Arek Kalimas Madya Ditangkap Densus 88

surabayapagi.com
Tim Densus 88 Antiteror Polri saat menggerebek dan menangkap terduga teroris di Jalan Kalimas Madya Gang III Surabaya, kemarin.

Diduga Jalani Aksi Terorisme, Bersama Warga Banyuwangi dan Tulungagung

 

Baca juga: Potensi Besar Dongkrak PAD, Pengelolaan Wisata Kebun Raya Mangrove Masih Setengah Hati

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap terduga teroris dalam operasi penegakan hukum dalam rangka mencegah tindak pidana terorisme di wilayah Jawa Timur. Dua terduga teroris itu diamankan dari Surabaya dan Banyuwangi.

Di Surabaya, seorang pria paruh baya berinisial BUB (52) diamankan Densus 88 pada Jum’at (2/6) lalu. Selain mengamankan terduga pelaku teroris, Densus 88 juga melakukan penggeledahan di rumah terduga pelaku di Jalan Kalimas Madya Gang III, Nyamplungan, Pabean Cantian, Surabaya.

Ketua RT setempat Muhammad Abri mengatakan pihaknya pada Jumat (2/6) siang, dirinya diminta menyaksikan penggeledahan di rumah BUB (52). Sebelumnya ia juga ditunjukkan surat perintah penggeledahan.

"Kemarin saya disuruh menyaksikan penggeledahan, mulai saya dipanggil jam 10.00 WIB sampai 11.15 WIB, kalau nggak salah hampir dua jam," kata Abri kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, Minggu (4/6/2023).

Saat penggeledahan berlangsung, Abri mengatakan ada sekitar 7 petugas Densus 88 yang menggunakan rompi yang masuk dan melakukan penggeledahan di rumah milik BUB (52).

Dalam penggeledahan tersebut, menurut Abri, petugas menemukan sejumlah buku dan panah.

"Di kamar depan ada beberapa buku, di belakang juga ada. Yang diambil buku isinya yaitu jihad, negara islam. Ya ada panah, tapi cukup tajam juga kelihatannya dari logam," tandas Abri.

 

Jarang Sosialisasi

Sementara itu, Ismail tetangga BUB mengaku terduga pelaku teroris jarang bersosialisasi dengan masyarakat.  

"Keseharian gak tahu. Kalau sama kakaknya sering. Tapi cuma ngobrol biasa soal minyak wangi biasanya. Ya kalau akrab enggak. Cuma kalau ketemu di jalan ya nyapa. Kita engga ngobrol panjang," ujar Ismail saat ditemui awak media di lokasi, Sabtu (3/6/2023) malam.

Boro-boro soal menghadiri undangan perkumpulan warga setempat, Ismail mengatakan, dirinya dan warga setempat tak terlalu mengetahui aktivitas keseharian BUB.

Oleh warga sekitar, BUB diketahui tinggal bersama istri, kelima anaknya, dan saudaranya.

"Enggak pernah (kalau ada undangan). Jarang di rumah katanya. Kadang ada, kadang enggak ada. Warga tahu kalau dia tinggal di situ. Anaknya banyak, masih kecil-kecil. Kalau gak salah anaknya 5," pungkasnya.

Hal senada juga diungkap oleh Ketua RT 02 Nyamplungan, M Abri. Dia mengatakkan, sosok BUB dikenal cenderung pendiam, tertutup dan jarang bersosialisasi.

"Orangnya ya nyapa. Tapi dia tidak bicara sama orang. Memang temannya ya jihad-jihad itu. Ya keluarga saya yang meninggal di Suriah itu, temannya dia. Iya gumbul (berteman) sama dia," ujarnya saat ditemui awak media di rumahnya, Sabtu (3/6/2023) malam.

Apalagi soal pekerjaan. Sekalipun dirinya pimpinan wilayah setempat, Abri mengaku, dirinya tidak mengetahui sama sekali pekerjaan BBU selama ini.

Sementara kakak kedua BUB, S (58) mengatakan, adiknya ditangkap anggota kepolisian saat hendak mengantar pakaian untuk anak ABU yang sedang bersekolah di salah satu SD swasta di kawasan Semampir, Surabaya.  

"Dia mau ke pondok anaknya. Tapi kok baju gak balik. Naik ojol. Tapi saya curiga ojol itu intel," ujar S saat ditemui awak media di rumahnya, Sabtu (3/6/2023) malam.

 

Pernah Terlibat Terorisme

Kasus hukum atas dugaan tindak pidana terorisme kali ini, menurut S merupakan kasus kedua yang menyeret adiknya, BUB.

Baca juga: Gubernur Khofifah Resmikan Rehabilitasi SMANOR Sidoarjo, Perkuat Pembinaan Atlet Jatim

Sekitar 17 tahun lalu, tepatnya tahun 2006 silam, adiknya pernah ditangkap atas dugaan keterlibatan aksi terorisme.

"Dibilang bebas, dimasukno (dimasukkan) di Malang. Enggak tahu menjalani apa. Tapi sudah bebas masih diawasi. Dibilang kasus sama," terangnya.

S mengaku tidak mengetahui pasti aktivitas apa yang dilakukan sang adik hingga akhirnya terseret kasus hukum dugaan tindak pidana terorisme sebanyak dua kali.

Setahu dia, adiknya memiliki aktivitas berkumpul dan mengaji secara berkala, bertempat di sebuah masjid yang berada dalam kawasan Sidotopo, Kenjeran, Surabaya.

Terkadang aktivitas berkumpul dan mengajinya itu berlangsung di luar Kota Surabaya.

S juga tidak tahu, kemana saja tujuan dan lokasi pengajian yang dilakukan sang adik dan kawan-kawannya.

"Dia memang ngaji. Kadang di Sidotopo (masjid). Kadang-kadang di luar kota. Tapi enggak ngerti. Luar kotanya kita enggak pernah tanya. Enggak tahu," katanya.

Mengenai pekerjaan dan penghasilan sang adik hingga bisa menghidupi istri dan kelima anaknya, S mengatakan, adiknya diketahui meracik teh herbal yang dijual di beberapa toko yang bersedia menjual produk buatannya.

 

Warga Banyuwangi Dibekuk Juga

Selain di Surabaya, Densus 88 juga mengamankan seorang warga berinisial SN di Banyuwangi dan ES di Tulung Agung. "Pada hari Sabtu 3 Juni 2023 telah berhasil ditangkap dua tersangka terduga teroris di Banyuwangi dan Tulungagung dan saat ini masih terus dilakukan pengembangan. Termasuk terduga teroris di Bima. Mereka berangkat ke Yaman dan bergabung dengan organisasi AQAP (Cabang Al Qaedah) dan saat ini masih terus dilakukan pengembangan," kata Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan, dalam keterangannya, Minggu (4/6/2023).

Menurut Ahmad Ramadhan, terduga teroris di Tulungagung, bernisial ES alias L ditangkap pada pukul 12.05 WIB Minggu. Sedang SN, terduga teroris Banyuwangi.

Baca juga: Densus 88, Temukan 110 Anak Direkrut Jaringan Terorisme

"Pada hari Minggu, 4 Juni 2023 pukul 12.05 WIB telah berhasil ditangkap 1 (satu) tersangka terduga teroris An. ES Alias L di Kab. Tulungagung, Jawa Timur. Terangka ES Alias L berangkat ke Yaman pada 14 Desember 2014 bersama 4 rekan lainnya yakni HS, AAK, MT, dan MAA yang difasilitasi oleh ABU (menurut keterangan MT) terkait hal tersebut saat ini masih terus dilakukan pengembangan," ujarnya.

Untuk penangkapan terduga teroris SN, di Banyuwangi, dalam waktu kurang dari 1 jam, tim Densus keluar dari rumah SN dengan membawa sejumlah barang hasil penggeledahan yang diduga sebagai kelengkapan penyidikan.

Mereka membawa sejumlah dokumen dan buku-buku. Selain itu, penyidik juga mengambil sejumlah pakaian dan obat-obatan milik SN.

"Tadi saya hanya menyaksikan penyidik dari Jakarta, mengambil beberapa barang pribadi milik pak SN," Tutur Hairiyah kepala Dusun Susukan Kidul

SN sendiri ditangkap Densus 88 pada Sabtu (3/6) tanpa ada yang mengetahuinya. Operasi penangkapan tersebut berlangsung senyap. Tak ada warga yang tahu pasti. Aparat desa baru tahu ada warga yang ditangkap setelah didatangi aparat.

 

Dosen dan Advokat

Kepala Dusun Susukan Kidul Banyuwangi, Hairiyah mengatakan SN yang ditangkap Densus 88 selama ini dikenal berprofesi sebagai dosen dan advokat.

"Bapaknya (SN) ini dosen dan pengacara. Jarang di rumah, tiga hari sekali, kadang dua hari sekali baru di rumah," kata Hairiyah.

Hairiyah menambahkan, SN selama ini juga dikenal dari keluarga yang taat beragama. Ini karena ayahnya seorang guru ngaji.

"Asli orang Susukan Kidul, ayahnya guru ngaji. Dari kecil di sini," beber Hairiyah.

Tak hanya itu, lanjut Hairiyah, SN juga merupakan pemilik lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan biasa menerima siswa yang melakukan tes pendidikan kejar paket. n ham/jk/rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru