SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ketua DPD Partai Hanura Kelana Aprilianto mengatakan bahwa hasil penyaringan 4 besar tersebut tidak akan mempengaruhi sikap Partai Hanura. Partai besutan Oesman Sapta Odang tersebut tetap berkomitmen akan mendukung Khofifah.
"Mau kader Hanura atau bukan yang dipilih jadi Cawagub, kita akan tetap all out 100 persen mendukung Khofifah. Kenapa demikian? Karena kami sangat yakin Khofifah akan menang. Keyakinan tersebut berdasarkan hasil dua edisi Pilgub sebelumnya dan survei internal yang kami lakukan," tegas Mas Kelana, sapaan akrab Kelana Aprilianto, pada Surabaya Pagi.
Di sisi lain, Mas Kelana juga mengatakan bahwa partainya menolak dengan tegas praktik politik transaksional dibalik pemilihan Cawagub bagi Khofifah nantinya. Terlebih lagi, apabila transaksi yang terjadi melibatkan uang yang bermain.
"Di pertemuan dengan bakal partai koalisi pengusung nantinya, saya akan menyuarakan dengan keras agar hal tersebut tidak terjadi. Pemilihan Cawagub harus murni didasarkan pada prestasi dan rekam jejak kinerja dari tokoh tersebut. Murni harus itu," kata Kelana.
Dimintai pendapatnya, pengamat politik asal Universitas Yudharta Pasuruan Edy Marzuki mengatakan bahwa sangat mungkin dan lazim terjadi di semua koalisi yang ada. Bentuk transaksi politik yang terjadi akan selalu berbeda-beda.
"Tapi, yang terjadi pada Khofifah dan timnya saat ini bukan terkait transaksi materi atau uang. Karena kalau soal uang, bagi politisi nasional sekelas Khofifah, akan hanya butuh beberapa jam saja untuk menyelesaikan hal tersebut," ujar Edy.
Yang sangat mungkin, menurutnya adalah transaksi yang bersifat politis dan struktural. "Apa misalnya? Yang struktural ini misalnya adalah posisi Wagub, Sekda, Kepala Dinas, Direktur, atau Komisaris BUMD," tegas Edy.
Lebih lanjut, Edy menjelaskan bahwa transaksi struktural sangat berbahaya. Sebab, sektor-sektor tersebut bersinggungan langsung dengan kebijakan publik.
"Karena, secara otomatis yang terpilih itu tidak dipilih berdasarkan prestasi. Sekarang bayangkan saja, kalau Kepala Dinas diplot oleh partai A, berarti kan nantinya proyek-proyek akan dimiliki partai A. Bahaya sekali. Ngeri itu," tegas Edy. ifw
Editor : Redaksi