Pemerintah AS Serukan Warganya Segera Tinggalkan Kawasan Timur Tengah
Baca juga: Aksi Iran Murni Bela diri
SURABAYAPAGI.COM, Tehran - Militer negara-negara Teluk sejauh ini fokus pada pencegatan ratusan rudal dan drone yang diluncurkan oleh Iran setelah serangan AS-Israel menewaskan pemimpin tertingginya.
Negara-negara Teluk bertekad untuk membela diri terhadap serangan Iran, termasuk dengan "membalas agresi" jika perlu. Hal ini disampaikan setelah Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengadakan pertemuan melalui tautan video untuk merumuskan respons terpadu.
Para menteri luar negeri dari enam negara GCC -- Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait, yang semuanya telah mengalami serangan balasan Iran -- "meninjau kerusakan luas yang diakibatkan oleh serangan Iran yang berbahaya" dan membahas langkah-langkah untuk memulihkan stabilitas di kawasan tersebut.
Negara-negara Teluk tersebut "akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas mereka serta untuk melindungi wilayah, warga negara, dan penduduk mereka, termasuk opsi untuk merespons agresi," demikian pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan tersebut, dilansir Al Arabiya dan AFP, Selasa (3/3/2026).
Pernyataan itu juga menyerukan "penghentian segera serangan-serangan ini," dan menambahkan bahwa stabilitas "kawasan Teluk bukan hanya masalah regional, tetapi pilar fundamental stabilitas ekonomi global."
Tembakkan Rudal ke Seluruh kawasan Teluk
Iran menembakkan rudal dan drone ke berbagai target di seluruh kawasan Teluk setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak akhir Februari 2026, Iran melancarkan kampanye serangan balasan terhadap posisi militer dan fasilitas strategis di wilayah Teluk, termasuk ke Uni Emirat Arab (UEA). Otoritas pertahanan UEA mengatakan telah mencegat ratusan rudal dan drone yang diluncurkan Iran, namun serpihan dan beberapa objek yang tembus pertahanan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa sipil.
Kementerian pertahanan UEA menyatakan hingga ratusan rudal dan drone telah ditembaki, dengan sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. Meski demikian, puing-puing serpihan masih sempat menyebabkan kerusakan di area sipil di Dubai dan Abu Dhabi, termasuk di dekat fasilitas publik seperti bandara dan gedung terkenal.
(3/3/2026), dalam perkembangan terkait, Pangkalan Pertahanan Udara Khatam Al-Anbiya Iran mengatakan pada hari Senin (2/3), bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 canggih AS di dekat perbatasan dengan Kuwait. Ini penembakan jatuh jet tempur Amerika Serikat pertama dalam 27 tahun terakhir.
Warga AS Suruh Tinggalkan Timur Tengah
Pemerintah Amerika Serikat menyerukan warga Amerika untuk segera meninggalkan kawasan Timur Tengah mulai dari Mesir ke arah timur, karena kekhawatiran keselamatan setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Dilansir kantor berita AFP, Selasa (3/3/2026), Departemen Luar Negeri "menyerukan warga Amerika untuk SEGERA MENINGGALKAN negara-negara di bawah ini menggunakan transportasi komersial yang tersedia, karena risiko keselamatan yang serius," tulis Mora Namdar, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan konsuler, dalam unggahan di media sosial X, yang mencantumkan 14 negara.
Untuk saat ini, pemerintah Amerika Serikat meminta warga Amerika untuk pergi secara komersial, meskipun penerbangan telah sangat terganggu di sebagian besar wilayah tersebut, dan belum mengatur evakuasi sendiri
Badan intelijen Amerika Serikat memprediksi Iran akan menyerang langsung negeri Paman Sam, menyusul serangan bersama AS dan Israel ke negara Timur Tengah itu.
Baca juga: AS dan Israel Lanjut Cyber Warfare
Laporan penilaian ancaman 28 Februari yang dibuat Kantor Intelijen dan Analisis Kementerian Keamanan Dalam Negeri (Department Homeland Security/DHS) menyebut Iran dan proksinya "kemungkinan" menimbulkan ancaman serangan yang menargetkan AS
Investor Berburu Komoditas Emas
Kondisi Timur Tengah yang memanas membuat investor mulai berburu komoditas emas. Mereka mulai mengalihkan portofolionya ke emas sebagai aset safe haven.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer mengatakan emas bakal jadi komoditas primadona bagi investor di tengah konflik Timur Tengah.
"Emas kemungkinan akan lebih diminati dari biasanya ketika pasar dibuka pada hari Senin. Mengingat risiko terkait berapa lama konflik dapat berlangsung, negara mana lagi yang dapat terseret, dan kekhawatiran inflasi, emas diperkirakan akan mengambil perannya sebagai aset safe haven pilihan," kata Waterer dikutip dari Reuters, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, pasar saham dan aset berisiko lainnya kemungkinan mengalami aksi jual besar-besaran pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. "Investor akan mencari tempat terbaik untuk menempatkan dana mereka, dan emas kemungkinan akan berada di urutan teratas daftar tersebut," tegas Waterer.
Qatar Mulai Serang
Baca juga: Trump tak Singgung Reza Pahlavi
Kementerian Pertahanan Qatar menyebut telah menembak jatuh dua pesawat pembom Iran dan menghentikan produksi LNG. Pertama kalinya serangan dilancarkan Qatar sejak serangan balasan Teheran ke pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah.
Dilansir AFP, Selasa (3/3/2026), serangan itu dilakukan ketika Teheran memperluas serangannya untuk menyerang fasilitas minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam krisis Teluk yang meningkat tajam.
"Angkatan Udara Emir Qatar berhasil menembak jatuh dua pesawat (Su-24) yang datang dari Republik Islam Iran," kata kementerian pertahanan, tanpa menyebutkan awak pesawat tersebut.
Angkatan udara Qatar itu menembak jatuh dua pesawat pembom Sukhoi Su-24. Serangan balasan Iran telah menghantam pelabuhan, bandara, bangunan tempat tinggal dan hotel sekaligus situs militer di seluruh wilayah kaya minyak dan sekutu setia AS.
Tetapi ketika serangan meluas ke fasilitas energi, QatarEnergy, salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, menangguhkan produksi karena serangan drone di dua lokasinya.
Harga gas alam Eropa melonjak lebih dari 50 persen, sedangkan harga minyak naik hampir sembilan persen karena kekhawatiran akan gangguan pasokan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tak akan tinggal diam setelah serangan AS dan Israel menyasar sebuah sekolah dan rumah sakit di Teheran. Pezeshkian menekankan dunia harus mengutuk serangan tersebut.
"Serangan terhadap rumah sakit menyerang kehidupan itu sendiri. Serangan terhadap sekolah menargetkan masa depan suatu bangsa... Dunia harus mengutuknya," tulisnya di X dilansir AFP, Selasa (3/3/2026).
"Iran tidak akan tinggal diam atau menyerah pada kejahatan ini," tambahnya. n afp/rtr/rr/rmc
Editor : Moch Ilham