SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Kepala Bulog Subdrive III Bojonegoro Slamet Kurniawan dihadapan komisi B DPRD Lamongan menyebutkan, kalau pihaknya mengklaim sudah melakukan pembelian harga gabah milik petani meski belum maksimal, karena persoalan kualitas gabah petani yang masih belum memenuhi standar SNI yang diterapkan.
Karena masih banyak nya yang kurang standar itu, hingga 15 Maret 2021, gabah milik petani sudah terserap sekitar 100 ton dari petani di tiga Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan.
Baca juga: Motor Tosa Untuk 60 KDKMP di Lamongan Diserahkan
Untuk penyerapan gabah di wilayah Lamongan kata Slamet, baru sekitar 50 ton terbesar di bandingkan dengan gabah di dua daerah Tuban dan Bojonegoro. "Memang saya akui, penyerapan yang masih belum maksimal itu, karena kualitas gabah di Lamongan tidak memenuhi standar yang diharapkan," ujarnya.
Baca juga: Menteri Koperasi RI Sebut Sundra Family Care, Bisa Menjadi Opsi Pilihan Tepat Berbelanja Keluarga
Selain itu lanjutnya, Bulog beralasan rendahnya penyerapan gabah juga disebabkan kapasitas gudang Bulog tidak bisa menampung, karena saat ini Gudang Bulog di Lamongan masih menyimpan beras pengadaan tahun 2018 sejumlah 9400 ton.
"Di Lamongan kami masih mempunyai beras sejumlah 9400 ton dan saat ini masih tersimpan, beras ini ada kami simpan sejak tahun 2018, sedangkan kapasitas gudang Bulog di Lamongan maksimal 10 ribu ton, sehingga itu terkadang yang menjadi problem sehingga gabah petani belum terserap secara maksimal," akunya. jir
Baca juga: Lele Sebarat 10 Kg, Milik Warga Plosowahyu Juarai Kolela, dan Dibeli Bos Namira Rp 25 Juta
Editor : Moch Ilham