Walikota Ning ita Panen Curhatan Remaja di 'Ngode in Aja'

surabayapagi.com

SURABAYA PAGI.COM, Mojokerto - Walikota Mojokerto Ika Puspitasari ternyata punya bakat terpendam menjadi seorang psikolog.

Berbekal pengalaman sebagai orang tua, petinggi Pemkot Mojokerto ini mampu menampung dan menjawab curhatan para ABG terkait problematika remaja dalam acara 'Ngode in AJa' (Ngobrol Dekat Bareng Remaja) di Hall MPP Gajah Mada, Rabu (16/11) pagi.

Salah satunya curhatan dari Arini, pelajar Kelas X SMK Kesehatan Kota Mojokerto. Kepada ibunya warga Kota Mojokerto, gadis berparas ayu ini mengeluh soal minimnya perhatian kedua orang tuanya.

"Saya di Kota Mojokerto ikut tante, orang tua saya ada di luar pulau, kadang saya merasa kurang diperhatikan, karena komunikasi dengan orang tua sangat terbatas hanya lewat handphone saja," keluhnya.

Tak hanya itu, ia juga kesal saat orang tuanya terlalu mengekang dengan berbagai kegiatannya. Meskipun aktivitasnya tersebut dinilainya positif.

"Setiap saya WA minta ijin ini itu, jawabnya singkat-singkat, hanya 'Y' atau Tidak saja," kesalnya. Curhatan juga keluar dari mulut Abi Dama, pelajar SMAN Puri Mojokerto. Kepada Ning Ita, Duta Genre Kota Mojokerto ini bercerita tentang seorang temannya yang terjerumus dalam circle pertemanan negatif.

"Dulu anaknya baik bu, dia suka main game, mungkin karena sering dimarahi dan dilarang orang tuanya akhirnya cari pelampiasan ke hal negatif," ujarnya.

Menanggapi curhatan para remaja belia ini, Ning Ita sapaan akrab Walikota Mojokerto langsung berempati menjadi sosok ibu. Ia dengan nada lembut dan penuh kasih sayang memberi jawaban berisi motivasi.

"Kebanyakan penyebab kenakalan remaja adalah karena kegagalan komunikasi antara orang tua dan anaknya," tegasnya.

Ia menyebut, perbedaan generasi diantara keduanya menjadi pemantik kebuntuan komunikasi tersebut. Karena para orang tua berada di era dimana kemajuan teknologi belum sedemikian pesat seperti saat ini.

"Jadi kacamata yang dipakai ortu adalah kacamata jadul, sedangkan saat ini eranya sudah beda jauh. Sehingga pemikiran kulot tersebut jika dipaksakan tidak akan bisa diterima anak-anak," jelasnya.

Untuk itu, lanjut Ning ita, sebagai solusinya, pihaknya akan menguatkan peran tenaga psikolog unt secara masif menjembatani gagalnya komunikasi antara anak dan ortu.

"Makanya kegiatan semacam ini sangat penting untuk digalakkan, karena kita harus bisa menangkap pemikiran para remaja untuk bisa diarahkan secara positif demi mewujudkan generasi emas Indonesia," pungkasnya.

Sekedar informasi, Ngode in AJa (Ngobrol Dekat Bareng Remaja) dengan tema Peran Remaja Dalam Pemenuhan Hak Reproduksinya Untuk Menjadi Generasi Bebas Stuntimg dan 4 T ini diikuti puluhan remaja milenial dari 34 PIK R/M dan Insan Genre Kota Mojokerto.

Acara yang diselenggarakan Dinas Kesehatan P2KB setempat ini menghadirkan sejumlah nara sumber diantaranya Dokter Kandungan RSUD Wahidin Sudirohusodo, Dr. Kurnia Dian Ikawati,SP.OG, Psikolog Hannia Perwitasari, Pendping PIK RM Jawa Timur, Haydar Iskandar, ST serta Kepala Sekolah SMPN 4 dan SMKN 1 Kota Mojokerto. Dwi

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru