SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sebagai upaya menekankan pelestarian, regenerasi, dan keberlanjutan budaya agar tetap hidup dan berkembang secara global, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong penguatan ekosistem kesenian Reyog pascapengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Pasalnya, Gubernur Khofifah menilai Reyog Ponorogo tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga representasi nilai, filosofi, dan identitas bangsa yang memiliki peran strategis dalam membangun karakter masyarakat.
Baca juga: Dinilai Tak Sinkron dengan Pusat, Saifudin Zuhri Desak Khofifah Cabut SE WFH ASN Hari Rabu
“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat, tentang keberanian, kebenaran, serta keberagaman suku dan agama dapat dirajut dalam harmoni budaya. Reyog membawa napas keberanian untuk memperjuangkan kebenaran. Di dalamnya ada substansi strategis untuk membangun karakter dan kebijakan bangsa,” ujar Khofifah, Rabu (15/04/2025).
Ia menambahkan, pengakuan Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding pada akhir 2024 harus diikuti langkah konkret, terutama dalam penguatan ekosistem seni dan keberlanjutannya.
Baca juga: Sambut Event Gandrung Sewu 2025 Banyuwangi, KAI Daop 7 Madiun Bagikan Diskon Promo Tiket 10 Persen
Selain itu, salah satu perhatian penting dalam proses tersebut adalah aspek kesejahteraan satwa (animal welfare), sehingga pertunjukan Reyog tidak lagi menggunakan material dari satwa dilindungi.
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur Evy Afianasari menyampaikan bahwa pihaknya terus memperkuat ekosistem Reyog melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan komunitas seni.
Baca juga: Atraksi Budaya Hingga Kolaborasi Musik Lintas Negara Meriahkan FJTT ke-29
Perwakilan Tim Reyog Kyai Lodra, Joko Winarko, mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pelestarian seni tradisi tersebut. “Pertemuan ini menjadi momentum bagi kami untuk mempresentasikan hasil karantina latihan selama dua bulan. Keikutsertaan kami di FRNP bukan sekadar kompetisi, tetapi bentuk kebanggaan sekaligus komitmen generasi muda dalam melestarikan Reyog,” ujarnya. sb-02/dsy
Editor : Redaksi