SURABAYAPAGI, Surabaya - Politik bukanlah sebuah karier. Jika politik dianggap sebagai karier maka yang terjadi, orang enggan untuk melepaskan apabila sudah berada di puncak karier tersebut.
Yang menjadi problem itu kalau politik dianggap sebagai karier, karier itu dikejar begitu dapat engga dilepas-lepas, itu problem. Politik itu tidak boleh menjadi karier, artinya ketika dipanggil datang, bekerja, begitu selesai ya selesai.
Presiden ketiga RI, BJ Habibie, menurut saya menjadi presiden terbaik yang mempraktikkan etik. Habibie bisa saja ngotot mempertahankan jabatannya menjadi orang nomor satu di Indonesia dengan melobi partai-partai politik.
Tapi begitu dikatakan pertanggungjawabanmu tidak diterima MPR, beliau menyadari ya sudah. Beliau menyiapkan pemilu dengan baik, dalam waktu yang sangat singkat Pak Habibie mengembalikan bukan saja stabilitas ekonomi tapi juga politik, hukum, bahkan membebaskan tahanan politik dan pers.
Jadi saya ingin menyampaikan pesan kepada Presiden kita, akan lebih elok jika kita membantu beliau, mendoakan beliau, agar selesai dengan husnul khotimah, menyiapkan garis finishnya dengan baik.
Menurut saya, seorang pemimpin yang menawan adalah ketika dia berhasil menumbuhkan pemimpin berikutnya yang lebih baik.
Ketika dia mau melepaskan politiknya dan bukan menganggapnya sebagai karier dengan mengukur seberapa besar dia meninggalkan warisan kenegaraannya.
Tugas akhir Presiden adalah menyiapkan pemerintahan yang lebih baik dari saat sekarang. Jujur itu satu pemimpin yang paling indah.
(Lewat keterangannya dalam sebuah diskusi di Ngopi dari Sebrang Istanah dalam tema ‘Merangkum 2022 Menyambut 2023’)
Editor : Mariana Setiawati