SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Menjelang masa pendaftaran paslon Cagub-Cawagub Jatim 2018, arah angin politik di Provinsi besutan Pakde Karwo tersebut masih belum begitu jelas. Hal itu dikarenakan, hingga saat ini 3 Gerindra-PAN-PKS masih belum juga mengambil sikap yang jelas.
Dikonfirmasi, Bendahara DPW PAN Jawa Timur Agus Maimun mengatakan bahwa opsi pembentukan poros tengah masih sangat terbuka. Meskipun, Emil Dardak yang pernah menjadi kandidat kuat Cagub dari poros tersebut saat ini bisa dibilang telah resmi menjadi Cawagub bagi Khofifah.
"Kami masih menimbang satu opsi yang tersisa. Kami juga sedang bertanya pada masyarakat Jatim lewat survei, bagaimana kami menyikapi terhadap dua poros yang ada ini. Karena, tentu dengan 2 poros akan lebih ketat persaingan yang ada," ujar Agus Maimun.
Disinggung terkait informasi bahwa PAN justru cenderung bakal melompat ke gerbong koalisi Khofifah, Ketua Fraksi PAN DPRD Jatim tersebut belum berani menjawab secara lugas. "Masih dikomunikasikan dengan DPP," tegasnya.
Secara terpisah, pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W. Oetomo memiliki pendapat bahwa saat ini kedua poros yang ada memiliki kondisi yang seimbang. Sehingga, partai-partai yang sebelumnya gencar disebut bakal membangun poros tengah menjadi kunci kemenangan.
"Poros yang ada sekarang, masing-masing memiliki. Paslon yang kompetitif. Keduanya sama-sama punya kemampuan yang saling menutupi. Dukungan partai juga seimbang. Pada akhirnya situasi ini membuat posisi poros tengah Gerindra-PAN-PKS menjadi sangat menentukan," jelas Mochtar.
Pria yang juga Direktur Surabaya Survey Centre(SSC) menggarisbawahi bahwa sikap politik Gerindra kelak lah yang bakal menjadi penentu kunci kemenangan. "Sebab, Gerindra yang punya basis suara Prabowo tidak bisa diremehkan. Sikap Gerindra akan menentukan pemenang. Jangan lupakan perolehan 47 persen suara Prabowo di Jatim," pungkasnya.
Senada, pakar komunikasi politik asal Unitomo Redi Panuju memandang bahwa Pilgub Jatim 2018 memiliki potensi golput hingga 30 persen. Potensi tersebut, salah satunya muncul akibat dari kejenuhan masyarakat terhadap pola politik yang dicampur dengan identitas kultural seperti yang dilakukan oleh para Kyai akhir-akhir ini.
"Solusi untuk menghindari potensi golput itu adalah dengan segera mewujudkan poros tengah. Poros tersebut harus lebih menonjolkan isu profesionalitas, rasionalitas, objektivitas, dan kapabilitas," jelas Redi, secara terpisah.
Apabila berhasil diwujudkan, maka Redi menjamin bahwa poros tengah bakal membuat 2 poros yang sudah ada menjadi jauh tertinggal. "Karena, kalau bicara NU saja, sudah banyak orang NU yang juga kritis dan nggak mau lagi masuk dalam simbol-simbol legitimasi tradisional. Gerindra-PAN-PKS harus segera mewujudkan poros tengah itu," tegasnya. ifw
Editor : Redaksi