SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman mengungkapkan ekspor industri makanan dan minuman (mamin) mengalami pertumbuhan di sepanjang tahun 2022.
Hal tersebut terlihat dari kinerja ekspor produk pangan olahan diluar sawit yang tercatat tumbuh 20% pada periode Januari - November 2022 jika dibandingkan dengan tahun 2021.
"Sampai November data yang kami terima mengalami peningkatan 20% untuk pangan olahan itu diluar sawit, kalau termasuk sawit tentunya lebih tinggi," kata Adhi dalam Market Review IDX Channel, Kamis (5/1/2023).
Adhi menerangkan, peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh adanya konflik Geopolitik, dimana pasokan mamin di beberapa negara mengalami hambatan, dan industri mamin Indonesia bisa masuk ke negara-negara yang terhambat rantai pasoknya.
"Ini karena memang banyak peluang dari negara tujuan ekspor di mana banyak negara yang sebetulnya memasok, tetapi ada beberapa negara yang mengalami gangguan, sehingga ini menjadi Peluang untuk memenuhi hal tersebut," jelasnya.
Peningkatan kinerja ekspor tersebut juga mendorong kontribusinya terhadap PDB industri non migas. Kontribusi Industri mamin terhadap PDB hingga kuartal III 2022 lalu mencapai Rp209,6 triliun.
"Disamping itu (tahun 2022) kita juga banyak mengembangkan pasar seperti di Timur Tengah, Afrika dan lain sebagainya, ini mendorong pertumbuhan industri semakin membaik," ujarnya.
Kendati demikian, menurut pertumbuhan industri mamin ini bukan tanpa tantangannya. Di satu sisi ada demand yang meningkat, namun ada masalah di bottom line mengalami gangguan.
"Tetapi memang kalau dari bottom line ini menjadi tantangan sendirian, ada biaya logistik, energi, bahan baku, semua terjadi kenaikan yang luar biasa, bahkan sering terjadi disruption dari sisi logistik karena masalah gangguan geopolitik," tutupnya. jk
Editor : Redaksi