PBNU Bergolak, Dimana Sami'na Wa Atho'na-nya

surabayapagi.com
H. Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bergolak. KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya diminta mundur dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf anggap Rapat Harian Syuriah PBNU yang berhentikan dirinya tidak sah.

Baca juga: Atlet Berprestasi, Bonus dan Jaminan Hari Tuanya

Ia anggap Rapat Harian Syuriah PBNU tidak memiliki wewenang  mencopot jabatan pengurus harian termasuk dirinya. Hal itu sudah diatur dalam aturan dasar aturan rumah tangga (AD/ART) PBNU.

"Bahwa kalau dikatakan kemarin itu sebagai keputusan rapat syuriah, rapat harian syuriah yang punya konsekuensi akan memundurkan ketua umum, maka saya tandaskan bahwa rapat harian syuriah menurut konstitusi AD/ART tidak berwenang untuk memberhentikan ketua umum," kata Gus Yahya di Surabaya, Minggu (23/11/2025) dinihari.

KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan dirinya tidak akan mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU. Penegasan itu ia sampaikan usai munculnya Risalah Rapat Harian Syuriah PBNU yang memintanya untuk mundur.

"Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur. Karena saya mendapatkan amanah dari muktamar untuk lima tahun, pada muktamar ke-34 lalu," tambah Gus Yahya di Surabaya.

Gus Yahya akan menyelesaikan jabatan Ketum PBNU sesuai amanat yakni 5 tahun.

 

***

 

Khatib Aam Syuriah PBNU 2010-2015, kepada wartawan, Minggu (23/11/2025) mendorong agar Muktamar segera dilaksanakan. Namun, pihak yang berkonflik ia sarankan tak mencalonkan diri.

"Muktamar harus segera dilaksanakan dengan catatan ketiganya tidak boleh mencalonkan diri atau dicalonkan, karena mereka telah gagal menakhodai NU dengan benar, bahkan nyaris membawa NU ke jurang perpecahan," katanya.

"Diakui atau tidak, situasi PBNU yang kisruh sekarang ini adalah buntut dari drama kolosal Muktamar Alun-alun Jombang tahun 2015. Di antara tokoh pemain lapangannya yang utama pada waktu itu adalah orang yang sekarang menjadi Ketum dan Sekjen PBNU," tambah Malik Madaniy .

"Rupanya persekutuan keduanya tidak ikhlas untuk membesarkan NU. Perjalanan waktu membuktikan hal itu," lanjutnya.

Dia juga menyoroti beberapa masalahnya. Salah satunya terkait kepentingan pribadi yang memicu perpecahan.

 

***

 

Sebelumnya, beredar risalah Rapat Harian Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berisi keputusan Rais Aam dan Wakil Rais Aam PBNU yang meminta Yahya Cholil Staquf mundur dari jabatan Ketua Umum (Ketum) PBNU. Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf pun buka suara.

"Musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam memutuskan, KH Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU," tulis poin keputusan dalam risalah Rapat Harian Syuriah PBNU tersebut, akhir pekan lalu.

Baca juga: MBG, Siapa yang Berani Kritik

"Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama," sambungnya. Risalah rapat ini ditandatangani oleh pimpinan rapat sekaligus Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.

Rapat yang dihadiri 37 dari 53 pengurus Syuriyah itu berlangsung selama tiga jam dan menghasilkan sejumlah keputusan penting terkait dinamika internal organisasi.

Salah satu sorotan utama adalah pengundangan narasumber dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme Internasional.

Syuriyah menilai tindakan tersebut tidak sejalan dengan Maqashidul Qanun Asasi NU serta arah perjuangan organisasi dalam membela kemanusiaan.

"Berdasarkan musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Ketua Rai Aam memutuskan KH. Yahya Cholil Staquf mundur sebagai Ketua Umum PBNU.

Ada apa Gus Yahya tidak mentaati keputusan yang diambil

Rais Aam dan dua Wakil Ketua Rai Aam.

Apa ia sudah tidak menghargai kedudukan pimpinan tertinggi di PBNU adalah  Rais 'Aam yang membawahi Ketua Umum. Dengan tidak mengikuti ketetapan Syuriah,  terkesan Ketua Umum Gus Yahya, tidak sami'na wa atho'na?

 

***

Baca juga: Menukil Gaya Kepemimpinan Otoriter Soeharto

 

Saya tahu kesan sami'na wa atho'na terhadap para kyai itu menjadi sangat penting ketika seorang muslim dihadapkan pada satu pilihan.

Pertanyaannya, dengan tidak mau mundur sebagai Ketua umum Tanfidziyah, Gus Yahya makin menunjukan NU  mempunyai kekuatan politik yang kuat. Karakter NU yang struktural dan kultural ditunjukan, sehingga Gus Yahya bisa merasa tak perlu sami'na wa atho'na pada kiai di Rais Aam.

Dari literasi Islam ungkapan "sami'na wa atho'na" berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti "kami mendengar dan kami taat".

 Frasa ini merupakan pernyataan ketaatan dan kepatuhan yang mendalam terhadap perintah Allah SWT dan ajaran-ajaran Islam. Bagi seorang muslim, lebih dari sekadar kata-kata, ungkapan ini mencerminkan sikap dan komitmen seorang Muslim untuk mendengarkan dengan seksama dan kemudian melaksanakan apa yang telah didengar dengan penuh ketaatan dari kiai.

Dalam konteks yang lebih luas, "sami'na wa atho'na" mewakili sebuah konsep penting dalam Islam yang menekankan pentingnya mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, serta mengimplementasikan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari tanpa keraguan atau penolakan. Ini bukan hanya tentang mendengar secara fisik, tetapi juga memahami dan menginternalisasi pesan yang disampaikan.

Ungkapan ini sering diucapkan oleh umat Muslim sebagai bentuk pengakuan dan penegasan atas kesediaan mereka untuk tunduk dan patuh kepada Allah SWT.  Dalam kultur NU, ungkapan ini kabarnya menjadi semacam ikrar atau janji untuk selalu berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan sepenuh hati.

Dalam sejarah Islam, ungkapan ini sering digunakan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kepatuhan mereka terhadap ajaran yang disampaikan. Misalnya, ketika Nabi menyampaikan wahyu atau memberikan perintah, para sahabat seringkali merespons dengan "sami'na wa atho'na". Ini menunjukkan kesiapan mereka untuk mendengar dan mematuhi tanpa ragu.

Seiring berjalannya waktu, ungkapan ini menjadi bagian integral dari tradisi dan praktik keagamaan umat Islam hingga di Indonesia. Ia tidak hanya diucapkan dalam konteks ibadah formal, tetapi juga menjadi prinsip hidup yang diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Masya Allah. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru