SURABAYAPAGI, Pekalongan- Adalah Fatchiyah A. Kadir mengaku siap melakukan kerja sama dengan Jawa Timur. Terutama dalam memasarkan produk mulai dari baju, handmade sandal batik Pekalongan. "Kami siap melakukan kerja sama dan menjajaki peluang usaha dengan Jatim, agar batik tetap eksis. Batik semakin mendunia dan bisa digunakan oleh semua kalangan," ujar pengusaha Batik Pekalongan yang juga Ketua Pecinta Batik Pekalongan Hj.
Menurutnya, Jatim merupakan pasar yang sangat potensial. Mengingat jumlah penduduknya yang mencapai 40 juta jiwa. Jatim, melalui Showroom Deskranasdanya merupakan media promosi yang sangat tepat. "Tempat kami, siap kerjasama 50%-50�rbagi keuntungan dengan Deskranasda Jatim," terangnya.
Masih kata Fatchiyah pasar Batik Jatim dinilainya juga cukup besar, ia menjelaskan penduduk Jatim yang nyaris mencapai 40 juta Jiwa sangat memberikan pengaruh besar terhadap perajin batik. Terlebih jika kemudian mendapatkan sentuhan kebijakan dari pemerintah daerah.
Seperti halnya sentuhan kebijakan untuk 'membumikan' batik pada anak-anak sekolah, pegawai pemerintah daerah, maupun swasta. Jika saja di Sekolah semua memakai batik mulai kelas satu SD hingga tingkat SMA maka sudah bisa dipastikan akan semakin besar pasar batik. "Kalau di Pekalongan kami tak henti-hentinya menyuarakan ini pada pemerintah," katanya bersemangat.
Sementara itu, Nur Cahyo pemilik Butik Batik Cahyo Pekalongan mengaku, bahwa karyanya banyak di ekspor ke luar negeri seperti Jepang dan negara Asia lainnya. Banyak juga, perajin perajinnya membuat motif bagi masyarakat Jatim. "Pelanggan saya dari masyarakat Jatim biasanya menyukai warna cerah," ungkapnya.
Selain warna, lanjut Cahyo banyak masyarakat Jatim yang menyukai motif kalem. Motif kalem biasanya tidak jauh jauh dari motif pesisiran yang menggoreskan seperti flora dan fauna.
"Motif pesisiran biasanya pakem saya membuat batik. Orang Jatim sangat suka motif flora seperti bunga. Sementara untuk, fauna biasanya yang dipilih adalah hewan kupu-kupu, burung, macan, ikan, kura kura," tegasnya.
Kepala Museum Batik Pekalongan Bambang Saptono menyatakan bahwa Deskranasda Kota Pekalongan ingin belajar banyak dari Deskranasda Jatim. Salah satu yang menjadi daya tarik adalah tata letak penempatan barang hingga hasil maupun produk dari IKM di 38 kabupaten/kota ditampilkan. "Deskranasda Pekalongan sangat berharap bisa belajar banyak dari Jatim. Penataan kerajinan yang ditampilkan sangat rapi dan enak dipandang. Saya kagum dan ingin belajar dari Jatim," jelasnya.
Ia mengaku siap menerima batik dari Jatim untuk dijadikan display Batik di museum kami. "Kami berharap Ibu Ketua Deskranasda Jatim atau ibu Gubernur Jatim bisa memasukkan produk batik khas dari Jatim untuk kami simpan dan pamerkan di dalam museum batik di Pekalongan," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Dekranasda Pekalongan Betty mengatakan, Batik, sudah jadi brand dari kota Pekalongan. Selain batik, Pekalongan juga memiliki tenun, canting dan kerajinan tangan lainnya yang home industri.
Deskranasda dalam kegiatannya juga mengajarkan semangat kewirausahaan kepada anak anak usia muda dengan cara masuk ke sekolah sekolah. Deskranasda go to scholl adalah program yang diadakan menjelang hari jadi Kota Pekalongan.
Ia menerangkan, tujuan go to school adalah lebih mengenalkan batik kepada anak anak usia sekolah. "Dekranasda Go To Scholl kita laksanakan, menumbuhkan semangat anak anak pemula, untuk berwirausaha," imbuhnya.
Saat ini jumlah IKM yang tercatat sebanyak 7.600 IKM. Jumlah yang besar tersebut dikarenakan batik ini jadi usaha produktif secara turun temurun. Bahkan, di setiap kelurahan pasti ada. Kami juga memiliki kampung batik, dan sentra-sentra batik yang bisa dikembangkan. arf
Editor : Redaksi