Kedelai Impor Lebih Pas untuk Tempe, Ini Alasanya!

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Devon Sumargiono menunjukkan tempe hasil produksinya.
Devon Sumargiono menunjukkan tempe hasil produksinya.

i

SURABAYAPAGI, Surabaya - Salah satu pengusaha tempe asal Surabaya,  Devon Sumargiono yang sudah memproduksi tempe dari tahun 1979, juga mengeluhkan kenaikan harga kedelai import yang menyusahkan para pengusaha tempe se indonesia. Menurutnya ia memilih kedelai import karena ukurannya yang besar dibandingkan dengan kedelai lokal yang ukurannya relatif kecil. Kedelai lokal hanya bisa dibuat kecap dan tidak bisa untuk memproduksi tempe.

Guna mensiasati produksi tempe seiring dengan naiknya harga kedelai di pasaran, ia tetap memproduksi tempe namun dengan mengurangi ukuran tempe produksinya agar tidak merugi. Tempe yang awalnya hanya seharga Rp 7.800 per kilogramnya dan selama ini paling mahal Rp 8.500, kini naik drastis menjadi Rp 9.200. Hal ini sungguh menyulitkan para pengusaha tempe.

Setelah selama 3 hari tidak memproduksi tempe karena ikut berpartisipasi untuk menghormati para pengusaha dan pedagang yang demo menolak kenaikan tempe beberapa hari lalu. Aksi mogok nasional ini diinisiasi oleh Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta.

"Saya tidak produksi tempe sudah hampir 3 hari karena sempat ada larangan dari pusat. Hal ini untuk aksi protes kenaikan harga kedelai yang meresahkan pengusaha tempe seperti saya ini," keluh Devon

Katanya selama beberapa hari tempe sempat tidak ada di beberapa pasar setempat, dikarenakan para pengusaha yang biasa menyuplai tempe melakukan aksi mogok produksi sebagai aksi protes kenaikan harga kedelai.

Bahkan menurut Sri Winarti, warga banyu urip lor, pihaknya sempat mendapati tempe yang biasanya seharga Rp 2.000 naik menjadi Rp 4.000 itupun tidak banyak stoknya dipasar.

"Di pasar biasanya harga tempe yang Rp 2.000 sekarang naik jadi Rp 4.000 karena kedelai mahal, itupun nggak semua penjual tempe yang biasa jual itu jualan," jelas Win menanggapi langkanya tempe beberapa hari ini.

Sebelum pandemi, Devon mengaku sehari-hari memproduksi 50 kg kedelai , namun pasca pandemi menurunkan produksi antara 25-30 kg per hari. Hal ini dikarenakan adanya pembatasan jam buka rumah makan karena sebagian besar pelanggannya adalah pengusaha rumah makan.

"Karena jam rumah makan juga tutupnya tidak sampai dengan malam, jadi produksi saya turunkan," tuturnya

Pasca pandemi kemarin Devon mengaku belum menerima sama sekali bantuan dana dari pemerintah. Diharapkan pihaknya agar bisa segera mendapatkan bantuan UMKM dari pemerintah agar bisa terus produksi dan mengembangkan usahanya.

"Saya belum dapat bantuan apapun dari pemerintah, bansos maupun UMKM belum dapat. Kemarin disarankan teman kalau tidak dapat bantuan bansos kemungkinan bisa dapat bantuan yang untuk UMKM. Saya sudah mengajukan bulan November kemarin, tapi belum ada informasi lagi mengenai pengajuan saya," pungkasnya. ria

Berita Terbaru

Ratusan Guru di Glagah Gelar Aksi Damai, Minta Oknum TNI Pelaku Penganiayaan Kepsek MI Diadili 

Ratusan Guru di Glagah Gelar Aksi Damai, Minta Oknum TNI Pelaku Penganiayaan Kepsek MI Diadili 

Rabu, 21 Okt 2026 20:32 WIB

Rabu, 21 Okt 2026 20:32 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan, - Ratusan guru dari berbagai lembaga pendidikan di Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menggelar aksi damai di…

Membanggakan, Moh. Gozi Hafifillah Raih Predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Ekonomi dan bisnis UNIJA Sumenep

Membanggakan, Moh. Gozi Hafifillah Raih Predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Ekonomi dan bisnis UNIJA Sumenep

Rabu, 21 Okt 2026 19:00 WIB

Rabu, 21 Okt 2026 19:00 WIB

SURABAYA PAGI, Sumenep – Kebahagiaan menyelimuti keluarga Moh. Gozi Hafifillah, putra daerah asal Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. …

Bank Jatim Dukung Misi Dagang dan Investasi di Banda Aceh, Bawa UMKM Binaan Tembus Pasar Antardaerah

Bank Jatim Dukung Misi Dagang dan Investasi di Banda Aceh, Bawa UMKM Binaan Tembus Pasar Antardaerah

Rabu, 21 Okt 2026 17:21 WIB

Rabu, 21 Okt 2026 17:21 WIB

SurabayaPagi, Banda Aceh - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui…

Terus Dikawal: Nasib Pelaku Bullying Anak Disabilitas Surabaya, Dibina 6 Bulan di Rumah Perubahan

Terus Dikawal: Nasib Pelaku Bullying Anak Disabilitas Surabaya, Dibina 6 Bulan di Rumah Perubahan

Rabu, 21 Okt 2026 14:59 WIB

Rabu, 21 Okt 2026 14:59 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pelaku anak dalam kasus perundungan (bullying) terhadap anak penyandang disabilitas hingga meninggal dunia di Surabaya, akan…

Jaga Estetika dan Tata Ruang, Pemkot Bongkar 116 Tiang dan 91 Kabel tak Berizin di Surabaya

Jaga Estetika dan Tata Ruang, Pemkot Bongkar 116 Tiang dan 91 Kabel tak Berizin di Surabaya

Rabu, 21 Okt 2026 14:47 WIB

Rabu, 21 Okt 2026 14:47 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sebagai upaya menjaga estetika, merapikan tata ruang, dan meningkatkan ketertiban pemanfaatan ruang kota, Pemerintah Kota (Pemkot)…

Wali Kota Eri Larang SD-SMP Negeri Surabaya Tarik Iuran Mulai November Mendatang

Wali Kota Eri Larang SD-SMP Negeri Surabaya Tarik Iuran Mulai November Mendatang

Rabu, 21 Okt 2026 14:39 WIB

Rabu, 21 Okt 2026 14:39 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Mulai November 2026, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melarang seluruh SD dan SMP negeri menarik iuran dalam bentuk apa pun mencakup…