SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Lebaran kurang 3 hari. Tapi suasana mulai terasa di berbagai tempat. Pusat perbelanjaan semakin ramai, orang-orang mulai mempersiapkan mudik, dan keluarga mulai merencanakan momen berkumpul bersama. Juga stasiun kereta, terminal bus dan bandara.
Di tengah berbagai persiapan tersebut, ada satu tradisi yang hampir selalu dilakukan saat Hari Raya Idulfitri, yaitu saling meminta dan memberi maaf. Kalimat "mohon maaf lahir dan batin" menjadi ungkapan yang sangat familier, baik ketika bersalaman secara langsung maupun melalui pesan singkat.
Dari tahun ke tahun, tradisi saling memaafkan saat Lebaran telah menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Indonesia. Pada momen ini, orang-orang berusaha memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang, menyelesaikan kesalahpahaman, atau sekadar menunjukkan niat baik untuk memulai kembali dengan hati yang lebih lapang.
Dalam Islam, memaafkan (al-'afwu) adalah akhlak mulia yang sangat dianjurkan. Ini menunjukkan ciri orang bertakwa, dan merupakan jalan mendapat ampunan Allah serta surga. Memaafkan berarti melewatkan, membebaskan, dan tidak mendendam. Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam berlapang dada, bahkan terhadap yang berbuat jahat.
Memaafkan adalah salah satu ciri orang bertakwa selain menahan amarah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 134.
Dan ada balasan Langsung dari Allah bagi orang yang memaafkan dan berdamai dijamin pahalanya oleh Allah, seperti dalam QS. Asy-Syura ayat 40.
Saya paham Rasulullah SAW bersabda bahwa memaafkan tidak mengurangi harga diri, justru menambah kemuliaan di sisi Allah.
Jadi memaafkan kesalahan orang lain menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Juga memaafkan menenangkan hati, menghilangkan dendam, dan memperkuat hubungan (ukhuwah).
Bahkan Islam melarang tidak bertegur sapa dengan saudara lebih dari tiga hari, yang menekankan pentingnya segera memaafkan.
Memaafkan bukan sekadar melupakan, melainkan melepaskan rasa benci dan berlapang dada, mencerminkan kejernihan hati dan kekuatan iman.
***
Saya diajarkan eyang yang berasal dari Magelang, memaafkan dalam budaya Jawa adalah laku spiritual dan sosial yang menekankan harmoni, kerendahan hati, dan penjernihan hati (nrima/lila). Tradisi ini diwujudkan melalui sungkeman (bersimpuh pada orang tua/pinisepuh) saat Idulfitri atau pernikahan, yang mencerminkan rasa hormat, bakti, dan permohonan ampunan yang tulus.
Jadi memaafkan bukan hanya sekadar ritual sosial.
Dalam psikologi pun, teman psikolog bilang memaafkan memiliki makna yang lebih dalam dan berkaitan dengan kesehatan emosional seseorang.
Secara psikologis, memaafkan dapat dipahami sebagai proses melepaskan perasaan marah, dendam, atau keinginan untuk membalas kesalahan orang lain. Proses ini tidak selalu mudah karena berkaitan dengan pengalaman emosional yang cukup kuat. Meskipun demikian, banyak penelitian menunjukkan bahwa kemampuan untuk memaafkan dapat membantu individu mencapai kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Tidak heran jika momen Lebaran sering dianggap sebagai waktu yang tepat untuk berdamai, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.
Dalam psikologi, memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan atau menganggap bahwa sesuatu yang menyakitkan tidak pernah terjadi. Sebaliknya, memaafkan merupakan proses emosional di mana seseorang secara sadar memilih untuk tidak terus-menerus mempertahankan kemarahan atau kebencian terhadap orang yang telah menyakitinya.
***
Kini, tradisi minta maaf lahir dan batin" di Indonesia berkembang menjadi budaya unik atau halalbihalal saat Idulfitri, yang menggabungkan kesucian spiritual dan perbaikan hubungan sosial berevolusi dari kunjungan fisik (silaturahmi) menjadi lebih fleksibel. Yaitu menggunakan media sosial dan pesan instan, namun tetap bertujuan sama: membersihkan diri dan mempererat hubungan.
Di era modern, tradisi ini beradaptasi melalui ucapan berbasis aplikasi pesan instan dan media sosial, yang mempermudah permintaan maaf kepada kerabat jauh tanpa menghilangkan esensi ketulusan.
Tradisi ini tidak lagi sekadar formalitas tahunan, melainkan menjadi momen rekonsiliasi yang efektif untuk menurunkan tingkat stres, menghilangkan dendam, dan memperkuat hubungan emosional antar sesama.
Tampaknya, meskipun berakar dari ajaran Islam, cara perayaannya penuh warna lokal yang menunjukkan dinamika budaya Indonesia dalam menghidupkan ajaran agama.
Meskipun cara penyampaiannya berkembang mengikuti zaman, intinya tetap pada usaha untuk kembali ke fitrah suci dengan melepaskan beban kesalahan kepada sesama.
Baginda Rasulullah Muhammad SAW selalu mengajarkan umatnya untuk memaafkan dan berbuat baik bahkan kepada yang berbuat jahat.
Umat Islam dianjurkan memaafkan saudaranya karena merupakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah untuk meraih surga, kemuliaan derajat, serta ketenangan hati. Memaafkan menjaga tali persaudaraan (ukhuwah), menghapus dendam, dan mendatangkan pahala tanpa batas langsung dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Asy-Syura ayat 40.
Apalagi Nabi Muhammad SAW dikenal sangat pemaaf, bahkan kepada orang yang menyakiti beliau, seperti dalam peristiwa di Thaif.
Dalam Islam, memaafkan saat mampu membalas adalah wujud tertinggi dari kedewasaan iman dan kejernihan hati.
Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin". Minal aidin wal faidzin berarti kembali suci dan menjadi orang yang menang. Selain itu, ucapan yang dianjurkan yakni "Taqaballahu minna wa minkum. Selamat berlebaran bersama orang tua, keluarga, saudara dan teman. ([email protected])
Editor : Moch Ilham