SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Teguh yang merupakan pria lulusan program S2 dari satu perguruan tinggi negeri ternama, awalnya bekerja di bank. Namun akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pengusaha dan berhenti dari posisi branch manager.
Teguh menceritakan perjalanan usahanya. Dengan sisa gaji Rp 2 juta dia berbisnis Thai Tea. Lewat bazar, usahanya tersebut mendapat respons.
Baca juga: UMKM Pedagang Es di Banyuwangi Resah, Harga Gelas Plastik Naik Dua Kali Lipat
Dia kemudian mencari makanan padanannya, terbersit lah membuat dimsum. Tak memiliki keahlian membuat dimsum, tak membuat Teguh surut. Teguh terus belajar, dan membuat tester. Sekian lama mencoba, pada akhirnya dia mendapat tester dengan racikan yang banyak disukai orang.
Mulai lah dimsum diproduksi dan dipasarkan dalam jumlah terbatas. “Usaha terus berkembang, sampai buka gerai di Depok,” kata Teguh.
Baca juga: Pasca Lebaran 2026: Harga Plastik Melonjak 100 Persen, UMKM-Pedagang di Lamongan Menjerit
Karena ingin menjualnya secara online, Teguh kemudian menamakan dimsumnya Pabrik Dimsum sejak tahun 2020.
Lokasi produksinya tetap berada di kawasan Depok. Pabrik Dimsum saat ini memiliki 15-20 orang di bagian produksi. Per harinya bisa memproduksi 15 ribu dengan ragam jenis dimsum. Harganya mulai dari kisaran Rp 1.850.
Baca juga: Momentum Musim Haji Jadi Berkah Bagi Pedagang Musiman pernak-pernik di Kediri
Kini Pabrik Dimsum telah memiliki 15 distributor, dan memiliki ribuan reseller yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Kalau buat Omzet, ya, kira-kira dapat (mobil) Pajero Sport lah sebulan, sekitar itu,” ujar Teguh. Dsy10
Editor : Redaksi