SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Muda dan kaya tentu jadi impian semua orang. Di dunia saat ini ada sederet anak muda yang sudah dapat label miliarder dalam dolar AS, baik dari hasil usaha sendiri atau dari warisan keluarga. Namun, Forbes melansir, tahun ini untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, tidak ada miliarder hasil usaha sendiri di bawah usia 30 tahun dalam daftar Miliarder Muda Dunia 2024 versi Forbes. Hal ini jadi cerminan bahwa kita telah memasuki era "nepo baby" di mana banyak orang-orang kaya yang sebenarnya tak pernah berusaha sendiri Miliarder termuda di dunia saat ini adalah Livia Voigt yang berusia 19 tahun, yang masih kuliah.
Daftar miliarder termuda di dunia kembali dirilis Forbes pada 2025. Tercatat 21 orang berusia di bawah 30 tahun yang masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Namun, hanya dua di antara mereka yang berhasil meraih kekayaan melalui bisnis yang dirintis sendiri.
Baca juga: Ramadhan, Puasa, Mohon Ampunan Hingga Bikin Event
Melansir VNExpress, ada beberapa miliarder termuda di dunia yang berhasil merintis bisnis mereka sendiri.
Alexandr Wang. Pendiri dan CEO Scale AI, perusahaan yang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk berbagai industri. Wang memulai bisnisnya pada 2016 dan berhasil menarik investor terkemuka seperti Andreessen Horowitz dan Google.
Kemudian Edward Craven. Ia Pendiri dan CEO Stake, platform kasino online yang populer di Australia. Craven membangun Stake dari nol dan berhasil menjadi miliarder di usia muda.
***
Nama Alexandr Wang mengemuka belakangan ini. Pemicunya, akuisisi yang dilakukan Meta terhadap Scale AI, perusahaan penyedia data kecerdasan buatannya.
Wang diketahui merupakan sosok di belakang Scale AI. Tak hanya itu, Wang juga bukan sosok sembarangan.
Ia merupakan salah satu orang terkaya di dunia saat ini. Forbes mencatat kekayaannya tembus US$3,6 miliar atau Rp59,08 triliun (Kurs Rp16.411 per dolar AS). Ia merupakan salah satu orang muda terkaya di dunia saat ini. Lalu siapa sebenarnya Wang dan bagaimana ia bisa sehebat itu?
Mengutip berbagai sumber, salah satunya bbntimes, Wang adalah anak imigran China yang lahir pada 1997 di Los Alamos, New Mexico pada 1997 lalu.
Orang tuanya, fisikawan di Laboratorium Nasional Los Alamos. Latar belakang orang tua itulah kemudian menular terhadap diri Wang.
Wang memiliki kecerdasan dan bakat tinggi dalam bidang fisika, matematika dan pemrograman komputer.
Ia selalu unggul dalam pelajaran, termasuk dalam kompetisi matematika nasional. Bahkan, ia berhasil menempati peringkat 30 teratas dalam Olimpiade Matematika AS.
Ia juga menjadi finalis Olimpiade Komputasi AS pada 2012 dan 2013. Kecakapan intelektualnya juga membuatnya mendapatkan tempat di Tim Fisika AS pada 2014.
Tak hanya di bidang sains, Wang pada masa kecil juga memiliki kecintaan pada musik. Ia sudah senang bermain biola sejak usia 9 tahun. Ia juga memiliki minat tinggi pada filsafat, khususnya karya Friedrich Wilhelm Nietzsche, filsuf Jerman.
Minat dan bakat lengkap itulah yang membentuk kehidupan Wang, termasuk membawa perjalanan hidupnya ke dunia teknologi.
Perjalanan dimulai setelah ia lulus sekolah tingkat atas. Setelah menyelesaikan pendidikannya di level SMA, Wang memutuskan untuk libur setahun.
Waktu libur ia tak manfaatkan untuk leha-leha. Ia memilih pindah ke Silicon Valley untuk mencoba melamar kerja di perusahaan aset manajemen, Addepar.
Ia memang belum memiliki gelar apa-apa. Ia hanya memiliki keterampilan teknis yang diasah selama bertahun-tahun melalui pembelajaran mandiri dan pemrograman kompetitif.
Tapi, keterampilan itu membuat perekrut terkesan hingga akhirnya ia diterima kerja.
Di Addepar, Wang memperoleh pengalaman berharga dalam lingkungan teknologi yang bergerak cepat. Tetapi itu tak bertahan lama. Ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Namun, Wang hanya bertahan kuliah di MIT selama satu tahun. Setelah satu tahun, ia keluar.
Ia kemudian berpetualang ke Quora, perusahaan swasta yang beroperasi sebagai platform tanya jawab berbasis komunitas dengan menjadi programmer perangkat lunak.
Di Quora, Alexandr Wang bertemu Lucy Guo, seorang desainer produk. Pertemuan inilah yang kemudian menghasilkan kolaborasi bisnis besar.
Pada 2016, di usia 19 tahun, Alexandr Wang mendirikan Scale AI bersama Lucy Guo melalui program akselerator Y Combinator. Ia ingat saat itu masih sangat muda.
"Tetapi saya hanya berpikir, 'Ya, saya tahu cara membuat kode. Saya akan melakukannya,'" katanya seperti dikutip dari Forbes.
Ide untuk Scale AI muncul dari kesadaran Wang bahwa hambatan dalam pengembangan AI bukanlah algoritma atau daya komputasi, melainkan ketersediaan data berlabel berkualitas tinggi.
Saat di MIT, ia mengamati bahwa perusahaan kesulitan mengintegrasikan pembelajaran mesin ke dalam operasi mereka karena kurangnya infrastruktur data yang dapat diakses.
Keberhasilan awal perusahaan didorong oleh wawasan Wang bahwa "data adalah kode baru".
Pada tahun 2019, Scale AI meraih status unicorn dengan valuasi yang melampaui US$1 miliar, berkat investasi sebesar US$100 juta dari Founders Fund milik Peter Thiel.
Dua tahun kemudian, valuasi perusahaan melonjak hingga US$7,3 miliar. Lonjakan mengakibatkan Wang yang memiliki 15 persen saham menjadi miliarder di usia 24 tahun.
Prestasi itu menjadikannya miliarder termuda di dunia yang merintis usahanya sendiri saat itu.
***
Alexandr Wang menjadi sorotan publik usai dirinya bergabung dengan perusahasan milik Mark Zuckerberg yakni Meta. Pasalnya berkat Scale AI tersebut Wang bisa menjadi orang kaya. Usianya kini menginjak 28 tahun.
Wang mendirikan Scale AI, pada tahun 2016 untuk membantu perusahaan memanfaatkan data mentah mereka untuk AI dan pembelajaran mesin.
Baca juga: Imlek di China, Mudik Terbalik, Fenomena Global
Perusahaan yang berkantor pusat di California ini membantu sekitar 300 klien, termasuk General Motors dan Flexport, pada proyek-proyek seperti mengemudi otonom dan efisiensi rantai pasokan.
Wang adalah putra imigran China yang bekerja sebagai fisikawan di Laboratorium Nasional Los Alamos di New Mexico.
Ia sangat menyukai matematika dan. pemrograman komputer sejak kecil. Dia menempuh pendidikan di SMA Los Alamos, kemudian pindah ke Silicon Valley untuk menjadi software engineer di perusahaan manajemen Addepar.
Wang juga sempat bekerja untuk Quora sebagai programmer software. Pada usianya ke 19 Tahun, dia sempat kuliah di Institut Teknologi Massachusetts, tapi hanya sebentar dan memutuskan untuk mendirik Scale AI.
Kini ia dipercaya Mark Zuckerberg untuk mengembangkan Meta. Meta resmi berinvestasi di Scale AI dalam kesepakatan yang menilai startup tersebut menjadi USD 29 miliar dan merekrut CEO-nya yang baru berusia 27 tahun, Alexandr Wang. Wang akan memainkan peran penting dalam strategi kecerdasan buatan raksasa teknologi tersebut.
Meta akan mendapat 49% saham Scale AI senilai USD 14,3 miliar atau sekitar Rp 232 triliun.
"Kami akan memperdalam pekerjaan yang kami lakukan bersama dalam menghasilkan data untuk model AI dan Alexandr Wang akan bergabung dengan Meta untuk mengerjakan upaya superintelijen kami," kata Meta.
Forbes melansir, tahun ini untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, tidak ada miliarder hasil usaha sendiri di bawah usia 30 tahun dalam daftar Miliarder Muda Dunia 2024 versi Forbes. Hal ini jadi cerminan bahwa dunia telah memasuki era "nepo baby" di mana banyak orang-orang kaya yang sebenarnya tak pernah berusaha sendiri .
***
Salah satu miliarder termuda di dunia saat ini adalah Livia Voigt yang berusia 19 tahun, yang masih kuliah.
Remaja Brasil ini memiliki kekayaan sekitar US$1,1 miliar sebagai hasil dari kepemilikan saham minoritasnya di perusahaan peralatan listrik WEG, yang didirikan oleh mendiang kakeknya.
Menurut Forbes, ada Gustav Magnar Witzøe, 30 – US$4,2 triliun. Saat berusia 19 tahun, ayah Gustav Magnar Witzøe dari Norwegia memberinya hampir setengah kepemilikan saham dari perusahaan budidaya ikan milik keluarga, SalMar.
Pembudidaya salmon terbesar kedua di dunia yang mengekspor ke lebih dari 50 negara. New Zealand Herald melaporkan hal itu sebagai langkah untuk menghindari tagihan pajak warisan yang besar .
Gustav bekerja di perusahaan rintisan teknologi dan investasi properti sementara ayahnya terus mengawasi SalMar. Gustav juga sering tampil di karpet merah acara-acara bergengsi seperti Met Gala, dia juga kerap menggunakan ketampanannya untuk bekerja sebagai model untuk berbagai merek dan majalah.
Juga Michal Strnad, 31 – US$4,5 miliar Michal Strnad . Ia adalah pemilik dan CEO Czechoslovak Group, yang lebih dikenal sebagai CSG, yang diwarisi dari ayahnya pada 2018.
Reuters melansir, perusahaan tersebut merupakan salah satu produsen amunisi terbesar di UE, yang mengkhususkan diri pada senjata, truk dan kendaraan militer, serta radar. Perusahaan pembuat jam tangan Ceko PRIM juga berada di bawah naungannya. Juga ada Clemente Del Vecchio, 19 dan Luca Del Vecchio, 22 – masing-masing US$4,9 miliar.
Putra-putra mendiang pimpinan EssilorLuxottica, Leonardo Del Vecchio, Luca dan Clemente Del Vecchio ini masing-masing mewarisi 12,5 persen saham di perusahaan induk milik ayah mereka, yang merupakan perusahaan di balik merek kacamata hitam populer Ray-Ban. Selain meraup miliaran dolar dari perusahaan kacamata terbesar di dunia, kedua bersaudara yang bermarkas di Milan ini juga memiliki saham di perusahaan asuransi Generali, pengembang properti Covivio, serta bank Mediobanca dan UniCredit di Italia.
Ada pula Firoz Mistry, 27 dan Zahan Mistry, 25. Masing-masing US$5,1 miliar Kakak baradik Firoz dan Zahan Mistry, yang masing-masing memiliki kekayaan senilai US$5,1 miliar, memiliki kekayaan yang sangat besar berkat saham mereka di konglomerat Tata dan perusahaan konstruksi Shapoorji Pallonji Group, yang mereka warisi. Mereka tiba-tiba masuk dalam daftar orang terkaya pada 2022 ketika ayah mereka meninggal secara tragis dalam sebuah kecelakaan mobil, hanya tiga bulan setelah kematian kakek mereka yang berusia 93 tahun. Mereka merupakan pemegang saham perorangan terbesar Tata saat itu, menurut India Times. Pengusaha muda yang sempat tinggal di Irlandia itu kini tinggal di Mumbai, tempat kedua perusahaan itu berpusat. Ada juga John Collison, 33 – US$7,2 miliar. Pengusaha Irlandia John Collison adalah salah satu pendiri dan presiden Stripe, sebuah perusahaan yang memungkinkan bisnis dan individu menerima pembayaran online, yang didirikannya bersama saudaranya Patrick pada 2010. Pada tahun 2016, Collison menjadi miliarder termuda di dunia yang merintis usahanya sendiri.
Baca juga: Guru Madrasah Demo, Kesejahteraan Guru Belum Rampung
Selain Mark Mateschitz, 31 – US$39,6 miliar. Pewaris Red Bull, Mark Mateschitz, melesat ke puncak daftar miliarder muda terkaya pada 2022 ketika dia mewarisi 49 persen perusahaan tersebut setelah kematian pendirinya, Dietrich Mateschitz. Dengan Red Bull yang menghasilkan pendapatan sebesar US$11,6 miliar dan menjual 12,1 miliar kaleng di seluruh dunia tahun lalu.
Dan, tak mengherankan jika kekayaan bersih Mark melesat begitu tinggi. Kekayaannya kini diperkirakan mencapai US$39,6 miliar atau sekitar Rp616,88 triliun.
Pewaris kekayaan perusahaan farmasi Jerman, Boehringer Ingelheim.
Daftar miliarder termuda di dunia ini menunjukkan kekayaan dan keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh usia. Ini bisa menginspirasi para pengusaha muda kesuksesan umumnya diraih dengan kerja keras dan strategi bisnis yang tepat.
***
Menyimak kisah sukses pengusaha muda dunia, tampaknya pengusaha muda sukses umumnya memiliki karakter yang kuat, berani mengambil risiko, memiliki visi yang jelas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan.
Jadi, meskipun ada beberapa pengusaha muda yang mewarisi bisnis keluarga, banyak juga yang membuktikan bahwa dengan kerja keras, inovasi, dan karakter yang kuat, mereka bisa sukses membangun bisnis sendiri. Termasuk memiliki strategi bisnis yang jitu.
Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Williams Group Wealth Consultancy yang berkantor pusat di San Clemente, San Francisco, sebanyak 70% keluarga kaya Amerika kehilangan kekayaannya di generasi kedua dan meningkat menjadi 90% setelah bisnis keluarga turun ke generasi ketiga.
Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan meneruskan bisnis keluarga tidaklah mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh generasi penerus.
Salah satu tantangan yang dihadapi generasi bisnis saat ini adalah perubahan radikal akibat internet dan teknologi informasi. Di era digital, adopsi teknologi adalah sebuah kebutuhan.
Bagi pebisnis yang gagap teknologi atau justru menolaknya, hampir bisa dipastikan bisnis tersebut akan tenggelam dan digantikan.
Juga saya catat meneruskan bisnis keluarga membutuhkan banyak persiapan. Keilmuan tentang industri yang digeluti harus benar-benar dipahami. Begitu juga dengan manajemen bisnis keluarga.
Artinya, terlibat dalam sebuah bisnis keluarga sejak awal akan memberikan gambaran tentang bagaimana bisnis tersebut beroperasi dan bekerja. Dibuktikan, semakin dini terlibat, semakin jelas bayangan sukses yang akan didapatkan.
Dari daftar anak muda kaya raya dunia menunjukkan bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi oleh generasi muda lainnya dalam membangun bisnisnya sendiri atau meneruskan usaha orang tuanya.
Ke depan diharapkan lebih banyak lagi pengusaha muda yang mampu membangun bisnis mereka sendiri dan atau teruskan usaha orang tua untuk makin meraih kesuksesan. Semoga daftar miliarder termuda di dunia tahun depan akan dipenuhi dengan lebih banyak nama-nama anak muda .
Dari daftar anak muda kaya raya menunjukkan bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi oleh generasi muda lainnya dalam membangun bisnisnya sendiri atau meneruskan usaha orang tuanya.
Ke depan diharapkan lebih banyak lagi pengusaha muda yang mampu membangun bisnis mereka sendiri dan teruskan usaha orang tua untuk makin meraih kesuksesan. Semoga daftar miliarder termuda di dunia tahun depan terus dipenuhi dengan lebih banyak nama-nama anak muda . Termasuk di Indonesia. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Moch Ilham