SURABAYAPAGI.com, Jombang - Melihat fenomena cuaca yang tidak menentu melanda Kabupaten Jombang sepanjang awal musim kemarau 2026. Hal itu tentu juga membuat para petani tembakau merasa was-was. Pasalnya akibat fenomena anomali cuaca tersebut dapat mengganggu kualitas dan hasil panen tembakau, komoditas unggulan daerah tersebut.
Oleh karenanya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kabupaten Jombang melalui Dinas Pertanian setempat akan menggelar pembina komoditas tembakau, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang terus mengawal sisi budidaya dengan berkolaborasi bersama Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).
Baca juga: Harga Cabai Rawit di Pasar Jombang Tembus hingga Rp100.000 per Kg Pasca Idul Adha
Lebih lanjut, Rony menambahkan, jika kondisi cuaca benar-benar normal, luas tanam tembakau di Jombang berpotensi kembali ke angka ideal yaitu 6.000 hingga 6.500 hektare. Disatu sisi, Kabupaten Jombang memiliki dua varietas tembakau unggul yang telah dilepas secara nasional, yakni Jinten Pakpie 1 dan tembakau jenis Manilo.
Baca juga: Sejumlah Harga Bapok di Jombang Alami Kenaikan Jelang Idul Adha 2026
"Kami berharap musim tanam tembakau 2026 cuacanya normal dan luasan lahan bisa kembali normal. Kami berharap Jombang bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri untuk meningkatkan produksi tembakau," tegas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Moch Rony, Rabu (03/06/2026).
Selain pendampingan teknis, sektor pembenihan tembakau di Jombang juga didukung oleh alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH CHT) seperti tahun-tahun sebelumnya. Dana tersebut dialokasikan untuk penyediaan pupuk non subsidi, alat perajang tembakau, serta pembangunan rumah jamuran untuk proses pengeringan guna meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen.
Baca juga: Imbas Pakan Mahal, Peternak di Jombang Terancam Merugi Harga Telur Terjun Bebas
Menyikapi prediksi BMKG yang semula menyebut akan terjadi kemarau panjang namun realitas di lapangan masih turun hujan, Dinas Pertanian memberikan sejumlah rekomendasi teknis. Pertama, saluran drainase di lahan dibuat lebih dalam agar air tidak menggenangi akar. Kedua, tanam tembakau dengan sistem single row (satu baris), jangan double row. Sehingga, dengan langkah adaptif ini, diharapkan produksi tembakau Jombang tetap terjaga meskipun ancaman anomali cuaca masih membayangi para petani. jb-02/dsy
Editor : Redaksi