Psikiater: Pelaku Bunuh Diri Umumnya Miliki Masalah Kompleks

author surabayapagi.com

- Pewarta

Kamis, 13 Okt 2022 19:42 WIB

Psikiater: Pelaku Bunuh Diri Umumnya Miliki Masalah Kompleks

SURABAYAPAGI, Surabaya - Psikiater Nova Riyanti Yusuf angkat bicara meninggalnya seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah bunuh diri akibat depresi. Nova mengatakan, beberapa masalah kompleks menyebabkan seseorang melakukan bunuh diri.

"Jadi, kalau berdasarkan buku penelitian bunuh diri, tidak ada yang namanya satu alasan (membuat) seseorang melakukan bunuh diri. Masalahnya kompleks dan setiap orang unik," ujarnya.

Baca Juga: Rembuk Stunting, Wujud Serius Tingkatkan Gizi Seimbang Anak di Desa Penatar Sewu

Ia menyebutkan bunuh diri dilakukan bisa dilakukan seseorang karena beberapa aspek. Di antaranya aspek psikogis seperti memiliki kepribadian apa, cara menghadapi masalah bagaimana.

Ia menambahkan, cara menghadapi masalah inilah yang menentukan keputusan hidup. Kemudian, ia menyebutkan aspek lainnya adalah biologis yaitu ada tidak riwayat gangguan jiwa di keluarga, apakah di keluarga ada yang bunuh diri.

Aspek sosial misalnya apakah ada masalah di kuliahnya, keluarganya seperti broken home karena perceraian orang tuanya, atau ada masaah dengan pacar atau bahkan urusan di sekolah atau kampus. Selain itu, pandemi juga bisa menjadi aspek seseorang bunuh diri.

"Minimal ada tiga aspek ini (membuat seseorang jadi bunuh diri)," katanya.

Sebenarnya, dia menambahkan orang yang akan bunuh diri sudah kelihatan memiliki masalah kejiwaan. Artinya memang mayoritas ada gangguan jiwa yang menyertai, baik terdiagnosis maupun belum.

Baca Juga: Prudential Indonesia dan Prudential Syariah Luncurkan PRUWell Medical dan PRUWell Medical Syariah

"Ini termasuk yang terjadi pada si anak ini, tetapi kita tak mengetahui karena belum melakukan pemeriksaan. Jadi, hanya berdasarkan penelitian," katanya.

Lebih lanjut Nova mengaku juga melakukan penelitian serupa di 2019 untuk kampus di Amerika Serikat. Nova mengaku membuat alat untuk deteksi dini faktor risiko untuk bunuh diri. Hasilnya memang ada hal yang signifikan.

"Instrumen bunuh diri ini memiliki empat dimensi yang signifikan," ujarnya.

Ia menyebutkan dimensi pertama adalah loneliness alias kesepian. Kemudian, kedua adalah hopeless alias putus asa, ketiga belongingness alias keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna, biasanya pada remaja. Dimensi keempat adalah perasaan menjadi beban bagi orang lain.

Baca Juga: Kurangi Risiko Anak, Pemdes Sawocangkring Gelar Musdes Rembug Stunting

Untuk mencegah kasus serupa terulang, ia meminta keluarga atau orang terdekat bisa mengenali ciri-ciri orang yang depresi yaitu keinginan bunuh diri hingga sikap yang berubah. "Jika sudah menunjukkan ini sebaiknya dibawa ke ahlinya di gawat darurat atau psikolog atau psikiater. Karena ibaratnya jika sakit kanker bisa berakhir pada kematian, keinginan bunuh diri juga bisa mengakhiri hidup," katanya.

Sebelumnya, Polsek Bulaksumur, Sleman memastikan kasus mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meninggal murni karena bunuh diri. Jasad korban sudah dibawa keluarganya ke Kendal, Jawa Tengah. untuk dimakamkan.

Dari hasil olah TKP, polisi mendapatkan surat terkait hasil pemeriksaan psikologi TSR dari Rumah Sakit JIH Sleman. Surat itu ada di dalam tas milik korban. hlt/bdr

Editor : Mariana Setiawati

BERITA TERBARU