“Pemilik Hotel Jangan Lepas Tangan”

surabayapagi.com
Terkait hotel menjadi sarana prostitusi terselubung, ekonom asal Unitomo Meithiana Indrasari menganalogikan fenomena tersebut dengan pepatah "ada gula ada semut". "Pepatah itu mewakili keprihatinan kita akan maraknya hotel budget yang diduga menjadi tempat terselubung prostitusi di Surabaya," kata Meithiana Indrasari dihubungi Surabaya Pagi, kemarin. "Semua pihak harus bekerja sama mengembalikan citra bahwa hotel merupakan bagian penting pariwisata. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada ekses atau dampak negatif dari industri pariwisata, seperti maraknya miras, narkoba dan prostitusi," jelas Mei lebih lanjut Patologi sosial dalam pertumbuhan ekonomi sebagai sumber fenomena itu juga dipandang Mei memang perlu strategi khusus dalam kaitan. "Kalau tidak bisa dicegah, harus diminimalisasikan dampak negatifnya. Pendekatan budaya sebagai bangsa yang bermartabat dan masyarakat yang religius perlu dikedepankan dibanding dengan pendekatan hukum dalam mengelola persoalan tersebut," cetusnya. "Pemilik hotel budget pun jangan lepas tangan, perlu membatasi gerak mafia prostitusi terselubung dengan tanpa mengurangi kenyamanan dan keamanan menginap di hotel. Perlu kode etik bagi tamu hotel agar praktik prostitusi terselubung bisa diminimalisasi bahkan dihilangkan secara tuntas," tegas Mei lebih lanjut. N ifw

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru