BPS Jatim: Inflasi Juni 2026 Naik 0,30 Persen, Dipicu Bensin dan Tiket Pesawat

Reporter : Arlana Chandra Wijaya

SurabayaPagi, Surabaya - Pada Juni 2026, Provinsi Jawa Timur kembali mencatat inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat inflasi secara bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,30 persen, sehingga inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,74 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) berada di level 3,36 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati menjelaskan inflasi Juni dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi, meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur sekolah, hingga dinamika harga sejumlah komoditas pangan.

Baca juga: Ekspor Jatim Turun 2,92 Persen, Impor Melesat 14,36 Persen hingga Mei 2026

"Kenaikan harga pada kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulan ini, terutama akibat penyesuaian harga bensin dan naiknya tarif angkutan udara," ujarnya, Kamis (2/7/2026). 

BPS mencatat, mulai 10 Juni 2026 PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Di saat yang sama, masa libur sekolah mendorong meningkatnya permintaan perjalanan, khususnya penerbangan domestik, sehingga harga tiket pesawat ikut terkerek.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi mencapai 2,45 persen dan memberikan andil 0,31 persen terhadap inflasi Juni.

Secara komoditas, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar setelah mengalami kenaikan harga sebesar 7,31 persen dengan andil 0,17 persen. Disusul angkutan udara yang mengalami inflasi 9,47 persen dengan andil 0,11 persen.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada bawang merah, bawang putih, beras, daging sapi, wortel, serta emas perhiasan.

Di sisi lain, inflasi tertahan oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar setelah harganya turun 6,31 persen dengan andil negatif 0,11 persen.

Penurunan harga juga terjadi pada cabai rawit, sawi hijau, telur ayam ras, udang basah, cabai merah, dan bayam.

Menurut BPS, melimpahnya pasokan hasil panen hortikultura menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga beberapa komoditas pangan.

Baca juga: BPS Catatan Pendataan Sensus Ekonomi di Kota Madiun Sasar 75.308 Unit

Selain itu, stok daging ayam dan telur ayam ras yang melimpah di tengah permintaan yang menurun turut mendorong terjadinya deflasi pada kedua komoditas tersebut.

Sebaliknya, kenaikan harga bawang merah, bawang putih, beras, dan daging sapi dipengaruhi terbatasnya pasokan di sejumlah daerah, penyesuaian harga di tingkat produsen, serta meningkatnya biaya distribusi.

Secara wilayah, seluruh kabupaten dan kota yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur mengalami inflasi bulanan.

Kota Surabaya mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,46 persen, sedangkan Kabupaten Sumenep menjadi yang terendah dengan inflasi 0,01 persen.

Sementara secara tahunan, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep sebesar 4,48 persen, sedangkan yang terendah berada di Kabupaten Tulungagung sebesar 2,57 persen.

Baca juga: Optimalkan Susun Strategi Pembangunan, Pemkab Lumajang Andalkan Data BPS

Untuk inflasi tahun kalender hingga Juni 2026, seluruh daerah IHK di Jawa Timur juga mengalami inflasi.

Kota Surabaya mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,18 persen, sedangkan Banyuwangi menjadi yang terendah dengan 1,14 persen.

BPS Jawa Timur menyimpulkan, inflasi Juni 2026 masih didominasi oleh kenaikan biaya transportasi akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan meningkatnya permintaan perjalanan selama musim libur sekolah.

Sementara itu, stabilnya pasokan sejumlah komoditas pangan berhasil menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru