SURABAYAPAGI.COM - Kehidupan masyarakat Tionghoa, di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok terbilang unik, baik dari sisi sosial maupun pribadinya. Kedisiplinan sangat dijunjung tinggi warga Tiongkok, baik dalam hal kecil maupun besar.
Helmi Suardi, Mahasiswa Program Master Jurusan Developmental and Educational Psychology di Huazhong University of Science and Technology dalam tulisannya di Tribunnews, Segi perekonomian masyarakat Tionghoa di sana, dalam sehari mampu bekerja 12 jam. “Bayangkan, kita saja yang bekerja delapan jam sehari, sudah merasa berat,” tulisnya.
Disisi lain, rakyat Tionghoa ini termasuk pekerja cerdas, dilihat dari sisi produk yang dihasilkan Cina. Di Dunia ini tidak ada barang yang tidak ditiru oleh Cina, lalu mereka menjual lebih murah. “Boleh kita katakan Cina adalah macan ekonomi di Asia kini,” imbuhnya.
Bangsa Cina yang terkenal dengan kebiasaan tidak suka hidup mewah sudah menjadi identitas budaya mereka. Selain faktor budaya, faktor politik juga berpengaruh. Mereka menganut komunisme yang bergeser ke arah sosialis yang agak longgar, bahkan sekarang menjadi kapitalis.
“Ekonomi Cina booming dan berkembang sangat pesat. Kenapa? Karena bangsa Cina itu tidak suka hidup mewah, di samping karena budaya, juga karena faktor politik komunisme yang mereka anut,” paparnya.
Kehidupan bangsa Cina di sana tetap sederhana, karena filsafat Konghucu menjadi pemicu budaya mereka, meski mereka komunis yang menganut ajaran tidak bertuhan (ateisme).
Gaya hidup yang menariknya lagi, bangsa Cina lebih mendahulukan bekerja daripada makan. Mereka memiliki pegangan bahwa porsi yang dimakan harus dibawah hasil kerja. Padahal sebenarnya porsi makan orang Cina itu banyak, jika dikomparasikan dengan Arab yang secara porsi makan memiliki kesamaan dengan Cina, akan tetapi orang Cina jarang ada yang gemuk karena diimbangi dengan rutinitas olahraga.
“Saya melihat bangsa Cina ini memang aneh. Mereka lebih mendahulukan bekerja daripada makan,” urainya.
Dilain sisi, mereka sangat jarang naik sepeda motor. Terlihat di Kota Wuhan, jika orang akan berpergian yang jaraknya kurang dari 1 KM, maka mereka lebih memilih jalan kaki dan jika lebih dari 5 KM, mereka akan naik bus. Kalau tingkat ekonomi sudah tinggi, baru mereka membeli mobil. Tapi itu pun jarang dipakai, karena mereka lebih suka naik bus sekalipun sudah punya mobil sendiri.
“Alasan sederhana mereka Jalan kaki itu lebih hemat, sehat, lebih selamat, dan antipolusi,” ungkap Helmi.
Kendati orang barat piawai dalam hal penelitian dan inovasi. Mereka meneliti sampai bisa menemukan listrik, kereta api, silinder, dan sebagainya, akan tetapi dalam urusan berdagang dan mencari rezeki, jagonya adalah Cina.
Pasalnya, hubungan sosisal bangsa Cina antar warganya sangatlah mengagumkan. Kaum mudanya sangat menghargai yang lebih tua, menyayangi anak kecil, dan ibu hamil. Saat melihat ibu hamil di bus, pasti anak yang lebih muda mempersilakan si ibu untuk duduk dan dia rela berdiri lama. Ini pemandangan yang umum terlihat di dalam metro/subway maupun bus umum.
Banyak sisi positif gaya hidup orang Cina ini yang bisa dijadikan acuan untuk mendisiplinkan diri, menghargai sesama, terutama anak dan wanita, termasuk dalam membangun negeri penuh gairah. Jika diadagiumkan tentang etos kerja orang Cina, yang sesuai adalah “Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak (Selalu bekerja, tidak membuang-buang waktu)”.
Editor : Redaksi