Gaya Hidup Hangout dan Ngopi-ngopi di Kafe, Ternya

CANGKRUKAN DI KAFE

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ekonomi di Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Soekarwo tampaknya tengah menguat. Setidaknya ini bisa dilihat dari pola dan gaya hidup masyarakat di Jatim yang hobi belanja. Budaya hangout atau ngopi-ngopi, misalnya. Gaya hidup ini membuat kafe-kafe yang tersebar di penjuru kota Surabaya tak pernah sepi. Terlebih lagi pada generasi muda jaman now yang tidak bisa lepas dari gadget. Padahal, biaya yang dihabiskan untuk itu bisa dibilang tidak murah. Di sisi lain, kondisi tersebut menciptakan peluang usaha. Tak heran jika akhir-akhir ini kafe dan restoran di kota pahlawan menjadi booming. Tidak hanya di mall, tapi kafe-kafe pinggir jalan yang menyediakan fasilitas Wifi tak terhitung banyaknya. ---------------- Laporan : Ibnu F Wibowo – Firman Rachman, Editor: Ali Mahfud ---------------- Pengamatan Surabaya Pagi di Surabaya Town Square (Sutos), Jumat (8/12) misalnya. Di salah satu pusat hangout anak muda di Kota Pahlawan tersebut, tidak ada satupun kafe yang sepi. Mulai dari kedai kopi waralaba internasional, hingga kafe-kafe lokal, semua tidak ada yang sepi pengunjung. Rata-rata para pengunjung yang ada di lokasi tersebut berada pada rentang usia 20-35 tahun. Latar belakang mereka yang datang pun bisa dibilang beragam, hal tersebut bisa dilihat dari dandanan mereka. Ada yang berdandan necis bak eksekutif muda. Ada pula yang ala kadarnya seperti mahasiswa yang baru pulang kuliah. Berapa sesungguhnya biaya yang dihabiskan generasi muda tersebut untuk hangout di setiap bulannya? Surabaya Pagi mencoba mencari tahu dengan mewawancarai beberapa pengunjung yang ada di Sutos. Shly, pegawai salah satu perusahaan swasta di Surabaya, mengaku bahwa dirinya mengalokasikan dana sebesar 15 persen dari pendapatan yang ia terima setiap bulannya. Baru sisanya, menurut Shly digunakan untuk membayar cicilan dan biaya hidup lainnya. "Itu belum termasuk pengeluaran untuk beli buku dan beli mainan. Kalau itu termasuk, bisa lebih lagi. Kadang mendadak pingin beli lego. Itu lumayan mahal," ucap Shly ditemui di salah satu kedai kopi di Sutos. Apakah tidak merasa sayang dengan besaran yang dikeluarkan untuk hangout? Shly dengan lugas menjawab tidak. "Hangout itu kebutuhan. Kalau dibilang menghilangkan stres, ya nggak juga. Hanya untuk sejenak melupakan beban hidup. Toh sambil nongkrong bisa juga sambil kerja," cetus perempuan berkulit bersih ini. Lain Shly, lain pula Indi. Mahasiswa yang juga penyiar radio ini mengaku tidak pernah menganggarkan secara khusus berapa budget yang ia keluarkan untuk hangout. Namun ia sependapat dengan Shly, jika hangout sudah menjadi kebutuhan. "Kita sudah capek kerja sama kuliah seharian ya. Jadi ya nggak ada salahnya kalau kita memberi penghargaan pada diri kita dengan hangout. Ketemu teman-teman juga menghilangkan stres," tutur Indi yang kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Surabaya. Ketika diminta membuat perhitungan sementara, Indi memperkirakan bahwa budget yang ia keluarkan untuk hangout di tiap bulannya sedikit fantastis. "Ya sekitar Rp 1 juta sampai 1,5 juta lah ya," ucap dia. Kafe Pinggir Jalan Tak hanya di mall, kafe-kafe di pinggir jalan pun menjadi jujugan. Seperti terlihat di kafe jalan Taman Apsari Surabaya, semalam. Kafe yang beroperasional pada pukul 10 pagi hingga 2 dini hari ini kerap ramai dikunjungi konsumen pada sore hingga malam hari. Letak cafe yang ada di jantung kota Surabaya membuat kafe ini jadi tujuan hangout. Apalagi lokasinya dekat mall dan hotel. Vera, salah seorang pengunjung mengaku datang bersama sang kakak untuk melepas penat dan sekedar bermain game online sambil menikmati menu yang disediakan di kafe tersebut. "Selain di sini, kadang juga ngemall. Kalau di sini enaknya gak terlalu ramai, jadi bisa nyaman gitu," ujar perempuan berkerudung ini. Lain Vera, lain lagi Kharisma. Ia sengaja datang bersama pasangannya. Risma, sapaan perempuan 23 tahun itu mengaku memilih kafe ini lantaran suasananya yang vintage dan tak perlu ribet berjalan jauh seperti di mall. "Iya emang biasa nongkrong di kafe sih, biasanya di outdoornya, tapi gerimis jadi pindah ke indoor. Biasa emang habisin waktu di kafe-kafe," kata Risma. Tak Terpengaruh Harga Di sisi lain, Prima yang merupakan waiters di salah satu kedai kopi yang ada di Sutos juga mengamini pernyataan Shly dan Indi tersebut. Prima mengatakan bahwa kedai kopi tempat ia bekerja tidak pernah sepi dari pengunjung. "Mau tanggal muda atau tanggal tua, mau hari kerja atau hari libur, itu nggak pernah sepi. Ada beberapa yang dateng juga orang yang itu-itu saja sama teman-temannya. Nampaknya menurut mereka, ngopi sambil ngobrol sama teman itu jadi hiburan. Soalnya kalau sudah ngobrol, bisa sampai ketawa lepas itu orang-orang. Kaya beban mereka semua terlepas," cerita Prima. Sementara itu, Karlinda Agustina, public relation Coffe Toffe mengatakan jika antusiasme budaya hangout kaum muda terbilang cukup bagus. Itu terlihat dari rata-rata kunjungan di cafe yang ia kelola tak pernah surut, kecuali saat hujan. "Iya sih, sejauh ini cukup bagus kondisinya, kebanyakan usia 18-30 tahun, dan itu gak pernah sepi kecuali kalau sedang hujan ya," ujar Karlinda saat dihubungi via whatsappnya. Rata-rata pengunjung mampu mencapai dua ratus orang lebih dalam seharinya. "Itu kami hitung per transaksi, bisa sampai 100-150 transaksi, satu transaksi bisa 2-5 orang mas," imbuhnya.
Tag :

Berita Terbaru

Takmir Masjid di Bayubang Lamongan Ajukan Pemindahan Gardu Trafo, PLN Patok Rp 80 Juta Menjadi Viral

Takmir Masjid di Bayubang Lamongan Ajukan Pemindahan Gardu Trafo, PLN Patok Rp 80 Juta Menjadi Viral

Kamis, 02 Apr 2026 20:15 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 20:15 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Takmir Masjid At-Taqwa di Desa Bayubang Kecamatan Solokuro Lamongan Jawa Timur, dibuat murka oleh pelayanan PLN, lantaran…

Dampak Efesiensi, Pemkab Lamongan Pangkas Perjalanan Dinas Sampai 50 Persen

Dampak Efesiensi, Pemkab Lamongan Pangkas Perjalanan Dinas Sampai 50 Persen

Kamis, 02 Apr 2026 20:08 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 20:08 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Sebagai langkah kongkrit dalam komitmen menjalankan instruksi Pemerintah Pusat untuk efesiensi energi, Pemkab Lamongan telah…

Tekankan Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan Infrastruktur, KSPI PT PLN Kunjungi GITET Surabaya Selatan

Tekankan Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan Infrastruktur, KSPI PT PLN Kunjungi GITET Surabaya Selatan

Kamis, 02 Apr 2026 18:47 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 18:47 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – PT PLN (Persero) terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang bersih dan t…

Permudah Pengajuan Klaim, BPjS Ketenagakerjaan Hadirkan Fitur Layanan 'Lapak Asik'

Permudah Pengajuan Klaim, BPjS Ketenagakerjaan Hadirkan Fitur Layanan 'Lapak Asik'

Kamis, 02 Apr 2026 17:15 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 17:15 WIB

SURABAYA PAGI, Malang - BPJS Ketenagakerjaan menghadirkan fitur antrean online pada Layanan Tanpa Kontak Fisik atau Lapak Asik mulai 1 April 2026 guna …

Reklamasi Diduga Tanpa Kepastian Izin di Pesisir Gresik, Nelayan Kehilangan Ruang Hidup

Reklamasi Diduga Tanpa Kepastian Izin di Pesisir Gresik, Nelayan Kehilangan Ruang Hidup

Kamis, 02 Apr 2026 15:37 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 15:37 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik — Dugaan pencaplokan wilayah laut kembali mencuat di pesisir Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Kawasan yang b…

Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Ponpes Al Ibrohimi Gresik Digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya

Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Ponpes Al Ibrohimi Gresik Digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya

Kamis, 02 Apr 2026 15:34 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 15:34 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik — Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya mulai menyidangkan perkara dugaan korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa T…