SurabayaPagi, Surabaya – Pagi itu, suasana di Jalan Sumber Mulyo IV, Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya, terasa berbeda.
Di antara deretan rumah warga, kain-kain batik tergantung rapi, sementara di sudut lain terdengar riuh tawa anak-anak yang asyik memainkan permainan tradisional.
Di tempat inilah Kampung Ceria dan Batik TIN Gundih tumbuh bukan sekadar kampung penghasil batik, tetapi juga ruang belajar, ruang bermain, sekaligus ruang merawat budaya.
Anggota DPR RI Komisi VII, Bambang Haryo Soekartono (BHS), yang mengunjungi kampung tersebut pada Rabu (29/7/2026), tampak menyusuri lorong-lorong kampung sambil mengamati aktivitas warga.
Ia melihat langsung bagaimana proses membatik berlangsung, sekaligus bagaimana anak-anak setempat berinteraksi tanpa bergantung pada gawai.
“Kampung ini sangat produktif. Tidak hanya menghasilkan batik, tetapi juga menjadi tempat edukasi yang sudah dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” ujar BHS.
Namun yang menarik perhatian bukan hanya batiknya. Di tengah arus digital yang semakin kuat, Kampung Ceria Gundih justru menghadirkan pendekatan berbeda anak-anak diajak kembali pada permainan tradisional.
Dakon, hulahoop, hingga egrang menjadi bagian dari keseharian mereka. Bukan sekadar permainan, tetapi cara sederhana untuk membangun kebersamaan, melatih fisik, sekaligus menanamkan nilai disiplin.
BHS menilai pendekatan tersebut sebagai langkah kecil dengan dampak besar.
“Ini sangat positif. Anak-anak bisa bermain sambil berolahraga, dan secara perlahan mengurangi ketergantungan pada gadget. Ini kebiasaan yang sehat,” katanya.
Menurutnya, konsep seperti ini perlu diperluas. Kampung tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang pembentukan karakter generasi muda.
Ia pun mendorong agar lebih banyak kampung di Surabaya mengadopsi pendekatan serupa. Dengan memanfaatkan potensi lokal baik budaya, permainan tradisional, maupun kreativitas warga kampung dapat menjadi pusat pembelajaran yang hidup.
“Kita ingin generasi muda tidak hanya tumbuh cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat secara karakter. Permainan tradisional bisa membangun disiplin dan semangat juara,” tambahnya.
Di sisi lain, keberadaan Kampung Batik Ceria Gundih juga tidak lepas dari peran pemerintah daerah.
Mulai dari tingkat kota hingga kelurahan, pembinaan yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci berkembangnya kampung ini.
Lurah Gundih, Christiono, menyebut kunjungan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga.
“Ini kebanggaan bagi warga RW 4 Kelurahan Gundih. Kehadiran DPR RI menunjukkan bahwa kampung ini mendapat perhatian,” ujarnya.
Di tengah tantangan zaman, Kampung Ceria Gundih seperti menawarkan jeda sebuah ruang di mana budaya tetap hidup, anak-anak tetap bermain, dan masyarakat tetap berkarya.
Dari batik yang ditorehkan dengan telaten hingga tawa anak-anak yang berlarian di gang sempit, kampung ini membuktikan bahwa masa depan tidak selalu harus meninggalkan masa lalu. Justru, dari sanalah akar kekuatan itu tumbuh.
Editor : Redaksi