SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Kepercayaan di antara sesama profesi ternyata tak selalu terjaga. Dua driver ojek online (ojol) di Surabaya nekat mencuri handphone milik rekan seprofesi dan pengunjung warung kopi (warkop) yang tengah tertidur. Ironisnya, aksi tak terpuji ini mereka lakukan secara berulang di berbagai lokasi.
Dua pelaku yakni Dani (34), warga Tanah Kali Kedinding, dan Wahyu (21), warga Wonokromo, kini telah diamankan aparat Polsek Tenggilis Mejoyo. Keduanya diringkus di sebuah rumah di kawasan Jalan Ngagel, setelah penyidik menindaklanjuti laporan kehilangan dari korban.
Baca juga: Rumah Pensiunan PNS di Obok-obok Pencuri, Belasan Gram Perhiasan Senilai Rp30 Juta Raib
“Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, kami menangkap kedua pelaku di Jalan Ngagel,” ujar Kapolsek Tenggilis Mejoyo, AKP Prasetya Yana Wisesa, Kamis (7/8/2025).
Aksi mereka dilakukan dengan berkeliling naik motor, menyisir sejumlah titik di Surabaya seperti Jalan Panjang Jiwo, Bulak Banteng, hingga Wonokromo. Targetnya adalah ojol atau pengunjung warkop yang tertidur atau meninggalkan ponsel di atas meja tanpa pengawasan.
“Sasarannya spesifik kepada para driver ojek online dan pengunjung warkop yang ketiduran dan lengah meninggalkan handphonenya,” jelas Prasetya.
Baca juga: Polres Blitar dan Polsek Sanankulon Berhasil Tangkap Pelaku Pencurian Baut Rel Kereta Api
Dari pengakuan para pelaku, setidaknya sudah delapan lokasi menjadi tempat mereka melancarkan aksinya. Ponsel hasil curian kemudian dijual ke seorang penadah di kawasan Wonokromo, yang saat ini masih dalam pengejaran polisi.
“Setelah berhasil mencuri, mereka menjual hasil curiannya ke seorang penadah di Wonokromo yang saat ini sedang kami kejar,” tambahnya.
Di hadapan penyidik, Dani mengaku terpaksa mencuri karena penghasilan dari ojol semakin menurun. Ia mengaku ponsel-ponsel curian itu biasanya dijual seharga Rp300 ribu hingga Rp 500 ribu per unit.
Baca juga: Honorer Pemkot Blitar Curi Emas Karena Terdesak Kebutuhan
“Uangnya dibagi dua mas. (Alasan) mencuri karena untuk memenuhi kebutuhan,” ucap Dani lirih, menyesali perbuatannya.
Aksi ini menjadi tamparan keras bagi komunitas ojol di Surabaya. Di tengah situasi ekonomi yang sulit, kepercayaan antar rekan sejawat seharusnya menjadi kekuatan, bukan justru dijadikan celah untuk saling menjerumuskan. Ad
Editor : Moch Ilham