SURABAYAPAGI, Surabaya - Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Nurul Hartini mengatakan, sekecil apa pun tindakan perselingkuhan dapat menyebabkan dampak psikologis bagi pasangan yang diselingkuhi.
Dalam pemaknaannya, perselingkuhan tidak hanya dikaitkan dengan aktivitas seksual, tapi mencakup aktivitas ketidakjujuran maupun penyelewengan terhadap pasangan.
Baca juga: Dukung Program SATU TB, Pemkab Magetan Gelar ‘Skrining’ TB dengan X-Ray ASN
“Setiap kejadian yang tidak diinginkan dapat menimbulkan situasi stres yang secara psikologis tidak sehat. Namun sekali lagi apabila dikatakan traumatis, maka kita harus mengaitkannya terhadap kualitas dan kuantitas kejadian,” kata Nurul, Jumat (14/10/2022).
Nurul menjelaskan untuk mengatasi kondisi tersebut strategi coping dapat dilakukan secara efektif. Coping merupakan respons pikiran dan perilaku yang bertujuan untuk mengatasi konflik yang muncul akibat kejadian yang dialami. Dukungan sosial dari orang-orang terdekat juga sangat dibutuhkan dalam memberikan dukungan emosional.
Baca juga: Ringankan Beban Berobat, Pemkab Tuban Sediakan Rumah Singgah di Surabaya
“Jika merasa belum membaik, maka dibutuhkan penanganan yang lebih profesional. Jadi disarankan untuk melakukan konsultasi ke psikolog,” ujarnya.
Nurul mengungkapkan,banyak alasan mengapa seseorang berselingkuh. Mulai dari fisik, finansial, psikologis, bahkan budaya. Bahkan, kata dia, ada beberapa kelompok yang justru menganggap perselingkuhan merupakan sebuah peningkatan harga diri, sehingga perselingkuhan menjadi hal-hal yang ditoleransi meski melanggar nilai dan norma.
Baca juga: Fasilitasi Psikologi Klinis Gratis, Pemkot Malang Percepat Layanan di Puskesmas
Nurul pun menyarankan untuk selalu menjadi pribadi yang teguh dalam memegang komitmen, utamanya pada hubungan yang telah diresmikan oleh ikatan suci. “Sekali kita melanggar, pastinya akan sangat sulit membangun kembali kepercayaan pasangan," kata dia.hlt/mtl
Editor : Mariana Setiawati