“WANITA BERTAHTA?”

surabayapagi.com
DINAMIKA Pilgub Jatim 2018 ini memberikan pemahaman baru bagi saya atas buku yang telah lama kubaca, sejak 2005, karya besar Paul I. Wellman, judulnya The Female, ya soal Wanita. Wanita yang membangun sejarahnya dengan segala keunikan dan siasat hebatnya. Wanita menjadi poros perubahan yang mengonstruksi peradaban sesuai dengan potensi dirinya, hingga menentukan langkah kerumun partai yang musti dipanggungkan. Kisah awalnya membuncah dalam ingatan untuk ditulis sebagai narasi kekuasaan, termasuk dalam menentukan bobot pembangunan kota yang bersifat maskulin atau feminim. Fenomena paslon wanita dalam pilgub Jatim sangatlah bernalar historis meski dengan warna ada wanita yang begitu rumongso (biso) dicalonkan mendampingi yang tertinggalkan sambil berkelit melalui pecintanya, agar memasang banyak baliho yang menyesakkan ruang metropolitan. Fakta yang menjadi komedi tanpa bermakna humor, karena khalayak bebas membaca, itulah gelagat yang dikehendaki meski tidak terkatakan. Tahun 521 menjadi penanda Byzantium yang kelak bernama Konstantinopel akan diformat dalam arsitektur yang “gagah perkasa” ataukah “gemulai”, sangatlah dipengaruhi oleh “ribuan ingatan” yang berserak dalam “kolong” perkotaan yang dicitakan otoritas Romawi dengan menjalin persekutuan lintas partai. Paul I. Wellman menceritakan dalam kosa kata yang intinya diwartakan bahwa hanya samar-samar sekali ingatan Theodora akan bukit-bukit yang berkabut dan laut biru Cyprus, yang kata orang adalah tempat kelahiran Aphrodite. Ketika ia berumur empat tahun, Acacius membawa keluarganya ke Konstantinopel untuk bekerja sebagai penjaga beruang dalam sirkus milik Kaum Hijau. Ingat warna yang ada adalah Hijau … dan Biru. Betapa aneh pengaruh warna-warna ini untuk kehidupan kemaharajaan Romawi dan dunia saat itu. Ini adalah warisan dari Roma purba, ketika para gladiator bertarung di Colleseum atau pengendara kereta berpacu di Circus Maximus, dengan pakaian putih, biru, merah, dan hijau. Dengan cepat Konstantinopel menirunya sambil mempolarisasi posisi para porter warna yang satu menjadi rival yang lainnya, baik di dalam maupun di luar pertandingan. Nafsu judi, hasrat berkuasa, itulah alasan permusuhan mereka. Penyakit yang menghinggapi penduduk Roma dan lebih lagi orang-orang Konstantinopel. Memang sejak zaman kuno di Roma, Golongan Merah bergabung dengan Golongan Hijau, sedangkan Golongan Putih terserap oleh yang Biru. Jadi yang ada hanya dua golongan, dua partai penrusung koalisi. Di Konstantinopel pembagian ini tetap tak jelas. Begitu getir rasa rivalitas antara mereka, sehingga tidak jarang terjadi perkelahian dan pembunuhan (karakter). Penduduk kota terbelah dua dalam menentukan pilihannya, bahkan di tingkat provinsi-provinsi terjadi yang demikian itu. Dua sahabat saling membenci, ayah dan anak tersulut cekcok hanya karena soal warna yang menggerombol. Suatu pertentangan yang meneror tahta kerajaan dan memutarbalikkan hukum dikira lumrah. Dalam perkembangannya, kontroversi agama terbawa “meroketkan” rivalitas para pendukung warna itu semakin liar menyebar. Sampai di sini, kondisinya nyaris serupa situasi di Jatim yang melahirkan sosok pekalah sebelum bertanding yang mengungkit mahar meski publik menorehkan ingatan tentang posisinya yang minus pendukung, alias belum mampu bertindak menggalang “gerbong tunggangan”. Ia kalah dengan dua wanita yang sedang turut berlaga. Sampai pada cerita yang menyentuh titik kekuasaan, saya lanjutkan kisahnya: Ketiak Theodora untuk pertama kalinya melihat Hipodrome di Konstantinopel, Golongan Hijau sedang mendapat angin. Tempat mereka duduk adalah di bagian barat yang terlindung dari terik matahari sore. Waktu itu Maharaja Anastasius menjagoi Hijau dan para pengikut Monophisite yang didukung Golongan Hijau mendapat tempat di istana. Tetapi sejak Justinus dari Golongan Biru berkuasa, situasi berubah. Kaum Hijau duduk di bagian timur, mereka memanen silau karena sinar matahari sore itu amatlah teriknya. Dengan rasa pahit mereka menantikan kesempatan untuk membalik keadaan. Namun ketahuilah bahwa koalisi yang dimotori Hijau dan Biru di Jatim ini tidak berlaga dalam “sayap Colleseum” tetapi ada dalam “panggung besar” berpayung ormas yang sama. Pertandingan yang berkelebat persandingan antara “anak wedok” lan “anak lanang” dalam trah yang bertradisi sama. Ya sama-sama ingin menduduki tahta yang kini palungguhan itu disinggahi Pakde Karwo. Dalam hal ini kita tergiring belajar bahwa meski ribuan tahun telah berlalu dari rekam jejak Theodora maupun Anastasius, tetapi soal warna tetaplah abadi melintasi zamannya. Kemaharayaan Romawi “bermetamorfoesis” di Jatim: Hijau dan Merah ada dalam satu persekutuan yang berhadapan dengan Partai Biru dengan tambahan “kunir jingga” yang turut menyerta. Soal warna “kerumun partai” yang terjadi di Roma tahun 521 itu terbersit terang di ranumnya “buah” pilgub Jatim. Gelak tawa dan taburan gembiran dalam kolom “colleseum” pilgub Jatim amat kentara pembatas warnanya, tetapi sangat samar gelombang massanya. Meski demikian, pendarnya tetap ada dalam satu titik koordinat hukum perpilkadaan bahwa para calon nahkoda Jatim ini sama-sama meneguhkan tahta wanita, ya wanita yang bertahta. Masing-masing paslon dibalut pesona wanita dengan segala kemurahan batinnya. Pilgub Jatim ini sejatinya memang menaburkan sparkling warna wanita dengan watak dasar yang nadanya menggedor kesadaran warga. Ada yang datang tepat pada waktunya dengan menyulam koalisi yang sangat elegan tanpa huru-hara dengan Biru yang merengkuhnya, suatu gambaran keluasan batin berpolitik karena wanita ini diusung oleh pesaingnya pada episode pilgub sebelumnya. Tampak pula wanita yang datang di garis akhir, saat menjelang penutupan pendaftaran dengan didahului “kisah kasih” pengunduran diri pasangan yang senyumnya sudah sepersunggingan. Semua dapat dibaca sebagai penanda perpolitan yang tampak tenang, tetapi dapat pula menyembulkan gelombang. Pasangan yang digempur dengan “temaram cahaya Ken Dedes” yang pernah menghiasi “kakawin” pendirian Singosari terlihat menggelitik ketenangan para pengusungnya. Semburat “beningnya Ken Dedes” menjadi gerhana yang menggelapkan kedai Tumapel dalam rentang 1216-1222. Pada tahun 1222-1227 amatlah penuh romantika, karena suksesi juga digelar dengan keterlibatan wanita: Ken Dedes di “bentang alam” pemerintahan. Biarlah lembar Ken Dedes dan Ken Arok itu menjadi pembelajaran literasi sejarah yang bagus dengan bungkus yang terkadang sangat legendaris meski inspiratif: Temon yang anak pinggiran dari Nyi Endok yang mengalami pembuaian dari “Sang Brahmana” alias Tunggul Ametung sendiri telah mampu memantapkan diri menggapai derajat Ken, hingga tersemati namanya menjadi Ken Arok, Sang Prabu Rajasa. Karir politik yang dilalui bersumbu dari gelora peran wanita, sekaligus produk dari tempaan “rajin sekolah” ke Bangau Samparan (“preman tobat”) maupun Mpu Purwa, ayah dari Ken Dedes. Pergantian kekuasaan maupun perebutan tahta di Singasari pun tidak luput dari “gerakan” kaum wanita. Tarikh 1293 saat diproklamasikannya Kemaharajaan Majapahit dengan Raden Wijaya sebagai Sang Noto, tak luput dari peran besar Gayatri, anak cerdas dan aduhai, yang mahir strategi dari trah Kertanegara, Bapak Nusantara yang sangat berkesan dalam benak kenegaraanku. Raden Wijaya mendapatkan “guru agung” justru dari Permasuri yang bermahkotahkan spirit Pradnyaparamita, punjer bijaknya kebijakan yang menyamudra ilmunya. Gayatri dalam berbagai pustaka klasik yang terbit di tahun 1365-1385 sangatlah berpengaruh dalam menentukan perhelatan Majapahit, dan atas nama keluhuran budinya itulah, Perdana Menteri Gadjah Mada pada 1362 harus menggelar upacara Banawa Sekar untuk mengenang jasa-jasa besar Ibu Utama Negara yang telah memenuhi panggilan Tuhan. Kidung dari Empu Tanakung dapat dieksplorasi oleh para pembaca kontemplasi. Suksesi dari Raden Wijaya ke tampuk genggaman Jayanegara juga beraroma kuasa wanita sampai pada tahapan Dokter Spesialis Istana, Ahli Bedah yang bernama Ra Tanca membunuhnya. Gadjah Mada mengambil alih peran seketika dengan menikam “dokter istana negara” pada detik-detik “pulung kuasa” lepas dari Kesatria Majapahit untuk dibopong “Wanita Srikandi” di tahun 1328. Penobatan Tribhuana Tunggadewi dilakukan di Balai Manguntur, sentrum kekuasaan untuk dijalankan dari rentang 1329-1350. Tribhuana Tunggadewi menjadi pengendali kekuasaan Majapahit, yang untuk selanjutnya para “lelaki datang silih berganti” sampai Hayam Wuruk memanggulkan kegemilangan Majapahit tahun 1350-1389. Sebelum Majapahit hilang sirna kertaning bhumi di tahun 1525, wanita bertahta pernha pulah singgah menggenggam tahta, dialah Ratu Suhita di tahun 1429-1447. Tugasnya sangat berat atas ulah para lelaki yang berkuasa dalam lorong akrobat Wikramawardana yang pandai berhutang sekaligus membayar bunganya; kekayaan negara digunakan nyicil hutang kepada Cina. Hubungan Majapahit-Cina terekam dengan pundi-pundi denda karena mismanajemen pemerintahan. Suhita mampu bangkit untuk membenahinya dan sungguh Ratu Suhita menyelamatkan martabat Majapahit meski dalam babakan babat berikutnya Kertawija, Rajasawardana, Hiang Purwawisesa maupun Brawijaya menuntun berlahan “meredupkan” pengaruh Majapahit dalam percaturan internasional karena konflik internalnya sendiri. Kini pertarungan wanita memperebutkan tahta berada dalam kondisi Jatim yang tidak seperti saat Majapahit di tangan Wikramawardana maupun Brawijaya. Jatim dalam kepemimpinan Pakde Karwo sedang berada pada perjalanan penuh prestasi. Pertumbuhan ekonomi, stabilitas “ipoleksosbudhankamnasling”, maupun progresifnya regulasi guna membentengi produk lokal agar berdaya saing di pasar Asia (MEA), serta bentuk-bentuk subsidi alat angkut hingga harga sembako tetap terjangkau. Kinerja ini jelas berbeda dengan yang dihadapi oleh Tribhuwana Tunggadewi maupun Ratu Suhita. Para temanten wanita ini tinggal melanjutkan capaian kinerja yang telah diletakkan Pakde Karwo. Saya percaya, wanita itu memiliki keterpanggilan dan “ada aura” alam yang sedang menyampaikan sapanya dengan pertarungan yang berulang-ulang diikutinya yang menandakan bahwa dia adalah wanita tangguh yang siap mengemban estafet Jatim-1. Siapakah wanita tangguh itu, yang akan menerima limpahan daulat demokrasi dari warga Jatim? Atau “pulung” akan jatuh ke wanita yang mendampingi “calon yang sudah berlatih dua periode” ke Pakde Karwo yang diperutuskan rakyat untuk bertahta? Semua akan terketahui tanggal 27 Juni 2018, sore hari.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru