Harga Beras Melambung, Inflasi Kabupaten Mojokerto Naik

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.COM, Mojokerto - Laju inflasi Kabupaten Mojokerto mulai naik 0,32 persen atau mencapai 2,47 persen dalam periode September 2023. Kenaikan ini dipicu dari lonjakan harga beras di bumi majapahit tersebut.

Kepala Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi mengatakan ada 10 komoditi penyumbang inflasi salah satunya adalah kenaikan harga beras.

Baca juga: Jelang Ramadhan, Pemkot Mojokerto Percepat Pencairan BPNT APBD

"Kenaikan nilai inflasi di Kabupaten Mojokerto dipengaruhi oleh kontribusi dari naiknya harga beras. Hal itu dimungkinkan dapat memicu kenaikan harga barang atau jasa dan lainnya," jelasnya, Minggu (15/10/2023).

Ia mengungkapkan komoditi penyumbang inflasi terbesar di Kabupaten Mojokerto yakni beras, tahu mentah, bahan bakar rumah tangga dan bawang putih.

Sedangkan penghambat inflasi dari kontribusi deflasi di antaranya telur ayam ras, kacang panjang, tarif telepon, daging sapi dan tempe.

Kini Pemkab melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara masif melakukan evaluasi untuk menekan inflasi tersebut.

Baca juga: Gelar Sarasehan di Mojokerto, Diskominfo dan Dewan Provinsi Jatim Tanamkan Kearifan Lokal Era Digital

"Kalau harga beras naik kan itu perkembangan harian nanti dalam sebulan kita evaluasi, intervensinya kita ada operasi pasar. Intinya kita kendalikan inflasi di angka-angka yang relevan," ucap Bambang.

Bambang menilai inflasi bulan ini cenderung stabil meski ada kenaikan sedikit sekitar 0,29 persen jika dibandingkan bulan Agustus lalu.

"Setiap bulan ada evaluasi paling tidak kita kendalikan agar stabil. Kalau inflasi meningkat tidak boleh terlalu besar dan inflasi rendah jelek juga.

Baca juga: Difitnah Ibu-ibu Lecehkan Siswi SD, Kini Penjual Dawet di Mojokerto Takut Jualan

Untuk inflasi Januari- September 2,47 persen," pungkasnya.

Menurut Bambang, idealnya inflasi di Mojokerto di kisaran angka 2-3 persen dan jangan sampai melebihi nasional.

"Idealnya kita di angka 3 harus seperti itu dan angka rata-rata per bulan kita harus pertahankan terus. Karena penyumbang inflasi kan berubah-ubah sehingga tidak bisa diprediksi," pungkasnya. Dwi

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru