SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pencalonan Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan cawagub Emil Dardak akan dikawal langsung Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur. Keseriusan Soekarwo memenangkan Calon yang diusung Partai Demokrat ini disampaikannya kepada seluruh kader di Surabaya dan Jawa Timur.
Laporan: Riko Abdiono – Ibnu F Wibowo, Editor: Ali Mahfud
Pakde Karwo dengan lantang meminta agar seluruh pengurus bekerja keras memenangkan Demokrat pada pilkada 2018 dan Pileg 2019, dan tetap pada tujuan utama partai yaitu sebagai partai yang ideologinya nasionalis religius. "Sebagai Partai tengah yang selalu bertekat mempertahankan NKRI, Pancasila dan UUD 45 dengan dasar ketuhanan yang kuat. Demokrat adalah penyelamat NKRI, ini harga mati," tegas Pakde Karwo, saat melantik pengurus DPC Partai Demokrat Surabaya periode 2017-2022 di Gedung Juang 45, Selasa (28/11).
Terkait Pilkada Gubernur Jatim Pakde Karwo yang juga Gubernur Jatim ini, mengingatkan bahwa DPP sudah memutuskan untuk mengusung Khofifah Indra Parawansa dan Emil Dardak sebagai Cagub dan Cawagub. Seluruh kader harus tegak lurus, tunduk dan patuh menjalankan keputusan DPP ini. "Untuk pemenangan Pilgub, DPP sudah putuskan itu, maka sudah tidak ada kader Partai yang sub ordinasi. Saya akan kontrol pelaksanaan ini. Partai menjadi basis kerja untuk menangkan Bu Khofifah dan Emil," kata Pakde menginstruksikan.
Sedang terkait Pemilu Legislatif, Pakde Karwo menegaskan Demokrat optimis bisa meraih suara di parlemen 23% di DPRD Jatim. Meskipun target dari DPP adalah 18%. "Untuk Pileg estimasi saya optimis di 22 atau 23%. Untuk Pilpres menunggu keputusan dari DPP, tapi Demokrat punya banyak kader yang siap jadi presiden," tandasnya.
Nasib Poros Emas
Sementara itu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan melakukan kunjungan ke Jawa Timur, 3 Desember 2017. Banyak pihak yang berspekulasi kedatangan Prabowo untuk mengambil keputusan sikap Gerindra, apakah mengusung sendiri pasangan Cagub-Cawagub sendiri bersama PAN dan PKS ataukah merapat ke pasangan yang ada (Gus Ipul-Azwar Anas dan Khofifah-Emil Dardak).
Dikonfirmasi mengenai hal itu, Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad mengatakan kunjungan Prabowo hanyalah konsolidasi terkait persiapan Pilkada Serentak 2018. Acara serupa juga telah dilakukan di beberapa provinsi lain seperti Jabar dan Jateng. "Apakah akan ada keputusan final? Belum tentu. Karena di beberapa daerah lain hanya mendengar paparan dari para Bacagub saja. Itupun yang mengundang mereka(Bacagub) langsung dari DPP semua. Jadi pada intinya hanyalah konsolidasi kesiapan partai saja," ujar Sadad, Rabu (29/11) kemarin.
Terkait dengan lamanya penentuan sikap Gerindra, Sadad mengaku hal tersebut tidak menjadi kekhawatiran. "Memang banyak yang mengutarakan seperti itu, tapi kan yang paling tahu apa yang terbaik bagi Partai Gerindra adalah pengurus Partai Gerindra sendiri," ungkapnya.
Mengenai kelanjutan Poros Emas yang digagas Gerindra-PAN-PKS, Sadad mengatakan belum ada pembicaraan lebih lanjut. "Karena saya sudah 4 hari ini di dapil untuk reses," cetus anggota DPRD Jatim ini.
Terpisah, Bendahara DPW PAN Jatim Agus Maimun juga mengatakan hal serupa. Pembicaraan soal Poros Emas di level DPP hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya. "Karena dulu ini kan terbentuknya poros emas karena sama-sama tertarik untuk mengajukan Emil Dardak. Tapi, pasca Emil menjatuhkan pilihan untuk mendampingi Khofifah belum ada komunikasi lebih lanjut antar partai," ujar Agus Maimun.
Meskipun demikian, Agus Maimun menegaskan bahwa harapan untuk munculnya poros emas pada Pilgub Jatim 2018 masih tetap terbuka. "Karena di level DPW sudah pernah ada komunikasi terkait kelanjutan poros tersebut. Hanya saja sekarang tinggal menunggu siapa figurnya. Ini yang sedang kita kaji," jelasnya.
Jadi Kunci
Dimintai pendapatnya, pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W. Oetomo memiliki pendapat saat ini kedua poros yang ada memiliki kondisi yang seimbang. Sehingga, partai-partai yang sebelumnya gencar disebut bakal membangun poros tengah menjadi kunci kemenangan. "Poros yang ada sekarang, masing-masing memiliki. Paslon yang kompetitif. Keduanya sama-sama punya kemampuan yang saling menutupi. Dukungan partai juga seimbang. Pada akhirnya situasi ini membuat posisi poros tengah Gerindra-PAN-PKS menjadi sangat menentukan," jelas Mochtar.
Pria yang juga Direktur Surabaya Survey Centre(SSC) menggarisbawahi bahwa sikap politik Gerindra kelak lah yang bakal menjadi penentu kunci kemenangan. "Sebab, Gerindra yang punya basis suara Prabowo tidak bisa diremehkan. Sikap Gerindra akan menentukan pemenang. Jangan lupakan perolehan 47 persen suara Prabowo di Jatim," pungkasnya.
Potensi Golput
Senada, pakar komunikasi politik asal Unitomo Redi Panuju memandang bahwa Pilgub Jatim 2018 memiliki potensi golput hingga 30 persen. Potensi tersebut, salah satunya muncul akibat dari kejenuhan masyarakat terhadap pola politik yang dicampur dengan identitas kultural seperti yang dilakukan oleh para Kyai akhir-akhir ini.
"Solusi untuk menghindari potensi golput itu adalah dengan segera mewujudkan poros tengah. Poros tersebut harus lebih menonjolkan isu profesionalitas, rasionalitas, objektivitas, dan kapabilitas," jelas Redi, secara terpisah.
Apabila berhasil diwujudkan, maka Redi menjamin bahwa poros tengah bakal membuat 2 poros yang sudah ada menjadi jauh tertinggal. "Karena, kalau bicara NU saja, sudah banyak orang NU yang juga kritis dan nggak mau lagi masuk dalam simbol-simbol legitimasi tradisional. Gerindra-PAN-PKS harus segera mewujudkan poros tengah itu," tegasnya. n
Editor : Redaksi