Beralih Fungsi Jadi Perumahan, Lahan Pertanian di Kota Blitar Menyusut

surabayapagi.com
Ilustrasi. Lahan pertanian di Kota Blitar yang kian menyusut hingga tersisa 988 hektar saja. SP/ BLT

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Saat ini luas lahan hijau khususnya pertanian di Kota Blitar, Jawa Timur mulai menyusut dan hanya tersisa 988 hektar saja. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, utamanya untuk ketahanan pangan.

Hal itu dipicu bertambahnya populasi penduduk secara otomatis juga menambah jumlah bangunan berupa perumahan dan perkampungan yang tumbuh di Kota Blitar. Jika kondisi ini terus berlangsung maka lahan pertanian di Kota Blitar bisa habis. 

Baca juga: Tetap Eksis Diminati Pasar, Perajin Barongan Jaranan di Kota Blitar Raih Omzet Fantastis

Melihat kondisi tersebut, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar tidak tinggal diam. DKPP Kota Blitar pun berencana untuk menerapkan pertanian berbasis ruang. Konsep yang ingin dibangun adalah warga tetap bisa bertani dengan memanfaat ruang-ruang kecil yang tersisa.

“Kami tengah menguji coba pertanian berbasis ruang dengan memanfaatkan ruang yang bisa ditanami dengan tanaman pangan maupun hortikultura,” kata Dewi Masitoh, Kepala DKPP Kota Blitar, Senin (29/07/2024).

Baca juga: DKPP Kota Blitar Sidak Mendadak, Temukan Sapi LSD - Kambing Cacingan

Lahan pertanian yang ada di Kota Blitar saat ini memang terbilang sempit jika bandingkan dengan luasan wilayah Bumi Bung Karno. Kota Blitar sendiri memiliki luas 32 Km persegi atau 3200 hektar.

Selain menghadapi masalah tersebut, Pemerintah Kota Blitar juga dihadapkan pada permasalahan penurunan kualitas tanah. Penggunaan pupuk kimia berlebih menjadi penyebab utama terjadinya degradasi tanah.

Baca juga: Gelar Operasi Semeru 2025, Polres Blitar Kota Ciptakan Keselamatan Pengguna Jalan Raya

Sehingga, DKPP Kota Blitar berharap pertanian di Bumi Bung Karno tetap bisa bertahan di tengah ancaman tersebut. Masyarakat pun juga diminta aktif dalam upaya pengembalian kualitas tanah ini. “Ketika pupuk kimia dikurangi, manfaatnya luar biasa untuk mengurangi degradasi tanah, juga terciptanya kemandirian pupuk,” pungkasnya. blt-01/dsy

Editor : Desy Ayu

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru