“Majma’al Bahrain”

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
PALESTINA. Sebuah torehan luka dan lelehan air mata tanpa jeda akibat ulah “kerumunan gerombolan” yang apabila meminjam kata-kata Bernard Shaw merasa “menjadi manusia adimanusia”, dalam karya cerdasnya Man and Superman: A Comedy and A Philosophy (1903). Hanya saja, apa yang dilakonkan Israel di Tanah Palestina bukanlah dongeng dan kisah para komedian yang lucu untuk dipersaksikan. Tragedi kemanusiaan yang tergelar di Gaza, Sabtu 9 Desember 2017 kemarin itu, pada saat dunia protes keras atas ulah pengibukotaan Jerusalem bagi Israel, merupakan wujud kepongahan yang tidak terperikan. Tentara Israel membombardir warga Gaza dan darah tumpah membasahi jalanan. Intifadah diserukan dan jihad akan semakin berkobar. Perang dipicu oleh kesombongan bangsa yang merasa sok jagoan. Kini puluhan orang terluka dan kematian adalah “tradisi yang terus dipersembahkan” oleh Israel dengan korban tunggal orang-orang Palestina. Dalam konteks hari HAM sedunia, 10 Desember 2017 ini, apa yang bisa dilakukan oleh pegiat-pegiat HAM bagi warga Palestina. Kutukan apa yang dilontarkan pejuang HAM terhadap “pendiri Israel” dan “pembunuhan massal” rakyat Palestina. Fakta atas “realisasi janji” agar Jerusalem menjadi Ibukota Israel oleh USA, menjadikan negara ini bukanlah negara yang sahih untuk rujukan membincang HAM. Negara ini “gugur dan nirleka” yang tidak patut lagi merasa menjadi lokomotif demokrasi guna menyuarakan HAM. Presiden AS telah menabuh genderang bumi hangus warga Palestina dengan manifes paling terang: merestui pembunuhan terencana. Situasinya semakin rumit dan menegangkan dalam imajinasi yang tidak ingin ditinggalkan seperti kisah yang dapat kita nikmati dalam novel “heboh” sejak 2015 besutan Amie Kaufman & Jay Kristoff, topiknya Illuminae: The Illuminae Files-01. Novel yang mengangkat cerita di tahun 2575 mengenai relasi dinamik Kady dan Ezra dalam kelindan persahabatan maupun permusuhan yang “boleh jadi dipersatukan” karena kepentingan yang sama: mengatasi penembakan dari udara dalam penyerangan dahsyat terhadap planet tempat tinggalnya. Kisah-kisah peperangan boleh jadi sangat miris untuk dirilis tetapi apa yang terjadi di Palestina bukanlah novel melainkan paparan tentang realitas kehidupan yang tanpa daulat. Mengikuti alur cerita yang terekam secara dokumenter dari ulasan Ribhi Halloum alias Abu Firas, Palestine (1988) yang saya dapatkan dari Kedutaan Besar Palestina sejak saya mahasiswa (1990) itu, tanpa terasa air mata membasah muka. Penyerobotan tanah Palestina begitu brutal dilakukan Israel. Sebelum 1947, Palestina “nyaris sempurna” dalam koridor bernegara sampai hadirnya “pion nakal” Israel. Negara yang “dirancang bangun” oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis untuk “merampas tanah Palestina” di tahun 1947 dan ternyata terus bergerak merangsek tanpa sisa pada tahun 1982. Sejak 1982 itulah Palestina “dihilangkan tanah airnya”. Seperti orang yang terusir dari rumahnya sendiri untuk kemudian menjadi “anak kos-kosan”. Lantas kepada Israel yang demikian itu masihkah layak menyematkan diri dalam bangsa-bangsa beradab pada singgasana organisasi internasional seperti PBB. Bangsa beradab? Benarkah Israel itu beradab dan sekutu-sekutu yang mendirikannya itu termasuk “manusia adimanusia?” Ataukah itu sesungguhnya ornamen “vampir” yang menyerupai “serigala berbulu domba”. Catatan-catan kecil kejahatan pada saatnya akan selalu menggumpal dan akhirnya terungkap vulgar seperti dalam cerita pendek Gue De Maupassant yang renyah tetapi mengiris hati, judulnya Catatan Harian Orang Gila yang dapat dibaca pada buku The Works of Guy de Maupassant, 1909. Israel sesungguhnya sedang memamerkan kedunguannya pada tataran yang sangat menggelisahkan umat manusia. Dalam konteks dan konten demikian rasanya sulit membedakan antara kecerdasan dan keculasan Yahudi-Israeliyah. Tampaknya kesombongan Israel telah melupakan peran penting yang mestinya diemban oleh “bangsa yang selama ini dianggap pilihan” dengan komunitas agamawi orang-orang Yahudi. Mereka pada tataran yang paling Illahiyah sejatinya dapat memainkan fungsi fundamental sebagai penjaga ”ekosistem Tuhan”. Israel mestinya menghargai keberadaan bangsa Palestina yang lebih dahulu berentitas yuridis dengan yurisdiksi ekologisnya sebagai sesama penghuni ”tanah yang diperjanjikan”, ekosistem teologis Jerusalem. Telah diungkapkan oleh Discovery Channel: Hanya segelintir kota yang telah menjadi tuan rumah bagi banyak agama dan aliran politik seperti Jerusalem. Bagi orang Yahudi, kota ini adalah ibukota tanah air mereka dan lokasi Tembok Barat. Bagi umat Kristiani, the Garden of Gesthsemane and Golgotha are here. Dan bagi Muslim, it’s a city inextricably tied to the rise of Islam with such holy sites as the Dome of the Rock. Bahkan dalam buku Jerusalem: The Biography karya Simon Sebag Montefiore (2011), kita semua dapat membaca: Jerusalem adalah kota universal, ibu kota dua bangsa, dan tempat suci tiga agama. Kota warisan berbagai kekaisaran yang saat ini menjadi medan perang bagi bentrokan peradaban yang dipercaya bakal jadi tempat penghancuran terakhir dunia di Hari Kiamat. Beragam tokoh secara historis terekam di Jerusalem dalam segala karakter yang sangat epik di dunia: mulai dari Sulaiman al-Qanuni dan Salahuddin al-Ayyubi hingga Cleopatra, Caligula, dan Churchill; dari Ibrahim sampai Yesus dan Muhammad SAW; dari Izebel, Nebukadnezar, Herod, dan Nero di zaman kuno-makuno hingga Kaiser, Disraeli, Mark Twain, Rasputin, dan Lawrence dari Arabia di masa modern. Raja Daud hingga Barack Obama dan (kini presiden “jambul” Trump), dari kelahiran Yudaisme, Kristen, dan Islam sampai konflik Palestina-Israel, dongeng yang sangatlah panjang. Dalam tersebut memang terekam selaksa epos 3.000 tahun ikhwal hakikat kesucian, keimanan, mistisisme, fanatisme, identitas, nasionalisme, kekaisaran, dan koeksistensi dalam sebuah cerita yang selalu mencengangkan. Ya tentu mencengangkan dalam ukuran “kok bisa ada sebuah bangsa yang berperadaban penuh intrik dan khianat serta kejam” sampai abad ke-21 ini. Dalam lingkup demikian, pikiran dapat melayang ke arah zaman di mana Nabi Musa As hidup di abad ke-13 SM. Nabi Ibrani ini yang diperkenalkan Islam termasuk ulul azmi diurutan ketiga setelah Muhammad SAW dan Ibrahim AS serta disebut menyandang gelar kalimullah (semacam juru bicara Tuhan). Kitab Taurat adalah “tinggalannya” dan sikapnya terkadang “merasa super”, sehingga Allah SWT menegurnya dengan mendatangkan insan cerdas nan santun bernama Nabi Khidir As, sehingga Musa AS menyadari bahwa di dunia ini senantiasa “di atas langit ada langit”. Terdapat ungkapan dari Rasulullah Muhammad SAW yang dikisahkan dalam Umar Sulaiman Al-Asyqar (2017): Ubai bin Ka’ab bercerita kepadaku, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: suatu ketika, Musa berkhotbah di hadapan Bani Israel, lalu ia ditanya: siapa manusia yang paling berilmu? “aku”, jawab Musa. Kemudian Allah SWT menegur Musa karena tidak mengembalikan persoalan ilmu kepada Allah SWT. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya: sungguh, Aku memiliki seorang hamba di tempat pertemuan antara dua lautan, dan dia lebih berilmu darimu. Musa bertanya, Ya Rabb, bagaimana aku bisa menemuinya? Allah SWT menjawab: saat kau kehilangan ikan itu, disitulah dia berada. Musa kemudian mengambil seekor ikan lalu ia letakkan di dalam keranjang. Selanjutnya Musa As pergi dengan ditemani sahabatnya, Yusya’ bin Nun. Saat menghampiri sebongkah batu besar, keduanya merebahkan diri dan tidur. Ikan yang ada dalam keranjang kemudian bergerak-gerak hingga keluar dari keranjang lalu jatuh ke laut. “... Ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu ...” (QS. Al-Kahfi: 61). Allah menahan ikan tersebut untuk berenang jauh (agar Musa As memahaminya). Kisah eksodus dalam penempuhan perjalanan selama 40 tahun yang penuh penderitaan menjadikannya sangat menarik dipelajari. Ketangguhan dan beban psikologisnya ditulis sangat runtut oleh Umar Sulaiman Al-Asyqar di kitab Shahihul Qashash an-Nabawy (2017). Pengkhianatan umatnya pun acapkali terang dan ketegangan selalu mewarnai eksodusnya dari Mesir menuju “tanah harapan” dalam kejaran pasukan Ramses II alias Firaun yang wafat 1237 SM, sebagaimana diulas dalam The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History (Revised Edition) karya hebat Michael H. Hart (1992). Al-quran sangat gamblang mengisahkan perjalanan Nabi Musa AS beserta umatnya yang sangat “keras kepala”. Penipuan dan pemurtadan Samiri dengan membuat Patung Sapi sebagai sesembahan maupun dialog-dialog mengenai “kriteria sapi” dapat memberikan potret kepada kita tentang “kualitas kelicikan dan kenakalan” umat Musa As. Keculasan teologis sewaktu Musa As harus naik ke gurun Sinai, sementara Samiri tinggal di lembah perkumpulan “transit” perjalanan, ternyata mampu melakukan “pendustaan” ajaran Nabinya sendiri, adalah renungan serius betapa “makhluk” yang Musa As mendapatkan mendapat untuk mengajarinya bertauhid adalah sangat “licin”. Kreativitas dan logika inovasinya memang luar biasa sebab dalam rujukan kitab-kitab suci terinformasikan gizi makanannya yang berkelas surga. Saya cukup menafsir bahwa umat yang memiliki kesombongan itu tampaknya berasal dari “jiwa-jiwa jamaah Samiri” yang menyusup menjadi “umatnya Nabi Musa AS”. Tentu saja “DNA Samiri” tetap mengalir sampai generasi now. Untuk itulah kisah di Palestina merupakan pertempuran abadi yang akan menjadi persaksian kapasitas Iman Illahiyah pengikut Musa As ataukah “imam Samiriyah”. Adakah kita sedang meretas jalan untuk menemukan majma’al bahrain, yaitu tempat bertemunya dua lautan yang dapat saya kesankan “bertemunya dua peradaban” yang menghidupkan, bukan yang justru “menumpahkan darah”. Dalam titik simpul ini mestinya umat Musa As menjadi “medan magnet” yang memberi hayat bukan yang membantai. Sepertinya Bani Israel yang sedang menguasai Negara Israel dan melakukan pendudukan Palestina itu tampaknya “ber-DNA” Samiri, bukan pengamal ajaran Musa AS.
Tag :

Berita Terbaru

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Upaya serius mengatasi persoalan sampah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Gresik. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui p…

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global melalui…

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Sejarah Perang Dunia II, Indonesia Tidak Terlibat Langsung Perang tapi Tetap Terdampak   SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang …

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Sidang Praperadilannya Dikawal Puluhan Banser. KPK tak Hadir, Ditunda 3 Maret      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gu…

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Jaksa Penuntut Umum (JPU) heran dengan harga jual laptop Chromebook dari PT Hewlett-Packard Indonesia (HP) lebih murah daripada…

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Mitigasi potensi risiko korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, mulai dibahas Tim…