Berbagai Kebijakan Prioritas Presiden akan Dipacu 

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.com – Pemerintah terus memperkuat fondasi perekonomian nasional di tengah tingginya ketidakpastian global saat ini.

Langkah ini diiringi dengan upaya percepatan pelaksanaan berbagai kebijakan prioritas Presiden .

Baca juga: Solar Nonsubsidi untuk Nelayan Rp 15.000, Disebar ke Sejumlah Titik

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan tujuan utama dari serangkaian strategi tersebut. Pemerintah bertekad menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan menguntungkan masyarakat.

“Pemerintah terus memastikan momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga melalui penguatan fundamental ekonomi dan percepatan kebijakan prioritas. Berbagai langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat investasi, serta menciptakan sumber pertumbuhan baru,” ungkap Haryo pada keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).

Haryo menilai arah kebijakan ini sangat penting di tengah prospek ekonomi global yang berisiko. Saat ini dunia masih dibayangi ancaman geopolitik, krisis energi, masalah perdagangan, hingga pembiayaan. Namun di sisi lain, ekonomi domestik Indonesia justru tetap tumbuh kuat sebesar 5,45 persen pada Semester I-2026.

Baca juga: 12 Konglomerat AS Percaya, Iklim Bisnis di RI Terus Membaik

Tingkat inflasi nasional juga berhasil dijaga tetap stabil pada angka 2,88 persen. Sementara itu, realisasi investasi sukses menembus Rp1.010,6 triliun atau mencetak rekor pertumbuhan 7,2 persen secara tahunan.

Dalam pelaksanaannya, proses hilirisasi dan penguatan rantai pasok nasional terus dipercepat. Hingga 2026, pemerintah telah melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada 26 proyek hilirisasi.

Baca juga: Menkeu Nyatakan Fundamental Perekonomian Masih 'Bagus'

Proyek ini mencakup pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, garam industri, alumina menjadi aluminium, hingga waste to energy.

Penguatan pengelolaan sumber daya alam turut dilakukan melalui pengembangan Bank Emas dan optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE). Bank Emas kelolaan Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) diketahui telah menampung 153 ton emas. Nilai kelolaan dari program tersebut diperkirakan mencapai Rp360 triliun atau sekitar USD 20 miliar. ec, he

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru