Prediksi Pakar Politik jika Pilgub Jatim 2018 Hany

KHOFIFAH-EMIL BISA MENANG

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Munculnya duet Khofifah Indar Parawansa (Mensos RI) - Emil Elistianto Dardak (Bupati Trenggalek) menantang Saifullah Yusuf (Wagub Jatim) - Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), diprediksi Pilgub Jatim 2018 akan berlangsung ‘panas’. Tak hanya dipicu pertarungan sesama tokoh NU. Tapi keputusan Emil Dardak yang bersedia menjadi pendamping Khofifah, bisa menjadi pertarungan tersendiri antara PDIP dan Partai Demokrat. Ini lantaran suami artis Arumi Bachsin itu disebut-sebut sudah ber-KTA partai pimpinan Megawati Soekarnoputri. Karena itu pula, wilayah Mataraman dan Tapal Kuda akan menjadi arena ‘perang’ yang sangat seru. Siapa yang bakal menang? Sejumlah pakar politik di Jawa Timur menjagokan duet Khofifah-Emil. ------------- Laporan : Ibnu F Wibowo – Riko Abdiono, Editor : Ali Mahfud ------------- Rabu (22/11/2017) kemarin, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak, mendapatkan rekomendasi dukungan dari Partai Golkar, untuk maju sebagai pasangan Cagub dan Cawagub pada Pilgub Jatim yang digelar Juni 2018. Bertempat di kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, SK ini diberikan langsung oleh Sekjen DPP Golkar, Idrus Marham. Ini berarti sudah dua parpol yang resmi mendukung. Sehari sebelumnya, Partai Demokrat sudah menyerahkan SK dukungan ke Khofifah dan Emil. Dengan demikian, duet ini sudah cukup dukungan untuk mendaftar di KPU sebagai pasangan Cagub dan Cawagub pada Pilgub Jatim 2018. Demokrat memiliki 13 kursi di DPRD Jatim, sedang Golkar 11 kursi. Sementara syarat dukungan minimal 20 kursi. Dukungan pasangan ini akan semakin kuat, lantaran Partai Nasdem, Hanura dan PPP juga siap merapat. Di lain pihak, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) - Azwar Anas yang diusung PDIP dan PKB sudah mulai memanaskan mesin politiknya. Seperti dilakukan Azwar Anas yang sudah keliling wilayah Mataraman dan Madura. Bahkan, pasangan ini sudah menggelar pertemuan dengan pengurus PDIP Surabaya. Dilanjut Minggu (26/11) lusa, Anas dikabarkan akan mengumpulkan 1.600 keluarga besar pengurus PDIP Se-Kabupaten Malang di hotel daerah Sengkaling, Malang. Acara itu sekaligus rapat koordinasi pemenangan Gus Ipul-Anas. Melihat fakta politik di Jawa Timur seperti itu, sejumlah pakar dan peneliti politik mulai utak atik pertarungan antara Gus Ipul-Anas melawan Khofifah Emil. Direktur Lembaga Survey Proximity, Whima Edy, misalnya. Ia berpendapat di atas kertas, duet Khofifah- Emil Dardak bisa melebihi duet Gus Ipul dan Azwar Anas. Hal tersebut, salah satunya dikarenakan Emil Dardak yang merupakan tokoh asal Mataraman. "Selama ini kan Mataraman seakan-akan berada di status quo. Belum ada yang ngopeni. Dengan bergabungnya Emil Dardak di kubu Khofifah, tentunya ini menjadi satu kesatuan yang dapat menjadi modal kuat," jelas Whima kepada Surabaya Pagi, Rabu (22/11) kemarin. Di sisi lain, sosok Gus Ipul sebagai Cagub juga menurut Whima seharusnya masih tertinggal dari sisi elektabilitas, apabila dibandingkan dengan Khofifah. "Itu karena salah satunya berdasarkan rekam jejak. Kalau Khofifah kan jelas sebagai Menteri Sosial. Sementara Gus Ipul ini kan selama ini ada dibayang-bayang Pakde Karwo dan menjadi kurang terlihat.," tambahnya. Selain itu, Whima juga memandang saat ini mesin partai dari PDIP juga wajib bekerja secara maksimal. Pasalnya, di atas kertas, wilayah Mataraman merupakan wilayah dengan Kepala Daerah yang mayoritasnya adalah kader PDIP. "Kalau PDIP bisa mengkoordinir kepala daerah di sana, maka Mataraman akan jadi arena perang yang sangat seru. Kenapa? Jangan lupa Emil ini menang dengan 75 persen suara di Trenggalek meskipun dia tokoh baru. Kalau PDIP tidak bisa mengkoordinir kepala daerah di sana, maka Mataraman akan jadi makanan empuk bagi Khofifah dan Emil," tegas Whima. Hal sama diungkapkan pengamat politik dari Unair, Airlangga Pribadi. Menurutnya, Khofifah -Emil Dardak yang resmi diusung Partai Demokrat dan Golkar dinilai sebagai pasangan yang saling melengkapi. "Keduanya memiliki kecerdasan yang mumpuni. Keduanya saling melengkapi," ujarnya. Menurutnya, Emil akan melengkapi kekuatan dari Khofifah. Profil Emil sebagai tokoh politisi milenial, berwawasan kosmopolit. Selain itu, Khofifah dan Emil memiliki kepemimpinan yang bersih sejalan dengan harapan pemilih Jatim. "Ini yang diharapkan masyarakat Jatim," katanya. Bahkan, untuk generasi milenial yang berjumlah sekitar 49�ri pemilih, pasangan ini dianggap ideal untuk memimpin Jatim. Airlangga pribadi menilai pertarungan akan menjadi pertarungan politik yang seru. "Emil juga diuntungkan dengan posisi sebagai tokoh Mataraman dan memiliki latar belakang nasionalis," tandasnya. Energi Besar Pengamat politik asal lembaga survei regional (LeSuRe) Mufti Mubarok, juga punya analisis menarik. Jika dilihat hasil survei, Emil memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas setara dengan Azwar Anas. "Azwar Anas diusung PDIP kuat di basis Tapal Kuda, sedangkan Emil Dardak mencerminkan Mataraman dengan basis utama Partai Demokrat," ucapnya. Menurutnya, , kedekatan Emil dengan SBY orang asli Pacitan dan Pakde Karwo yang asli Madiun akan menjadi energi besar bagi pasangan tersebut. Ditambah Khofifah asal Surabaya dan memiliki basis di Tapal Kuda sehingga perlu penyeimbangan. "Pertarungan Head to Head antara Gus Ipul-Anas dan Khofifah-Emil Dardak adalah sepadan. Kalaupun menang maka akan tipis sekali," katanya. Namun ia melihat ada peluang kandidat lain dari "poros tengah" yang masih terbuka, karena PAN, Gerindra, PKS, termasuk PPP belum menentukan pasangannya secara resmi untuk Pilgub 27 Juni 2018. Joru vs BangJo Analisis pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Wahyudi, juga tak jauh beda. Ia memaparkan hadirnya pasangan Khofifah-Emil Dardak memunculkan koalisi baru, Ijo-Biru (JoRu). Tentunya, duet ini menjadi kekuatan yang harus diwaspadai oleh koalisi Abang-Ijo (BangJo) yang lebih dahulu memunculkan pasangan Saifullah Yusuf-Abdulah Azwar Anas. Dia menyebutkan, Jawa Timur merupakan wilayah yang menjadi basis warga Nahdlatul Ulama (NU). Tentunya, basis suara warga nahdliyin ini akan menjadi perebutan kedua pasangan. Apalagi, Khofifah maupun Gus Ipul- merupakan kader yang lahir dari NU. Karena itu, pertarungan Pilgub Jatim ini akan sangat berimbang. Dalam situasi semacam ini, tentunya massa mengambang akan sangat penting artinya bagi masing-masing pasangan agar bisa memenangkan Pilgub Jatim. "Nantinya, arah pilihan para kiai atau tokoh agama menjadi penentu arah masyarakat yang masih belum punya pilihan politik. Sebab sebagian besar masyarakat Jatim masih menganut sistem budaya paternalistik," papar dia. Wilayah Mataraman dan Tapal Kuda, menurut Wahyudi, akan menjadi daerah yang paling keras dalam upaya pendulangan suara. Emil Dardak yang populer di wilayah Mataraman dan diusung PDIP saat menjadi Bupati Trenggalek, berpotensi kuat memecah suara massa banteng moncong putih. Kekuatan Emil Dardak di Mataraman akan semakin besar apabila basis massa Partai Demokrat yang pada Pemilu 2014 mampu mengantarkan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) duduk di Senayan (DPR RI), mampu terkonsolidasikan dengan baik. "Jika ikatan emosional politik itu bisa dibangkitkan lagi, akan sangat menguntungkan Emil Dardak," ujarnya. Di wilayah Tapal Kuda, Abdullah Azwar Anas memang memiliki popularitas yang mungkin sulit ditandingi Emil Dardak. Kelemahan Emil di wilayah Tapal Kuda akan bisa ditutup dengan elektabilitas dan popularitas Khofifah di wilayah timur Jawa Timur ini. "Saya memperkirakan, Khofifah masih bisa merebut hati masyarakat Tapal Kuda. Bahkan, di kalangan kelompok menengah atas atau elite cendekiawan, Khofifah juga dinilai memiliki keunggulan kapabilitas dan kepemimpinan." Sementara, Abdulah Azwar Anas yang populer di kalangan anak-anak muda wilayah timur Jawa Timur diprediksi sulit meningkatkan elektabilitas di wilayah barat Jawa Timur dalam waktu singkat. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru