SURABAYAPAGI.com, Madiun - Mengantisipasi peralihan cuaca ke musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun, Jawa Timur, telah memastikan bahwa sistem peringatan dini bencana banjir atau Early Warning System (EWS) berfungsi normal.
Pemeriksaan rutin dilakukan untuk menjamin alat EWS dapat diandalkan oleh masyarakat untuk menghadapi potensi curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, sehingga informasi peringatan dini dapat tersampaikan dengan cepat kepada warga. Selain itu, masyarakat setempat juga dihimbau untuk tetap waspada dan berpartisipasi aktif dalam menjaga fasilitas peringatan dini ini.
Baca juga: BPBD Catat Puluhan Rumah Warga di Pamekasan Diterjang Hujan dan Angin Kencang
BPBD Kota Madiun telah mengidentifikasi tiga lokasi vital yang dilengkapi dengan sistem EWS untuk deteksi dini banjir. Dam Sono dan Jembatan Bok Malang dikelola langsung oleh BPBD Kota Madiun.
Sementara EWS di Jembatan Rejomulyo merupakan tanggung jawab BPBD Provinsi Jawa Timur. Koordinasi antara kedua instansi ini penting untuk memastikan cakupan peringatan yang optimal.
Baca juga: Pascabanjir, Akses Jalan dan Layanan Publik di Tulungagung Mulai Pulih Perlahan
"Untuk EWS di Rejomulyo dikelola oleh BPBD Provinsi Jawa Timur, sementara dua lainnya kami kelola langsung," jelas Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Madiun, Bambang Agung Hariyadi, Selasa (11/11/2025).
Pemeriksaan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga fungsionalitas EWS di Madiun. BPBD secara rutin melakukan pemantauan setiap bulan dan perawatan berkala setiap tiga bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk memastikan alat EWS tetap siaga dan dapat beroperasi dengan baik.
Baca juga: Diterjang Hujan Deras, BPBD Jember Catat 16 Titik di Kawasan Kota Terendam Banjir
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk aktif melapor jika menemukan tanda-tanda kejanggalan atau kerusakan pada alat EWS tersebut di lapangan. BPBD juga meminta warga di daerah rawan banjir untuk selalu siaga dan waspada terhadap curah hujan tinggi.
Pasalnya, musim hujan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Desember 2025 hingga Februari 2026. Kewaspadaan dini ini penting untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Sehingga, adanya kesiapsiagaan kolektif antara pemerintah dan masyarakat adalah fondasi kuat dalam menghadapi ancaman bencana. Dengan EWS yang berfungsi baik dan masyarakat yang siaga, risiko dapat diminimalisir. md-01/dsy
Editor : Desy Ayu