SURABAYAPAGI.com, Jombang - Melihat fenomena harga minyak yang akhir-akhir ini mengalami kenaikan yang signifikan membuat sentra perajin tahu di Dusun Bapang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, mulai terdampak dan memicu peningkatan biaya produksi dan menekan pendapatan pelaku usaha. Sehingga, untuk saat ini para perajin yang selama ini memasok tahu goreng ke berbagai daerah, seperti Surabaya dan Gresik, kini harus menyesuaikan strategi produksi agar tetap bertahan.
“Kenaikan harga minyak goreng ini sangat berpengaruh pada usaha kami. Sekali produksi membutuhkan sekitar 7 kilogram minyak, dan dalam sehari bisa sampai puluhan kali menggoreng. Beberapa waktu terakhir harganya terus meningkat,” ujar Nuryatim, salah satu perajin, Selasa (28/04/2026).
Tentu saja, kondisi tersebut membuat biaya produksi mengalami kenaikan signifikan. Namun, pihaknya memilih tidak mengurangi ukuran produk demi menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan. Meskipun jumlah produksi masih dipertahankan, namun, tekanan biaya berdampak pada penurunan omzet. Dirinya memperkirakan penurunan pendapatan mencapai dua digit dalam beberapa waktu terakhir.
“Dulu biaya produksi per sekali masak sekitar Rp160.000, sekarang naik menjadi kurang lebih Rp185.000. Kami tidak mengubah ukuran tahu, tetapi melakukan penyesuaian pada harga jual. Secara keseluruhan, omzet turun di kisaran 10 sampai 15 persen. Selain biaya yang meningkat, permintaan dari pasar luar daerah juga mulai melemah,” jelasnya.
Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada minyak goreng. Bahan baku lain seperti kedelai dan plastik kemasan juga ikut mengalami peningkatan, sehingga memperbesar beban biaya produksi. Sehingga, para perajin berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk menstabilkan harga bahan pokok yang menjadi penopang industri kecil.
“Kami berharap harga minyak goreng dan kedelai bisa segera stabil. Produksi tetap kami jalankan, tetapi kondisi seperti ini cukup berat bagi usaha kecil,” katanya. jb-02/dsy
Editor : Redaksi