SURABAYAPAGI, Surabaya - Pandangan saya terhadap tantangan politik di tahun 2023, menurut saya, saat ini rakyat merasa ada dalam kondisi politik yang serba tidak pasti yang dijalankan pemerintah dan elite politiknya.
Jadi politically unstable, partai politik ini ngapain saja? Mengapa nuansa kompetisi terasa seperti ini (tidak sehat). Pemilu serentak kemarin (2019) banyak petugas yang meninggal dunia.
Contohnnya sudah adanya sebuah parpol yang mendeklarasikan calon presiden (capres). Padahal, idealnya belum waktunya untuk mendeklarasikan seorang capres di tahun 2022 ini.
Public trust ini yang sekarang terkikis, nyaris habis kepada pemerintah, partai politik. Jadi apa maunya pemerintah dan partai politik? Di 2022 bahkan sudah ada yang deklarasi capres. Luar biasa.
Saya juga meminta kepada Presiden Jokowi untuk lebih menjaga stabilitas politik dalam negeri.
Hal itu dikarenakan Jokowi tidak lagi memiliki beban politik, karena telah menjadi presiden selama dua periode yang menurut konstitusi tidak dapat dipilih kembali.
Sementara itu, saya cermati posisi Indonesia sebagai negara hukum. Sedangkan, saat hukum harus ditegakkan, malah terasa tidak tegas (lunglai).
Makanya kita perlu orang (pemimpin) nantinya yang mengerti hukum.
(Lewat keterangannya dalam diskusi Kedai Kopi bertajuk 'Merangkum 2022, Menyambut 2023' di Jakarta, Minggu (18 Desember 2022).
Editor : Mariana Setiawati