SURABAYAPAGI.com, Situbondo - Sebagai langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan asli daerah atau PAD, Pemerintah Situbondo, tengah memaksimalkan penarikan pajak restoran dan hotel melalui alat perekaman transaksi elektronik (tax mapper) dan sistem pemungutan pajak secara mandiri (self assessment). Dimana, nantinya, setiap bulan pemilik restoran maupun hotel menggunakan tax mapper maupun self assessment melaporkan pajaknya ke Bapenda.
"Pemilik restoran maupun hotel sebagai wajib pajak setiap bulannya melaporkan kepada kami menggunakan alat tersebut dan mereka menghitung sendiri banyaknya pajak yang harus disetor," jelas Pelaksana Tugas Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Situbondo Imam Suhaidi, Jumat (17/07/2026).
Baca juga: Lewat Pasar Murah, Pemkab Situbondo Fasilitasi Petani Jual Hasil Panen
Sementara itu, terkait pajak Restoran Utama Raya di Kecamatan Banyuglugur, yang menyetor pajak sekitar Rp115 juta pada 2025, kata Imam, saat ini terus dievaluasi sebagai upaya optimalisasi peningkatan PAD, termasuk juga restoran lainnya di Situbondo. Bila dibandingkan dengan pembayaran pajak Restoran Mie Gacoan Situbondo, yang mencapai Rp404 juta pada 2025 atau lebih tinggi dari Restoran Utama Raya, dikarenakan memang Mie Gacoan ramai pengunjung.
Baca juga: Upayakan Lindungi Hak Anak, Pemkab Situbondo Percepat Cakupan KIA
"Kalau di Mie Gacoan itu, pengunjung pasti datang membeli, dan di restoran tersebut juga melayani pembelian secara daring, sedangkan Utama Raya, banyak pengunjung yang datang membawa bekal sendiri. Kadang mereka hanya singgah dan membawa bekal sendiri," kata Imam menambahkan.
Baca juga: Tanggapi Aksi Balap Liar, Pemkab Situbondo Bakal Sanksi Tegas Pelajar yang Terlibat
Meski demikian, petugas Bapenda setempat akan terus melakukan evaluasi dan mengoptimalkan penggunaan alat perekaman transaksi elektronik tersebut dalam meningkatkan PAD di daerah itu. "Pendapatan asli daerah pada tahun 2025 terealisasi mencapai lebih dari Rp320 miliar atau melampaui dari target yang ditetapkan sebesar Rp302 miliar," kata Imam. st-01/dsy
Editor : Redaksi