Petugas Medis Rawan Depresi Atasi Corona

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
“Jangan Lupakan Kesehatan Mental Petugas Medis Di Garis Depan Wabah Corona” SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pemerintah terkesan abai dengan ancaman psikologi petugas medis dalam menangani pasien COVID-19. Awal Maret lalu Achmad Yurianto, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) sempat menganggap sepele kondisi mental petugas medis garis depan. Ketika ditanya oleh wartawan terkait ancaman kesehatan mental petugas garis depan pemerintah belum terlalu fokus ke isu tersebut. “Kami melihat ini dalam batas kewajaran, paling kagetnya sebentar,” kata Yuri Pemerintah lewat Yurianto mengganggap gangguan psikologis yang mungkin terjadi pada petugas medis hanya terjadi sebentar saja. Menurutnya ancaman ini adalah konsekuensi dari profesi yang mereka hadapi dalam menangani pasien di tengah kondisi darurat. “Ini kan tidak dibentuk sehari, di dalam proses pendidikan mereka terlatih untuk kemudian mentalnya disiapkan bahwa Namanya petugas kesehatan akan ketemu orang sakit, bukan ketemu artis,” ungkapnya. “Ini lah yang kemudian harus kita ingatkan kembali, tetapi kami lihat akhir-akhir ini, agak terbawa pada emosional massa,” tergasnya. Ya, mungkin anggapan Pak Yuri yang sudah pengalaman sebagai dokter militer dengan pendidikan yang tegas bisa benar. Tapi kita lihat fakta lain yang terjadi pada petugas medis di lapangan seperti apa. Beban Mental Petugas Garis Depan Situasi genting yang mengganggu mental para perawat dialami oleh dr. Inge Putri, seorang dokter Indonesia yang bekerja di Melbourne Royal Women Hospital, Australia. Ia bercerita wabah COVID-19 di sana akibatkan lonjakan pasien di rumah sakit. Pasien datang untuk memeriksa kondisi badan karena takut terinfeksi virus corona. Keadaan ini membuat mental dr Inge terganggu, ia mengaku merasa‘overwhelmed’menghadapi situasi tak menentu ini. “Bagi saya, kerja tiap hari tanpa COVID-19 saja sudah stress.” Beban moral ini ditambah dengan ancaman virus yang bisa mengancam siapa saja, termasuk anaknya di rumah. Selain beban pikiran karena takut menjadicarriersaat bertemu pasien, dr Inge juga khawatir terhadap kondisi kesehatan anaknya. Selalu ada kemungkinan anaknya bisa tertular COVID-19 dari dirinya maupun orang lain. Residen psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, mengaku telah menerima keluhan dari beberapa dokter yang alamiemotional hijackingkarena kerepotan menangani pasien virus corona. “Beberapa mengalamiemotional hijackinghingga mengalami gangguan fokus kerja, sulit tidur dan sebagainya,”kata Frida Ayu, salah satu dokter yang mengadvokasi mental petugas medis. Kekhawatiran para dokter garis depan wabah COVID-19 ini, terjadi karena beban kerjaan yang semakin sibuk. Belum lagi kekhawatiran semakin menambah kalau dirinya sebagai dokter sangat mungkin tertular corona dan menjadicarrierbagi orang rumahnya. “Bahkan ada anak mereka yang enggan ketemu orang tuanya (petugas medis) di rumah. Ketika ibunya datang, anak-anak ketakutan, itu sedih sekali bagifrontliner.Ada juga yang baru nikah beberapa bulan harus tinggal terpisah dulu, tidak bertemu,” ungkap Frida. Guna menjaga kestabilan mental para petugas medis garda depan, Frida dan kawan-kawan seprofesi membentuksupport groupuntuk advokasi para petugas. Mereka membentuk grupWhatsAppyang terdiri dari 12 dokter dan 48 dokter yang menangani langsung pasien COVID-19 untuk mencurahkan masalah psikologisnya.(Reza Rizaldy/dsy)
Tag :

Berita Terbaru

1 Abad Gontor, 10.000 Alumni Bersiap Pulang ke Ponorogo, Prabowo hingga SBY Dijadwalkan Hadir

1 Abad Gontor, 10.000 Alumni Bersiap Pulang ke Ponorogo, Prabowo hingga SBY Dijadwalkan Hadir

Senin, 14 Sep 2026 19:21 WIB

Senin, 14 Sep 2026 19:21 WIB

SURABAYAPAGI com, Ponorogo — Lebih dari 10.000 alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) bersiap kembali ke Ponorogo, Jawa Timur, untuk mengikuti Reuni A…

Gus Qowim Ajak Guru di Kota Kediri Mendidik dengan Hati, Menuntun dengan Akhlak

Gus Qowim Ajak Guru di Kota Kediri Mendidik dengan Hati, Menuntun dengan Akhlak

Senin, 14 Sep 2026 17:19 WIB

Senin, 14 Sep 2026 17:19 WIB

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diberikan kepada anak, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut ditanamkan…

Jurnalis Mojokerto Gelar Doa Bersama untuk 5 Wartawan Hilang Saat Liput Anak Krakatau

Jurnalis Mojokerto Gelar Doa Bersama untuk 5 Wartawan Hilang Saat Liput Anak Krakatau

Senin, 14 Sep 2026 16:46 WIB

Senin, 14 Sep 2026 16:46 WIB

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto – Keprihatinan mendalam atas belum ditemukannya lima wartawan dan tiga kru ekspedisi Anak Krakatau menggugah solidaritas insan pers …

Lawan Persiba di Surajaya, Kans Persela Amankan 3 Poin Cukup Terbuka

Lawan Persiba di Surajaya, Kans Persela Amankan 3 Poin Cukup Terbuka

Senin, 14 Sep 2026 16:45 WIB

Senin, 14 Sep 2026 16:45 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Skuad Persela Lamongan terus mematangkan persiapan, dan menjaga asa dalam lanjutan laga Penggadaian Championship 2026/2027, saat…

Unit Reskrim Polsek Kepanjenkidul Polres Blitar Berhasil Bekuk pelaku Curanmor

Unit Reskrim Polsek Kepanjenkidul Polres Blitar Berhasil Bekuk pelaku Curanmor

Senin, 14 Sep 2026 15:25 WIB

Senin, 14 Sep 2026 15:25 WIB

SURABAYAPAGI com, Blitar - Polsek Kepanjenkidul Wilayah Hukum Polres Blitar Kota, berhasil ungkap dan tangkap pelaku pencurian motor jenis Honda ADV warna…

Lamongan Night Carnival Tanpa Sound Horeg,  Mampu Menghibur  Masyarakat

Lamongan Night Carnival Tanpa Sound Horeg,  Mampu Menghibur  Masyarakat

Senin, 14 Sep 2026 15:23 WIB

Senin, 14 Sep 2026 15:23 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Lamongan Night Carnival (LNC) tahun kedua tanpa sound horeg kembali menyedot animo masyarakat. Bahkan ribuan warga merasa terhibur…