Waspadai Potensi Konflik Akibat Kesenjangan Sosial

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Sebagai sebuah bangsa, Indonesia masih dalam proses menjadi satu, meskipun ‘proyek’ kebangsaan sudah dicanangkan sejak 1928. Bahasa dan Tanah Air memang sudah bisa dipersatukan, tetapi tampaknya belum untuk menjadi bangsa yang satu. Sehari setelah kemerdekaan, bangsa Indonesia melalui konsensus sepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Pancasila merupakan titik temu yang dapat mempersatukan berbagai golongan dan aliran yang ada di Indonesia. Maklum saja, Indonesia terdiri dari beragam suku, etnis, agama, dan daerah. Kita sepakat bahwa dalam keanekaragaman itu dipersatukan di bawah ideologi Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, sasanti kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa kuno, yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Kalimat aslinya adalah “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangarwa”. Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antar umat Hindu Siwa dengan umat Budha. Bhineka Tunggal Ika memiliki makna sebagai berikut: walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air. Dipersatukan dengan bendera, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa, dan yang sama lainnya. Para bapak pendiri bangsa menyadari bahwa kita adalah bangsa yang bhinneka, bangsa yang majemuk, heterogen, dan plural. Meski kita bangsa yang bhinneka, kita mesti bersatu. Oleh karena itu, pada 28 Oktober 1928, mengikrarkan Sumpah Pemuda. Pada momen tersebut, diikrarkan bahwa kita bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia. Ketika kita mencapai kemerdekaan, kita sepakat untuk membentuk NKRI yang berdemokrasi serta berideologi Pancasila. Sudah menjadi konsensus nasional bahwa Pancasila dan NKRI adalah final. Sebagai masyarakat yang majemuk atau bhinneka, potensi konflik relatif tinggi. Hal ini karena secara horizontal, pada masyarakat majemuk ditandai dengan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, adat, dan perbedaan kedaerahan. Sedangkan secara vertikal terdapat perbedaan yang mencolok antara lapisan atas dengan lapisan bawah. Kondisi masyarakat yang demikian akan memudahkan terjadinya konflik antar etnis, konflik atas nama agama, dan kecemburuan sosial yang disebabkan adanya kesenjangan yang cukup tajam antara golongan kaya dan miskin. Konflik disebabkan oleh faktor ras, bahasa, daerah, agama, dan adat istiadat atau tradisi. Dalam sebuah negara yang masyarakatnya majemuk seperti Indonesia, pertentangan akan selalu muncul dan sulit bagi kita untuk menghindari hal tersebut. Dengan kata lain, kemajemukan harus diterima sebagai sebuah kenyataan yang disertai dengan sikap yang positif. Bertolak dari sikap inilah pertentangan yang muncul dalam masyarakat dapat dikelola dengan baik.
Tag :

Berita Terbaru

SIG Pertahankan Kinerja Positif di 2025 Lewat Transformasi dan Efisiensi

SIG Pertahankan Kinerja Positif di 2025 Lewat Transformasi dan Efisiensi

Rabu, 01 Apr 2026 18:41 WIB

Rabu, 01 Apr 2026 18:41 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) berhasil menjaga kinerja keuangan tetap positif sepanjang tahun 2025 di tengah tekanan i…

Dukung WFH Setiap Jumat, Ketua Komisi A: Harus Dijalankan Dengan Sistem Monitoring 

Dukung WFH Setiap Jumat, Ketua Komisi A: Harus Dijalankan Dengan Sistem Monitoring 

Rabu, 01 Apr 2026 18:37 WIB

Rabu, 01 Apr 2026 18:37 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan langkah antisipatif menyusul kebijakan Work From Home (WFH) setiap Jumat bagi…

Konflik Global Berdampak ke Sawah, HKTI Jatim Dorong Transformasi Energi Pertanian

Konflik Global Berdampak ke Sawah, HKTI Jatim Dorong Transformasi Energi Pertanian

Rabu, 01 Apr 2026 18:33 WIB

Rabu, 01 Apr 2026 18:33 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Dampak konflik global mulai dirasakan hingga ke sektor pertanian di daerah. Ketidakpastian pasokan energi, khususnya bahan bakar m…

Satpolairud Gresik Evakuasi Mayat Lansia yang Ditemukan Mengapung di Dermaga Petro

Satpolairud Gresik Evakuasi Mayat Lansia yang Ditemukan Mengapung di Dermaga Petro

Rabu, 01 Apr 2026 18:33 WIB

Rabu, 01 Apr 2026 18:33 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik – Petugas dari Satpolairud Polres Gresik mengevakuasi sesosok jasad pria lanjut usia yang ditemukan mengapung di area bawah dermaga P…

Dinilai Tak Sinkron dengan Pusat, Saifudin Zuhri Desak Khofifah Cabut SE WFH ASN Hari Rabu

Dinilai Tak Sinkron dengan Pusat, Saifudin Zuhri Desak Khofifah Cabut SE WFH ASN Hari Rabu

Rabu, 01 Apr 2026 18:22 WIB

Rabu, 01 Apr 2026 18:22 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Anggota DPRD Jawa Timur Komisi A sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Batu, Saifudin Zuhri yang akrab disapa Fudin, melontarkan …

Diduga Sengaja Temperkan Diri KA di Pintasan KM 102 +00 Pria Bujanga Tewas di TKP

Diduga Sengaja Temperkan Diri KA di Pintasan KM 102 +00 Pria Bujanga Tewas di TKP

Rabu, 01 Apr 2026 17:49 WIB

Rabu, 01 Apr 2026 17:49 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Blitar- Semalam Selasa (32 Maret 2026) sekitar pukul 19.45 warga di sekitaran Kelurahan/Kec.Wlingi Kab.Blitar di kejutkan suara klakson…