Dua Minggu Kasus Brigadir J

Polri Masih Bingungkan Jenderal dan Masyarakat

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Komnas HAM selesai memeriksa Bharada E terkait kematian Brigadir Yoshua atau Brigadir J. Bharada E keluar dengan pengawalan dan langsung tinggalkan Komnas HAM.
Komnas HAM selesai memeriksa Bharada E terkait kematian Brigadir Yoshua atau Brigadir J. Bharada E keluar dengan pengawalan dan langsung tinggalkan Komnas HAM.

i

Samuel Hutabarat, Ayah Brigadir J, Rabu ini Ngotot Bisa Ikut Melihat Proses Autopsi Ulang dan Penggalian Mayat

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Publik menilai banyak kejanggalan dalam kasus Brigadir J atau Joshua, dipercaya Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik dan mantan Kadiv Humas Polri, Irjen (Purn) Aryanto Sutadi . Itu lantaran keterangan kepolisian selama ini yang memang dinilai cukup tak masuk akal. Terutama sejak awak kasus ini mencuat. Akhirnya, publik tak percaya semua omongan yang dikeluarkan Polri terkait kasus Brigadir Joshua.

Hal itu diamini Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, dan mantan Kadiv Humas Polri, Irjen (Purn) Aryanto Sutadi, Selasa (26/7/2022).

Mantan Kadiv Humas Polri, Irjen (Purn) Aryanto Sutadi mengaku bingung dengan perkembangan kasus tewasnya Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Meski sudah lebih dari dua minggu, tetapi polisi masih belum kunjung menetapkan tersangka yang membunuh Brigadir J.

Dengan begitu, Aryanto mengatakan bahwa saat ini polisi sudah berhasil membuat masyarakat dan juga dirinya sendiri kebingungan.

"Sekarang ini kondisinya, masyarakat bingung protes, polisi bingung, purnawirawan pun bingung. Kira-kira apa saran Mas Aryanto untuk kasus ini?," tanya Eks Kadensus 88 Irjen Pol. (Purn) Bekto Suprapto kepada Aryanto Sutadi, dikutip dari kanal YouTube Polisi Ooh Polisi pada Selasa, (26/7/2022).

Jadi gimana, polisi sudah berhasil membuat bingung masyarakat, tapi saya bener, saya juga bingung, yang mengikuti saja bingung apalagi masyarakat yang cuma ngikutin dari medsos, bingung lah," jawabnya.

Aryanto Sutadi memberi saran agar polisi bisa segera mengungkap kasus tewasnya Brigadir J seterang-terangnya tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Ia menganggap polisi tidak boleh sampai bertindak konyol dengan bekerja secara tidak transparan dalam kasus ini.

 

Komunikasi yang Buruk

Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik mengebut ada komunikasi yang buruk dari pejabat kepolisian. Ini yang jadi tantangan bagi timsus bentukan Kapolri untuk mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi dalam kasus itu.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa ini (polemik) dimulai dari komunikasi publik Polri yang kemudian menimbulkan spekulasi di masyarakat dan ujungnya ketidakpercayaan,” tegas Taufan.

Taufan menyatakan, soal kebenaran dari apa yang telah disampaikan pihak Polri termasuk keluarga Brigadir Joshua telah diterima dengan baik.

Institusi Polri telah menjelaskan, termasuk memberikan gambaran umum dari foto dan rekaman saat Brigadir Joshua diotopsi.

Demikian pula keterangan yang disampaikan keluarga Brigadir Joshua dan tim forensik. “Benar, Komnas HAM telah mendapatkan keterangan. Tapi ini belum final. Kami akan minta satu lagi pendapat ahli yang cukup senior,” jelas dia.

Penjelasan dari para dokter khususnya tim forensik tentu memiliki etika dan batasan sebagai anggota Polri.

“Sebagai dokter, misalnya, hanya sampai upaya memberikan data dan menjelaskan apa yang mereka teliti dan dapatkan. Selanjutnya Komnas HAM akan bandingkan dengan informasi dan data lain,” terang dia.

Selain itu, Komnas HAM juga telah menerima video dan foto serta berbagai bukti lain yang diberikan pihak keluarga.

“Maka kami, sekali lagi belum pada kesimpulan. Karena harus kami konfirmasikan kembali dengan ahli lain setelah dokter forensik kami mintai penjelasan,” jelas Taufan.

Soal dugaan penganiayaan yang dilaporkan pengacara keluarga Brigadir Joshua, ditanggapi dingin.

Terlebih terkait dengan kondisi luka dan akibat tembakan. Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah menemukan jejak dari peluru yang bersarang di tubuh korban, dalam hal ini Brigadir Joshua. “Karena dari itu, penyidik bisa menemukan jenis peluru yang digunakan, mereknya apa jenisnya apa,” terangnya.

Jika proyektil, peluru, maupun senjata sudah diketahui jenisnya, maka akan mudah melakukan pelacakan dan pengungkapan kebenaran peristiwa berdarah di rumah dinas Ferdy Sambo itu.

“Maka sementara ini kami belum mau simpulan mengenai apa sebetulnya yang terjadi, karena memang belum final,” tandasnya.

 

Tekad Ayah Brigadir J

Ayah Brigadir J, Samuel Hutabarat bertekad bisa melihat autopsi ulang jasad anaknya kepada dokter forensik. "Maunya kami nanti pas proses autopsi ada pihak keluarga yang melihat langsung. Itu juga yang menjadi harapan kami," ujarnya kepada wartawan di Jambi, Selasa (26/7/2022).

Bukan hanya bisa melihat proses autopsi, Samuel pun berharap agar keluarga besarnya terlibat saat penggalian makam anaknya itu. "Memang awalnya sudah disampaikan pada kami jika penggali makamnya itu sudah disiapkan. Tetapi, kami mengusulkan agar nanti ketika yang menggali ada pihak dari kita, yakni keluarga dan anggota persatuan batak kan, ini biar bisa dilakukan," ucapnya.

Sebagai ayah yang membesarkan Yoshua Hutabarat, Samuel berharap agar kasus kematian anaknya ini dapat terungkap secepatnya. Dia hanya menginginkan agar saat proses autopsi, dokter bekerja transparan karena sudah disumpah.

"Kita ingin autopsi dapat berjalan lancar, kami percayakan tim dokter yang akan lakukan autopsi ini, supaya transparan dan terbuka agar terjawab sudah yang sebenarnya," terang Samuel. n jk/jmb/erc/cr3/rmc

Berita Terbaru

Dari Desa, Imigrasi Perkuat Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Penyelundupan Manusia

Dari Desa, Imigrasi Perkuat Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Penyelundupan Manusia

Sabtu, 26 Sep 2026 14:30 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 14:30 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Jajaran Imigrasi se-Jawa Timur memperkuat pengawasan keimigrasian berbasis desa melalui program Desa Binaan Imigrasi (DBI) dan…

KAI Daop 7 Madiun Salurkan Bantuan TJSL Rp445 Juta untuk Fasilitasi Pendidikan, Lingkungan dan Sosial

KAI Daop 7 Madiun Salurkan Bantuan TJSL Rp445 Juta untuk Fasilitasi Pendidikan, Lingkungan dan Sosial

Sabtu, 26 Sep 2026 11:28 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 11:28 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 7 Madiun kembali menunjukkan komitmennya terhadap tanggung jawab sosial kepada masyarakat,…

Lewat Bantuan Beasiswa, Pemkab Dorong Anak Tetap Sekolah di Lumajang

Lewat Bantuan Beasiswa, Pemkab Dorong Anak Tetap Sekolah di Lumajang

Sabtu, 26 Sep 2026 08:35 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 08:35 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Melalui bantuan pendidikan berupa beasiswa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)…

ULTIMA II Hadir di Surabaya, Perkenalkan Inovasi Teknologi CollaSence™ melalui Beauty Exhibition 

ULTIMA II Hadir di Surabaya, Perkenalkan Inovasi Teknologi CollaSence™ melalui Beauty Exhibition 

Sabtu, 26 Sep 2026 08:23 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 08:23 WIB

SURABAYA PAGI, Surabaya – Memahami kebutuhan kulit menjadi salah satu langkah penting dalam menentukan ritual perawatan yang sesuai kebutuhan. Berangkat dari k…

Menteri Haji Ungkap Kendala Biaya Haji 2027, Tarif Penerbangan Saudia Airlines Masih Lebih Mahal 

Menteri Haji Ungkap Kendala Biaya Haji 2027, Tarif Penerbangan Saudia Airlines Masih Lebih Mahal 

Jumat, 25 Sep 2026 22:11 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 22:11 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengungkapkan pembahasan biaya penyelenggaraan ibadah haji 2027 masih berlangsung. S…

UNS Rebut Gelar Juara Beregu Campus League Badminton 2026 Usai Drama Tiga Set Lawan BINUS

UNS Rebut Gelar Juara Beregu Campus League Badminton 2026 Usai Drama Tiga Set Lawan BINUS

Jumat, 25 Sep 2026 21:11 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 21:11 WIB

SurabayaPagi, Bandung — Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta merebut gelar juara beregu Campus League Badminton 2026 - The Nationals setelah m…