggi dibanding jabar dan Jateng namun untuk di perkotaan Jatim lebih kecil atau unggul data Maret 2017 jumlah penduduk miskin di perkotaan Jatim 1,574 juta, Jabar 2,588 juta dan Jateng 1,889 juta," bebernya. "Tapi ingat untuk prestasi Jatim di kemiskinan telah berkontribusi terhadap menurunkan 1/3 jumlah kemiskinan di Indonesia. Tidak ada provinsi yang menyumbang penurunan kemiskinan sebesar Jatim," pungkasnya. arf

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru