SURABAYAPAGI.COM, Mojokerto – Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menyambut hangat kunjungan Bhante Luong Po dari Museum Nang Yai Wat Khanon, Thailand, di Museum Gubug Wayang Mojokerto, Jumat (13/6).
Kunjungan ini menjadi moment penting dalam mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Thailand, khususnya melalui seni tradisional wayang.
Baca juga: Musrenbang 2027: Wali Kota Mojokerto Prioritaskan Layanan Dasar di Tengah Tantangan Fiskal
“Selamat datang di Mojokerto, pusat Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 16 Masehi,” tutur Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto, membuka pertemuan dengan penuh keramahan.
Dalam pertemuan singkat namun hangat tersebut, Ning Ita menjelaskan peran strategis Kota Mojokerto di masa lalu sebagai pusat perdagangan penting Kerajaan Majapahit. Ia menyoroti peran vital Pelabuhan Canggu dan Sungai Brantas yang kala itu menjadi jalur utama perdagangan dan transportasi, menghubungkan pedalaman Jawa dengan dunia luar.
Baca juga: Ning Ita Minta Prameswari, PSC dan PMI Tetap Maksimal Layani Warga Meski Puasa
Tak hanya membahas sejarah, Ning Ita juga menyampaikan harapannya agar kerja sama budaya dapat terus berlanjut. “Saya berharap tahun depan Bhante bisa datang lagi ke Kota Mojokerto, untuk menikmati lebih banyak wisata sejarah dan budaya yang kami miliki,” tuturnya.
Melalui penerjemah, Bhante Luong Po, selaku kepala Wat Khanon sekaligus Ketua Pusat Budaya Wayang Kulit Besar Thailand mengungkapkan rasa terima kasih dan kekagumannya terhadap pelestarian budaya di Kota Mojokerto. Ia juga menyampaikan antusiasmenya untuk menjajaki kerja sama yang lebih erat ke depannya.
Baca juga: Pemkot Mojokerto Susun Grand Design dan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan
“Kami sangat senang. Jika ada kesempatan, kami ingin bekerja sama lebih lanjut,” ungkap Bhante Luong Po, yang juga terpukau dengan semangat pelestarian budaya di tengah kota yang kian modern ini.
Pertemuan ini menjadi langkah kecil namun signifikan dalam diplomasi budaya, yang tidak hanya memperkuat hubungan antarnegara, tetapi juga mempertegas peran seni tradisional sebagai bahasa universal yang menyatukan perbedaan. Dwi
Editor : Moch Ilham