Gus Ipul, Khofifah dan La Nyalla, Bakal Bersaing M

TIGA CAGUB MAJU!

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Hingga Kamis (23/11/2017) malam sudah mulai ada kepastian bahwa Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018, bakal menampilkan tiga bakal calon Gubernur (bacagub). Kabar yang diterima Surabaya Pagi, hampir tengah malam tadi, nama Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jatim La Nyalla Matalitti, positif diusung Partai Gerindra. La Nyalla, yang bakal mantu tanggal 2 Desember 2017 mendatang, digandengkan dengan mantan Bupati Lamongan Masfuk, yang adalah kader PAN. Padahal sejak Kamis pagi, suara yang mencuat ada nama Bambang Haryo Soekartono. Tapi sejak Kamis sore, beredar kabar dari Jakarta, bahwa Ketua Umum Prabowo, lebih kesengsem dengan mantan Ketua umum PSSI. Dengan demikian, telah ada tiga cagub yang bakal bersaing pada tahun 2018 yaitu Gus Ipul, Khofifah dan La Nyalla. Laporan : Riko Abdiono – Firman Rachman, Editor: Ali Mahfud Peluang terbentuknya Poros Emas di Pilgub Jatim 2018 disinyalir masih cukup besar. Bahkan, meskipun Emil Dardak telah diusung menjadi bakal calon wakil gubernur (bacawagub) pendamping Khofifah Indar Parawansa sekalipun, koalisi yang digagas oleh tiga partai ini masih berpotensi untuk terus eksis. Indikator ini didasarkan pada masih banyaknya figur dari ketiga partai (Gerindra, PAN, dan PKS) yang bisa dijagokan menempati posisi Gubernur maupun Wakil Gubernur, di luar nama Emil yang sering disebut akan diusung Poros Emas. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Lembaga Riset IT Research Politic Consultant (iPOL) Indonesia, nama anggota DPR RI, Bambang Haryo secara mengejutkan melejit dalam bursa cawagub Jatim yang layak diusung oleh ketiga partai ini. Di dalam simulasi, nama pria yang juga pengusaha galangan kapal Surabaya ini telah menyalip beberapa nama lain. Hal ini didasarkan pada Popularitas, Tone, Sentimen, dan Influence yang dilakukan oleh IPOL Media Monitoring selama 3 bulan terakhir. Hasilnya, komposisi Cagub – Cawagub Alternatif di luar poros Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa mengerucut pada 3 pasangan calon. Ketiga alternatif pasangan tersebut terdiri dari komposisi figur dari ketiga parpol. Dari Gerindra ada nama Soepriyatno (Ketua DPD Gerindra Jatim dan Anggota DPR RI), Anwar Sadad (Sekretaris DPD Gerindra Jatim dan anggota DPRD Jatim), hingga Bambang Haryo (Anggota DPR RI). Sedang dari PAN ada nama Masfuk (Ketua DPW PAN Jatim dan mantan Bupati Lamongan), Suyoto (Pengurus DPP PAN dan Bupati Bojonegoro), dan Anang Hermansyah (Anggota DPR RI). "Hasilnya Bambang Harjo-Masfuk 42 persen, La Nyalla-Suyoto 39 persen, Anwar Sadad-Anang Hermansyah 30 persen. Tren pemberitaan masing-masing personal terus menguat," jelas CEO IPOL Indonesia Petrus Hariyanto, kemarin (23/11). PDIP Pecat Emil Keputusan Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak menjadi Calon Wakil Gubernur (Cawagub) pendamping Khofifah Indar Parawansa (Mensos RI), membuat suhu politik di Jawa Timur memanas. Tak hanya karena makin dekatnya Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018. Tapi, keputusan kontroversial Emil Dardak itu memicu rivalitas dua mantan Presiden, yakni Megawati Seokarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kembali memanas. Pasalnya, Emil Dardak yang diklaim ber-KTA (Kartu Tanda Anggota) PDIP justru merapat ke Khofifah, yang diusung Partai Demokrat pimpinan SBY. Sementara hingga kini, hubungan SBY dan Megawati yang juga Ketum PDIP ini belum juga cair, sejak keduanya bertarung di Pilpres 2009. Bahkan, PDIP tampaknya mulai Baper alias bawa perasaan. Selain memecat Emil dari keanggotaan partai, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto juga menuding duet Khofifah-Emil Dardak itu sebagai manuver SBY. Padahal, suami artis Arumi Bachsin itu diklaim sebagai kader potensial PDIP. Kata Hasto, Emil Dardak yang tergiur jalan kekuasaan dan loncat pagar meninggalkan harapan masyarakat Trenggalek. Hal ini terjadi setelah SBY selaku Ketum Partai Demokrat menjalankan strategi outsourcing, mungkin karena krisis kader muda di Demokrat. “SBY memang ahli dalam ‎ strategi, dan menggaet Emil Dardak adalah pilihan jalan pintas untuk merekrut menjadi calon pemenang di Jawa Timur,” ungkap Hasto dalam keterangan tertulisnya, kemarin. Sebelumnya, PDIP telah merekomendasikan kadernya Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) sebagai Cawagub untuk mendampingi Saifullah Yusuf atau Gus Ipul (Wagub Jatim) di Pilgub Jatim 2018. Namun, belakangan diketahui Partai Demokrat dan Partai Golkar mengusung Emil Dardak menjadi Cawagub Khofifah. Karena itu, PDIP mengambil sikap tegas terhadap Emil Dardak. Menurut Hasto, PDIP telah resmi memecat Emil Dardak dari anggota partai. “Emil Dardak telah membuat pilihan berkaitan Pilkada Jawa Timur. Sebagai partai politik berdasarkan usulan bidang kehormatan DPP PDI Perjuangan, kami memberikan sanksi pemecatan dia (Emil) seketika,” ujar Hasto Kristiyanto saat berada di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (23/11). Hasto menegaskan keputusan PDIP itu dijatuhkan setelah Golkar dan Demokrat mendeklarasikan pasangan Khofifah dan Emil Dardak. “Ini merupakan tindakan disiplin. Setiap partai akan melakukan hal sama. Karena partai ini dibangun bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan kepentingan kolektif bagi rakyat. Jadi bukan kolektif bagi dirinya sendiri,” tambahnya. Menurutnya, Ketua Dewan Kehormatan PDIP, Komarudin Watubun, yang mengusulkan kepada Megawati Soekarnoputri agar partai mengambil tindakan tegas. “Pak Komarudin selaku Ketua DPP bidang kehormatan mengusulkan kepada Ibu Ketua Umum sesuai peraturan partai. Ketika seseorang maju dengan partai lain dengan ambisi pribadi dan juga karena mungkin sebuah mimpi untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih tinggi, maka partai mengambil sikap tegas dan memberikan sanksi pemecatan,” papar Hasto. Pertimbangan lain partai mengambil tindakan, karena Emil Dardak belum menyampaikan surat pengunduran diri ketika maju lewat partai lain. “Yang bersangkutan (Emil) juga kami lihat belum mengajukan surat pengunduran diri,” sambungnya. Sikap Emil Sementara itu, Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak menjelaskan ihwal keputusannya mendampingi Khofifah Indar Parawansa dalam Pilgub Jatim 2018. Emil mengatakan, sejak ia terpilih menjadi Bupati Trenggalek, ia kerap menjaga komunikasi dengan partai pengusungnya. Hal ini dilakukannya untuk menjaga etika dan menghormati kebijakan tujuh partai pengusung. “Saya langsung menghubungi pengurus tujuh partai pendukung saya di Pilkada Trenggalek untuk menjelaskan situasinya,” ujar Emil Dardak, Kamis (23/11/2017). Emil mengaku rekomendasi awal yang datang dari Partai Demokrat beberapa hari lalu, di luar dugaannya. Begitupun dengan rekomendasi Partai Golkar. Atas pilihannya ini, Emil mengaku siap bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. “Peristiwa yang terjadi dua hari terakhir di luar dugaan. Saya benar-benar tidak mengetahui amanah itu ada pada saya. Dan saya siap bertanggung Jawab atas apa yang sudah terjadi sejauh ini,” ucapnya. Emil menjelaskan, amanah sebagai bakal calon wakil gubernur Jawa Timur terjadi secara tidak terencana. Bermula dari makan siang di sela kegiatan perjalanan dinas, salah satu partai pengusung menyampaikan amanah kepada Khofifah dan Emil Dardak untuk maju dalam Pilgub Jatim 2018. “Tentunya tujuh partai pengusung memiliki reaksi yang berbeda. Kita hormati posisi masing masing beliau. Pada prinsipnya sama-sama menghormati langkah yang diambil dari masing-masing pihak,” ucapnya. Meski demikian, Emil Dardak akan tetap berkonsentrasi terhadap pembangunan di Trenggalek, karena Pilgub masih cukup lama. Pemanasan Pilpres Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Hariyadi, menegaskan dirinya kurang sepakat jika rivalitas Gus Ipul-Anas dan Khofifah-Emil hanya diibaratkan dengan rivalitas antara dua mantan presiden RI, yaitu Megawati dan SBY. Menurutnya, Emil yang melompat ke Partai Demokrat pasti membuat elemen PDIP makin berang. Apalagi Partai Demokrat dan SBY bukan pendukung pemerintahan Jokowi-JK. "So, dalam persepsi PDI Perjuangan niscaya ini tak sekadar perkara Emil yang tak punya kesabaran revolusioner dalam politik, tapi terkait dengan strategi SBY memanfatkan peluang di Jatim untuk Pemilu 2019 nanti," tandas Hariyadi dihubungi Surabaya Pagi, Kamis (23/11) kemarin. Ia mengakui Pilgub Jatim sangat menentukan buat Pilpres 2019 mendatang karena suara Jatim nomor dua terbesar di Indonesia. "Bisa jadi Pilgub Jatim itu jadi pemanasan Pilpres mendatang. Siapa yang akan memenangkan Pilpres bisa dilihat dari peta politik petarungan Pilgub Jatim," cetus dosen Fisip ini. Terkait pemecatan Emil Dardak dari keanggotaan PDIP, menurutnya, sebagai langkah tegas partai berlambang banteng tersebut. "Setahu saya, PDI Perjuangan adalah partai yang tegas menjaga martabat partainya. Dalam istilah PDI Perjuangan selalu ditekankan pentingnya kader/petugas partai bersikap tegak lurus terhadap keputusan partai. Jadi, dalam kasus Emil Dardak, ia dianggap tidak tegak lurus dengan keputusan partainya yang telah menetapkan Gus Ipul-Anas sebagai Cagub Jatim," ujarnya. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru