by Adi Prayitno
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI)
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Saya menilai alasan pertama berkaitan dengan PDIP kalah di Pilpres 2024.
Pertama, karena PDIP kalah pilpres dan tak resmi gabung pemerintah. Makanya dikeroyok partai koalisi pemerintah. Buktinya waktu PDIP menang Pilpres 2014 dan 2019, tak ada yang berani nyerang. Begitulah kalau kalah pilpres, macam yatim piatu tak ada yang mau berkawan dan bahkan suka dikucilkan.
Slasan kedua berkaitan dengan demo yang belakangan terjadi di sejumlah daerah. Tudingan PDIP sebagai dalang, yang memicu serangan koalisi pemerintah terhadap partai berlambang banteng tersebut.
Kedua, sepertinya karena PDIP dituding dalang demo. Terlepas benar atau tidak, terlanjur sudah jadi konsumsi umum soal tuduhan itu. Karenanya, partai koalisi pemerintah minta PDIP tegas, mau jadi kawan atau lawan.
Baca juga: PDIP Minta 41 Pejabat Intervensi Kelola MBG, Diperiksa
Artinya, kalau mau jadi kawan harus setia dalam suka dan duka, jangan giliran pemerintah negatif PDIP ikutan menggebuk. PDIP membantah dan balik menuding partai koalisi pemerintah cari muka untuk incar posisi wapres 2029.
Terlepas dari dua alasan itu, saya menilai sebetulnya partai koalisi pemerintah bisa saja langsung menjadikan PDIP sebagai oposisi. Menurutnya, tidak perlu ada drama-drama seperti yang terjadi belakangan.
Baca juga: Diharapkan PDIP Oposisi 100 Persen
Jadi, terlapas dari bantah-bantahan itu, mestinya partai koalisi pemerintah harus jadikan PDIP sebagai oposisi.
Tak usah nunggu PDIP hitam putih sikapnya. Sebagai kekuatan mayoritas, partai koalisi harus vonis posisi PDIP sebagai oposisi. Titik. Selesai urusan, kalau memang manuver PDIP membahayakan, aneh-aneh, tinggal dilawan. Toh PDIP cuma sendirian. n dna
Editor : Redaksi