Produsen Kerupuk Trenggalek Sumringah, Cuaca Panas Percepat Penjemuran

surabayapagi.com
Ilustrasi. Berkah para produsen sedang menjemur kerupuk saat cuaca panas. SP/ TRG

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Para produsen kerupuk di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur mendulang berkah di saat cuaca panas. Pasalnya, di cuaca panas ini proses pengeringan bahan menjadi lebih cepat, sehingga produksinya pun ikut meningkat, meski belum diikuti dengan naiknya permintaan pasar.

“Kalau panas seperti ini jemur kerupuknya enak, cepat kering. Tapi saat ini juga lagi lumayan sepi, produksi tidak bisa ikut naik,” jela Imam Syafii (62), produsen kerupuk asal Dusun Jatisari, Desa Pogalan, Trenggalek, Senin (13/10/2025).

Baca juga: Pejabat Bea Cukai Diduga Ikut Runtuhkan UMKM

Menurut Imam, dalam sehari, bersama empat tenaga kerjanya mampu mengolah sekitar 60 kilogram adonan kerupuk berbahan dasar tepung tapioka dan terigu. Namun, keterbatasan lahan membuatnya harus mengandalkan oven rakitan sendiri untuk mempercepat proses pengeringan sebelum digoreng.

“Kendalanya saya tidak punya lahan luas buat menjemur kerupuk dalam jumlah besar. Jadi setiap kali mau menggoreng harus di-oven dulu supaya bagus hasilnya,” ucapnya.

Baca juga: Omzet Pengepul Rajungan di Probolinggo Melonjak 100 Persen Jelang Imlek

Imam memproduksi dua jenis kerupuk, yakni kerupuk matang dan kerupuk mentah jenis lempit. Produk buatannya dijual ke pedagang tetap di Pasar Subuh Trenggalek dengan harga Rp 80.000 per 5 kilogram dalam kondisi mentah.

Diketahui, oven berbahan bakar gas LPG yang digunakannya merupakan hasil kreativitas pribadi dengan kapasitas sekitar 15 papan atau 30 kilogram kerupuk sekali proses.

Baca juga: Proses Jemur Brem di Madiun Terhambat, Produksi Banyak Andalkan Oven

“Kalau musim hujan, sering tidak buat. Bisa tiga hari lebih baru kering, itupun kadang gagal dan terpaksa dibuang untuk pakan ayam,” tuturnya.

Sedangkan untuk pasar utama kerupuk buatannya masih di wilayah Trenggalek dan Panggul. Sementara untuk luar daerah, produknya baru merambah ke Tulungagung. “Bagaimanapun ini hanya usaha rumahan, belum seperti pabrik yang bisa produksi massal dan pengeringannya pakai oven besar,” kata Imam menutup percakapan. tr-01/dsy

Editor : Desy Ayu

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru